Berita

Panen Dan Temu Lapang Denfarm Teknologi Budidaya Padi Jajar Legowo Super Di Kabupaten Sumbawa

Pin It

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB sebagai UPT Badan Litbang Kementerian Pertanian   bertugas untuk melakukan pengkajian, perakitan teknologi, dan pelayanan diseminasi teknologi  spesifik lokasi. Beberapa teknologi telah banyak dikembangkan dan didiseminasikan kepada petani oleh BPTP NTB.  Dalam rangka menyebarluaskan teknologi tersebut  BPTP NTB telah melakukan Denfarm inovasi teknologi budidaya padi VUB dengan  Jajar  Legowo (Jarwo) Super di Desa Dete Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa. Untuk memperkenalkan teknologi tersebut kepada masyarakat luas, BPTP NTB melaksanakan Panen dan Temu Lapang pada senin (10/10/2016).

Kegiatan temu lapang dihadiri sekitar  200 orang peserta terdiri dari Dandim Sumbawa, Kapolres Sumbawa, kepala Bakorluh NTB, Perwakilan DPRD Kabupaten Sumbawa, Kepala BPTP NTB, Tim teknis Jarwo Super Badan Litbang Kementerian Pertanian, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Camat Lape, Kepala Bulog Sub Divro Sumbawa, Kepala BPSPTPH NTB Kepala Desa se-Kecamatan Lape, KUA Kecamatan Lape  perwakilan Jasindo, Kepala BP4K Kabupaten Sumbawa, Penyuluh Kecamatan Lape, Ketua Kelompok tani sekitar Kecamatan Lape, Danramil dan Babinsa,  Peneliti dan penyuluh pertanian BPTP NTB.

Kepala BPTP NTB Dr. Saleh Mokhtar MP dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa teknologi Jarwo Super pertama kali diperkenalkan di Jawa Barat pada bulan Mei tahun 2016 dan mampu meningkatkan produktivitas padi dari 7 ton/ha GKP menjadi sebesar 13,9 ton/ha GKP dengan varietas inpari 30, Inpari 32 sebesar 14.4 ton/ha GKP dan inpari 33 sebesar 12,4 ton GKP.  Lebih lanjut disampaikan bahwa BPTP NTB berinisiatif merespon segera untuk mendiseminasikan penerapan teknologi Jarwo Super menggunakan varietas padi Inpari 30 dan 32 di  kelompok Bunga Eja 3 Desa Dete Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa seluas 10 hektar.”Berdasarkan hasil uji coba Jarwo Super di kelompok Bunga Eja menunjukan adanya peningkatan produktivitas padi  dari hasil sebelumnya rata-rata sekitar 5 ton/ha menjadi 8,04 ton/ha GKP”, demikian Saleh Mokhtar menambahkan.

Selanjutnya penanggung jawab Denfarm Teknologi Jarwo Super Sabar Untung SP dalam penjelasan teknis menyampaikan bahwa beberapa komponen teknologi yang mendukung  Jarwo Super antara lain umur bibit yang ditanam dari persemaian yaitu 15 – 18, jumlah bibit yang ditanam 1-3 perlubang, cara tanam menggunakan Jarwo 2:1 (50 cm x 25cm x 12,5 cm), dosis pupuk yaitu NPK Phonska 300 kg/ha, Urea 200 kg/ha, Bio decomposer 2 kg/ha, perlakuan benih (Agrimeth), pupuk kandang 2 ton/ha, pengendalian hama/penyakit menggunakan pastisida nabati yaitu Bio proctektor,

Menurut ketua kelompok tani Bunga Eja Abdul Hakim SP bahwa sebelumnya petani melakukan penanaman  secara tradisional atau tidak teratur. Dari hasil ini mereka bertekad untuk menerapkan lagi teknologi Jarwo Super yang tepat pada penanaman padi musim hujan tahun 2017, dan akan berusaha menggunakan paket Jarwo Super secara lengkap sehingga bisa mendapatkan hasil 10 ton/ha.

Sementara itu Camat Lape mengapresiasi BPTP NTB yang telah mengembangkan teknologi Jarwo Super di Kecamtana Lape dan menganjurkan kepada petani untuk terus menambah ilmu pengetahuan tentang teknologi yang terus berkembang sehingga petani mampu meningkatkan hasil produksi pertanian. Camat Lape juga mengharapkan agar teknologi Jarwo Super dapat diterapkan oleh petani yang lain.

Dalam acara temu wicara yang dipandu oleh perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa penerapan teknologi Jarwo Super mendapatkan sambutan positif dari peserta, namun kendala yang banyak dipertanyakan adalah cara mengatasi keterlambatan pupuk yang berpengaruh pada waktu pemupukan. Acara dirangkai dengan praktek memanen padi menggunakan Combine Harvester dan menanam padi dengan Jarwo Ric Transplenter (MF. Matenggomena)

Web Analytics