Berita

Temu Lapang Panen Padi Menggunakan Mesin Pertanian Mendukung UPSUS Padi Di Kota Mataram

Pin It

Kekurangan tenaga kerja untuk usaha tani merupakan salah satu kendala yang sering dialami oleh petani. Oleh karena itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTP NTB) telah memeperkenalkan alat-alat mekanisasi pertanian yang dapat membantu petani memecahkan masalah kekurangan tenaga kerja. Salah satu alat yang diperkenalkan adalah combine harvester atau alat panen. Dalam rangka memperkenalkan combine harvester  kepada masyarakat luas, BPTP NTB telah menyelenggarakan temu lapang panen padi menggunakan Combine Harvester yang berlangsung di Lingkungan Tegal, Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya Kota Mataram pada hari Senin (29/8/2016). Panen dihadiri sekitar 80 orang dari unsur Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Mataram, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Mataram, Kepala BP3K se Kota Mataram, Mantri Tani se Kota Mataram, PPL BP3K Kecamatan Sandubaya, Danramil Wilayah Cakranegara dan Sandubaya, Camat Sandubaya, Babinsa, Pendamping Upsus Universitas Mataram, Ketua Kelompok Tani penerima bantuan alat dan mesin panen (Combine Harvester) dan Anggota Kelompoktani Tegal Jaya I, Lingkungan Tegal, Kelurahan Selagalas.

Acara diawali demonstrasi panen padi menggunakan Combine Harvester type Maxi M yang dipandu oleh teknisi PT. Korin Sidoarjo, Jawa Timur. Menurut Anton Sudrajat yang mewakili teknisi, kapasitas kerja alat adalah 5-6 jam per ha. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengoperasian alat dan mesin adalah perawatan, terutama minyak pelumas (oli). Lahan harus dalam keadaan kering, kondisi pertanaman harus masak 100%. dan panen baru dimulai setelah embun kering. Jika panen dalam kondisi belum masakdan masih embun maka mesin akan tersumbat sehingga pengipasan tidak berjalan optimal.

Selanjutnya Ir. Tri Rina Sakti yang mewakili Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Mataram menyampaikan bahwa jumlah bantuan alat panen untuk Kota Mataram TA. 2016 sebanyak 10 unit, diantaranya 3 unit diberikan pada kelompok tani di Kecamatan Sandubaya.

Liaison Officer (LO) UPSUS BPTP NTB untuk Kota Mataram Dr. Moh. Nazam, SP.MSi menyatakan bahwa tantangan utama dalam peningkatan produksi padi di Kota Mataram adalah ketersediaan sumberdaya lahan pertanian yang semakin terbatas akibat konversi lahan ke non pertanian yang terus berlanjut. Dalam lima tahun terakhir luas sawah di Kota Mataram mengalami penyusutan 9,32% dari  2.275,51 ha tahun 2010 menjadi  2.063,36 ha pada tahun 2014. Sementara indeks pertanaman (IP) padi di Kota Mataram sudah mendekati optimal yaitu 259%. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain yang harus ditempuh untuk meningkatkan produksi padi di Kota Mataram adalah melalui peningkatan produktivitas. Peluang peningkatan produktivitas padi dapat ditempuh melalui penggunaan varietas unggul berproduksi tinggi dan perbaikan teknologi budidaya yang lebih baik. Berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan varietas unggul baru yang diikuti dengan penerapan teknologi unggulan dapat meningkatkan produktivitas padi menjadi 8-12 ton/ha. Penerapan teknologi tanam padi jarwo dapat meningkatkan produktivitas padi 10-15% yang disebabkan peningkatan populasi tanaman sebanyak 20-33% per ha serta adanya efek dari peningkatan jumlah rumpun tanaman pinggir (border effect).

Lebih lanjut Nazam menjelaska bahwa Demplot dan Display Varietas Padi yang dilaksanakan di lingkungan Tegal, Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya adalah bentuk pendampingan UPSUS PAJALE oleh BPTP NTB sebagai upaya meningkatkan produktivitas padi di Wilayah Kota Mataram.Teknologi yang diterapkan meliputi: (1) pengolahan tanah sempurna (OTS); (2) tanam bibit umur 20 hari sejak semai dengan jumlah bibit 2-3 batang per rumpun. Varietas padi yang ditanam: Inpari-7, Inpari-22, Inpari-30, Inpari-31, Inpari-32 HDB dan  sebagai pembanding adalah varietas Ciherang; (3) penanaman dengan sistem jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam (40x25x12,5) cm; (4) dosis pupuk sesuai rekomendasi setempat, yaitu NPK 250 kg/ha dan Urea 200 kg/ha; (5) pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukan dengan pendekatan terpadu dan pemantauan intensif; (6) panen dilakukan pada umur 110 HST.

Keragaan hasil beberapa Varietas Unggul Baru Badan Litbang Pertanian disajikan pada Tabel berikut:

Varietas

Tinggi

Tanaman (cm)

Jumlah

Anakan (btg)

Jumlah

Malai (tangkai)

Panjang

Malai (cm)

Butir

Isi (biji)

Butir hampa

(%)

Provitas

(t/ha) GKG

Inpari-7

87

18

17

22

116

4,74

4,82

Inpari-22

102

15

15

26

136

8.99

5,96

Inpari-30

93

14

14

23

115

8,57

5,96

Inpari-31

110

13

11

25

147

14,66

5,17

Inpari-32 HDB

113

14

13

29

148

4,22

5,49

Ciherang

97

15

13

23

106

14.46

5,07

Hasil pengkajian memperlihatkan bahwa produktivitas tertinggi ditunjukkan varietas Inpari-22 dan Inpari-30 masing-masing 5,96 t/ha gabah kering giling (GKG), disusul Inpari-32 HDB dengan produktivitas 5,49 t/ha GKG. Produktivitas terendah dicapai varietas Inpari-7 yaitu 4,82 t/ha GKG sedikit di bawah varietas Ciherang dengan produktivitas 5,07 t/ha GKG. Tingkat produktivitas yang dicapai tersebut masih jauh di bawah potensi hasil varietas, sehingga masih berpeluang untuk ditingkatkan. Tingkat produktivitas yang dicapai tersebut bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata berdasarkan data BPS (2015) telah melampaui produktivitas rata-rata Kecamatan Sandubaya sebesar 4,33 t/ha GKG dan bahkan produktivitas Inpari-22 dan Inpari-30 lebih tinggi dari produktivitas rata-rata Kota Mataram 5,78 t/ha GKG. Hasil demplot ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi petani di Kota Mataram bahwa beberapa varietas dapat menjadi pilihan untuk dikembangkan di Kota Mataram.

Pada akhir diskusi Nazam menambahkan bahwa demontrasi panen padi dengan menggunakan alat dan mesin panen (Combine Harvester) dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kelangkaan tenaga kerja,mempercepat waktu panen (hanya 5-6 jam/ha) dan sekaligus menekan susut atau kehilangan hasil gabah hingga 1-2%. (Moh. Nazam)

Web Analytics