Berita

Workshop Produksi Benih Biji Botani Bawang Merah(True Seed of Shallot/TSS) di Nusa Tenggara Barat

Pin It

Bawang merah adalah salah satu  komoditas hortikultura yang kerap menimbulkan inflasi khususnya pada bulan-bulan November-Pebruari atau pada saat-saat mendekati hari-hari besar nasional seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan Natal.  Hal itu disebabkan pada bulan-bulan tersebut terjadi ketimpangan antara stok yang tersedia  dan kebutuhan masyarakat.

Kontinuitas produksi disetiap waktu menjadi program utama pemerintah,  selain itu program swasembada bawang merah di Tahun 2017 juga menjadi prioritas untuk mengawali target besar di Tahun 2045 yaitu menjadikan  Indonesia sebagai negara sumber pangan dunia.     Kesemua  program tersebut membutuhkan ketersediaan benih  kapan saja dan dimana saja.  Hal ini sulit tercapai jika pasar benih dan pasar konsumsi masih menyatu, artinya harus ada perbedaan antara wujud benih dan wujud konsumsi bawang merah. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah merubah teknologi penggunaan benih bawang merah dari umbi ke biji botani bawang merah  (True Seed of Shallot) yang disingkat TSS. Berbagai kelebihan TSS diantaranya adalah : (1) Tidak memiliki sifat dormancy; (2) Tidak bersifat bulky (memakan tempat); (3) Kebutuhanya sedikit hanya 3-5 kg/ha sehingga lebih hemat, mudah dibawa dan disimpan; (4) Masa viablitasnya cukup lama yaitu sekitar 2 tahun pada suhu kamar dan 3-4  th pada suhu dingin (5) Tidak membawa bibit penyakit yang menyebabkan tanaman lebih sehat dan berdaya hasil lebih tinggi.

Sudah sekitar tiga tahun terakhir ini telah beredar TSS produk manca negaradi lapangan, tetapi responnya sangat lambat yang salah satu penyebabnya adalah  preferensi petani terhadap umbi yang dihasilkan kurang disukai.  Petani masih mengharapkan umbi bawang merah yang dihasilkan dari TSS adalah  umbi berukuran seperti bawang merah pada umumnya, umbi bisa pecah 4-12 umbi, warna umbi merah dan lapis umbi yang kompak (padat).

Menyimak beberapa hal tersebut diatas BPTP NTB telah melaksanakan uji coba produksi TSS di dataran tinggi Sembalun sejak bulan September 2016. Untuk menyebarluaskan hasil pengkaian tersebut, maka dilaksanaan Workshop Produksi TSS di aula BPTP NTB hari Kamis ( 8/12/ 2016).  Workshop dihadiri 40 undangan yang menghadirkan 4 nara sumber yaitu   Kepala Balai Penelitian Tanaan Sayuran Dr. Ir. Catur Hermanto, MSc, yang membahas masalah Prospek TSS Kedepan dalam Mewujudkan Swasembada Bawang Merah di Tahun 2017 menuju  Indonesia menjadi Sumber Pangan Dunia di Tahun 2045 , Kepala Dinas Pertanian Propinsi NTB yang membahas tentang Program Pengembangan Bawang Merah di Provinsi NTB, Peneliti BPTP NTB yang menjadi penaggung jawab pengkajian TSS Ir. Muji Rahayu, MSi  dan Ir. PER Prahardini, MP dari BPTP Jawa Timur.

Beberapa stakeholders yang hadir diantaranya adalah dari BPSB Provinsi NTB, BBI Hortikultura Provinsi NTB, Pejabat pelaksana tugas dari BAKORLUH, BPTPH, Badan Diklat Pertanian Provinsi NTB, Staf yang membidangi komoditas hortikultura dari Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa,  Bank Indonesia, Bank NTB,  para calon penangkar TSS, penangkar benih hortikultura, petani, pedagang dan penjual sarana produksi pertanian.

Acara Workshop dibuka secara resmi oleh Kepala BPTP NTB yang diwakili  oleh  Ir. M.Sofyan Souri dan dilanjutkan dengan acara diskusi yang di pandu oleh Dr. Ir. Sasongko, MSc. Dari diskusi didapatkan beberapa kesimpulan , yaitu : (1) Semua stakeholders menunggu hasil pengujian BPTP NTB agar tersedia paket teknologi produksi TSS dengan varietas sesuai preferensi petani bawang merah di NTB; (2) Dari pembelajaran yang disampaikan oleh peneliti dari  BPTP Jawa Timur  didapatkan beberapa perbaikan komponen teknologi yang memang tidak tertulis dalam Juknis agar tahun 2017 produksi TSS di dataran tinggi Sembalun memenuhi target yang ditetapkan ;(3) Dampak langsung dari penggunaan TSS selain menurunkan biaya usahatani, meningkatkan produktifitas juga memunculkan segmen bisnis baru berupa penjualan bibit/seedling dan ini merupakan bisnis yang sangat menguntungkan dan (4) Mau tidak mau TSS adalah jawaban permasalahan perbenihan di Indonesia, maka dukungan dari semua stakeholders menjadi semangat tim pengkaji TSS di Indonesia khususnya di BPTP untuk bekerja lebih keras lagi dan (5) Perubahan penggunaan benih bawang merah dari umbi ke biji harus terus digalakkan karena target Kementan tentang produktifitas bawang merah per hektar 40 ton/ha, target ini sudah dicanangkan sehingga kita harus mengerahkan segala jurus untuk berkreasi dalam upaya  meningkatkan produktifitas seperti yang diharapkan salah satu strateginya adalah meningkatkan. (Muji Rahayu)

Web Analytics