Berita

Kunjungan Wakil Komisi IV DPR RI pada Acara Temu Lapang Pertanian Konservasi di Lombok Timur

Pin It

Food and Agriculture Organitation (FAO) telah melakukan kerjasama dengan Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian selama tiga tahun (2014-2017) tentang penerapan konsep pertanian konservasi di NTB dan NTT terutama dalam upaya perbaikan lahan pertanian, meningkatkan produktivitas tanaman jagung dan adaptasi petani dalam  menghadapi dampak perubahan iklim.

Untuk mensosialisasikan kegiatan pertanian konservasi tanaman jagung maka dilaksanakan acara temu lapang dengan tema “Pertanian Konservasi Mendukung Ketahanan Pangan di NTB” di Kelompok Tani Erot I Desa Pemokong Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur pada Selasa (4/4/2017). Acara Temu lapang dirangkai dengan panen jagung, peragaan  alat perebah  jagung dan alat penanaman jagung oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Gubernur NTB yang diwakili Asisten II Provinsi NTB, Kepala Badan Litbang Pertanian yang diwakili oleh Kepala Balai Besar Biogen Kementerian Pertanian serta Kepala FAO di Indonesia.

Turut hadir dalam acara temu lapang wakil ketua komisi IV DPR RI, Asisten II Provinsi NTB, Kepala BB Biogen Kementerian Pertanian, Direktur  FAO di Indonesia, Kepala BPTP Balitbangtan NTB, Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, Penyuluh pertanian Kecamatan Jerowaru, Kepala Desa Pemongkong, Babinsa, Petani Desa Pemongkong, anggot tim FAO, peneliti dan penyuluh BPTP  Balitbangtan NTB.

Kepala Perwakilan FAO di Indonesia Mark Smulders dalam sambutannya menjelaskan bahwa konsep pertanian konservasi merupakan metode untuk meningkatkan hasil produksi pertanian , menjaga kesuburan tanah, dan menjaga kelembaban tanah   untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Konsep ini dilaksanakan di daerah yang berklim kering  melalui kegiatan pendampingan di kelompok tani.

Menurut Kepala BB Biogen yang mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian Dr.Ir.Mastur,MSi menyampaikan bahwa Badan Litbang Pertanian bersama FAO memilih NTB untuk menerapkan pertanian konservasi ini karena NTB memiliki daerah beriklim kering dan lahan kering yang cukup luas. Kegiatan yang dilakukan juga mendukung program UPSUS  jagung Kementerian Pertanian,  sehinggadengan menerapkan konsep pertanian konservasi akan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas khususnya tanaman jagung demikian disampaikan.

Dalam kesempatan tersebut juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI DR Herman Khairon mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk  mendukung UPSUS jagung pada tahun 2017 sekitar tiga trilun dengan jumlah lahan sekitar 3 jutaHa. “Bagi petani di NTB  yang memiliki lahan sekitar 5 ribu-10 ribu Ha untuk tanaman jagung diharapkan mengajukan proposal kepada saya, agar bisa diadvokasi anggarannya”,demikian Dr. Herman menegaskan.

Dalam testimoni dan diskusi yang dipandu oleh Kepala BPTP Balitbangtan NTB, ketua kelompok tani Erot I Bapak Hamdi menjelaskan bahwa  pertanian konservasi untuk tanaman jagung menggunakan komponen teknologi penanaman dengan cara TOT, menggunakan penutup tanah dari biomas tanaman hijauan dan system tumpangsarai antara dengan tanamn kacang merah (antab)  . keuntungan metode pertanian konservasi yaitu dapat meningkatkan hasil jagung sebanyak 2 ton per hektar dan menghemat penggunaan pupuk NPK tiga kwintal per hektar, dimana pada saat menggunakan cara konvensional,mendapatkan hasil 5 ton perhektar dengan pupuk NPK sejumlah enam kwintal per hektar. Setelah menerapkan teknologi pertanian konservasi menjadi 7 ton perhektar dengan jumlah pupuk NPK  tiga kwintal perhektar.

Dalam kesempatan yang sama peserta diskusi mengharapkan teknologi pertanian konservasi dapat disebarkan kepada petani yang lain, dan peserta juga lebih banyak menyampaikan aspirasi-aspirasinya secara langsung kepada wakil Ketua DPR RI. (MF.Matenggomena dan Darwis)

Web Analytics