Berita

Temu Lapang Gelar Teknologi Penanaman Padi Sistim Tanam Benih Langsung (Tabela) Pada Sawah Irigasi Terbatas

Pin It

Ketersediaan air irigasi menjadi salah satu persoalan utama dalam upaya peningkatan produktivitas dan produksi padi di Nusa Tenggara Barat.  Diantara faktor penyebabnya adalah   fenomena iklim yang tidak menentu diantaranya Elnino, periode hujan yang semakin singkat, curah hujan tahunan yang cenderung menurun dan distribusi hujan tidak merata.  Persoalan ini berujung pada semakin meluasnya areal pertanaman padi yang mengalami kekeringan dan gagal panen.

Salah satu strategi  yang dapat diupayakan untuk mengatasi persoalan kekeringan atau kekurangan air pada lahan tanam antara lain dengan merubah cara tanam (crop establishment) dari tanam pindah menjadi tanam benih langsung (TABELA) seperti yang telah diujicobakan oleh BPTP NTB di berbagai tempat di propinsi Nusa Tenggara Barat.

Salah satu lokasi  ujicoba adalah di Desa Saba Kecamatan Janapria Kab. Lombok Tengah sekaligus menjadi tempat temu lapang yang diadakan oleh BPTP NTB. Acara temu lapang diadakan pada hari Kamis (25/08/2016) yang dihadiri oleh sekitar 100 orang peserta terdiri dari Kepala BPTP NTB, perwakilan Dinas Pertanian Kab. Lombok Tengah, BP4K Ka. Lombok Tengah, BP3K Kecamatan Janapria, Dan Ramil Kec. Janapria, Kepala Desa Saba, Babinsa se Kec. Janapria, Penyuluh Kec. Janapria, Penyuluh BPTP NTB serta Petani yang ada di Desa Saba Kec. Janapria.

Acara temu lapang diawali dengan pemaparan Teknologi TABELA oleh Bapak Lalu Wirajaswadi, M.Ed selaku tenaga ahli padi (Penyuluh senior purna tugas dari BPTP NTB)  menyatakan bahwa TABELA mempunyai beberapa kelabihan yang perlu diketahui bersama diantaranya : Menghemat penggunaan air sekitar 20-40%, hemat tenaga kerja karena tidak dilakukan tanam pindah, umur tanam lebih singkat sekitar 7-10 hari, dan lebih toleran terhadap hama dan penyakit.

Untuk menghindari berbagai masalah yang kemungkinan timbul akibat penerapan Tabela,  Wirajaswadi menyarankan hal yang sangat penting adalah komponen teknologi yang tersusun menjadi paket teknologi sebaiknya saling bersinergi, artinya penerapan satu komponen harus mendukung kemanfaatan komponen lainnya seperti : persiapan lahan, pemilihan varietas yang toleran terhadap kekeringan, perlakuan benih, cara penanaman dengan jajar legowo, pengelolaan air, pengendalian gulma, pemupukan sesuai dengan dosis yang benar dan pengendalian hama dan penyakit.

Kepala BPTP NTB  Dr Ir.M Saleh Mokhtar MP dalam sambutannya menyatakan bahwa salah satu tugas Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTP - NTB) adalah menyebarluaskan informasi tentang inovasi-inovasi pertanian hasil penelitian dan pengkajian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Tabela merupakan salah satu inovasi yang perlu disampaikan dan disebarluaskan mengingat ada beberapa lahan di NTB yang merupakan lahan irigasi  terbata. Kab. Lombok Tengah merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan sawah beririgasi terbatas seperti di Desa Saba Kec. Janapria ini maka cocok diterapkan sistim tanam Tabela terutama pada musim tanam MK I .

Setelah menyampaikan kata sambutannya Kepala BPTP NTB beserta pejabat terkait yang hadir melakukan panen secara simbolik pada lahan sawah dengan sistim tanam Tabela yang diperkirakan akan menghasilkan sekitar 6,05 Ton GKG.

Ketua Kelompok Tani Terentem Dusun Terentem Desa Saba Kec. Janapria mengungkapkan betapa sistim tanam Tabela ini sangat membantu dan mudah-mudahan dengan adanya acara temu lapang ini bisa membuka mata para petani di Desa Saba pada khususnya dan patani Kec. Janapria pada umumnya agar dapat menggunakan teknologi tabela terutama pada MK I dan MK II.

Dalam acara diskusi yang dipandu oleh Ir. Achmad Muzani salah satu penyuluh senior di BPTP NTB, peserta mempertanyakan teknologi tentang tabela dan peningkatan provitas dari sistim tabela. Semua pertanyaan dijawab oleh narasumber dengan baik dan peserta merasa puas. (Syamsul Bahraen)

Web Analytics