Berita

Temu Lapang Model Peningkatan Produktivitas Tanaman Padi Dengan Teknologi Konservasi Air Dan Managemen Pemupukan Di Kabupaten Lombok Tengah

Pin It

Air dan pupuk merupakan dua faktor penentu dalam produktivitas tanaman padi. Konservasi air yang disertai managemen pupuk yang baik mutlak  diperlukan untuk meningkatkan efisiensi kedua sumber energi yaitu air dan pupuk. Hal ini juga sekaligus sebagai upaya meningkatkan kualitas lingkungan dengan berkurangnya pencemaran akibat pemberian pupuk yang berlebihan, mengurangi biaya produksi, menjaga kualitas air dan memperkecil peluang tercucinya pupuk dari sistem. Konservasi air akan tercapai dengan managemen air dan pupuk yang baik, sehingga distribusi air irigasi lebih efektif dan aplikasi pupuk lebih efisien.

Untuk menyebarluaskan informasi teknologi kepada petani, penyuluh dan stakeholder serta mendapatkan umpan balik dari hasil pengkajian yang telah dilaksanakan, maka BPTP NTB telah melakukan temu lapang dan panen padi secara simbolik kegiatan pengkajian Peningkatan Tanaman Padi Dengan Teknologi Konservasi Air Dan Managemen Pemupukan pada hari Jum’at (26/08/2016) di kelompok tani  Gerak Maju, Desa Sepakek, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah.

Hadir dalam acara temu lapang  sebanyak 80 orang peserta  antara lain Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah, Kepala BPTP NTB, Kepala BKP3 Pringgarata, Danramil Pringgarata, Babinsa Desa Sepakek, Camat Pringgarata atau pejabat yang mewakili, Koordinator  Penyuluh BKP3 Pringgarata, , peneliti-penyuluh BPTP NTB, ketua dan anggota kelompok Gerak Maju, dan petani sekitar desa Sepakek.

Dalam Sambutanya kepala BPTP Dr. Ir. M. Saleh Mokhtar,MP menyampaikan bahwa  “Air merurupakan  faktor penentu dalam usaha tani terutama padi, jika berlebihan air tidak baik, dan kalau kekurang air juga tidak baik, sehingga air perlu kita keloka dengan baik agar penggunaanya efisien,efektif dan merata”, demikian disampaikan. Dalam kesempatan yang sama Saleh Mokhtar juga menyampaikan bahwa keberadaan air  sangat  berpengaruh pada saat pemupukan, agar pengguaan pupuk  efektif tergantung pada kondisi air.  Dari hasil pengkajian dengan pengelolaan air basah kering/ intermiten pada MK I 2016  hasil ubinan pada 13 titik dengan  kombinasi basah kering hasilnya 8,9 ton/ha, sedangkan dengan sistem tergenang hasilnya 9 ton/ha. Dari hasil ini tidak ada perbedaan yang signifikan dan tidak mengurangi produktivitas tetapi kita lebih dapat menghemat air sebesar 40%. Disampaikan pula bahwa pengkajian ini juga  mendukung program pemerintah saat ini untuk menuju  kedaulatan pangan.

Dalam kesempatan yang sama Dr. H. A. Suryadi, SP, MagrSc, selaku penangung jawab kegiatan menyampaikan bahwa air sangat berharga. Di Desa Sepakek yang merupakan daerah hulu air berlebihan sedangkan di daerah lain/hilir masih banyak yang kekurangan air, sehingga penggunaan harus berbagi air kepada daerah hilir. H.ASuriyadi  menyampaikan juga bahwa jika lahan tidak tergenang terus menerus maka, yang pertama secara alami siput/keong tidak dapat berkembang biak sehingga tidak perlu disemprot dengan pestisida, kedua lahan-lahan sawah di Desa Sepakek sudah jenuh dengan air  sehingga lahan menjadi masam/kelebihan zat besi yang menyebabkan tanaman keracunan zat besi sehingga tumbuhan tidak berkembang atau tanaman menjadi kerdil, dan yang ketiga pada saat pemberian pupuk dengan kondisi air macak-macak pupuk langsung bersentuhan dengan tanah atau diikat oleh tanah maka pupuk tidak ada yang terbuang melaui air yang mengalir sehingga pupuk tetap berada di dalam tanah dan dapat diambil oleh tanaman sedikit demi sedikit. Disamping itu juga jika air terlau banyak pada saat pemupukan dapat menyebabkan pupuk terbawa kedalam tanah paling dalam atau terpolasi sehingga akar tanaman tidak dapat menjangkau pupuk sampai dalam.

Pada kesempatan yang sama  H. A. Suryadi juga menampilkan kepada peserta temu lapang berupa alat kontrol ketinggian air yang digunakan dalam pengkajian ini. Alat kontrol air ini terbuat dari potongan paralon yang dilubangi dan diletakkan pada salah satu sudut lahan sawah lokasi pengkajian. Kegunaan alat ini agar kita dapat mengontrol ketinggian air yang masuk ke dalam tanah.

Dalam sambutan yang disampaikan Ir. Prawiranata yang mewakili kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah,  menyampaikan bahwa teknologi ini sangat bermanfaatkarena dapat menghemat air seperempat dari yang dibutuhkan tanaman padi. Sehingga air yang dihemat ini dapat dialirkan ke daerah yang lain  dan ke daerah-daerah yang kekurangan air.

Acara temu lapang diakhiri dengan diskusi yang dipandu langsung  oleh Kepala BPTP NTB. Para peserta banyak menanyakan tentang teknologi konservasi air dan managemen pemupukan yang digunakan dalam pengkajian ini terutama apabila dilakukan pada MH, semua pertanyaan dijawab oleh narasumber dengan baik dan peserta merasa puas. (Nurul Agustini)

Web Analytics