Berita

Temu Lapang Aplikasi Biourine Pada Tanaman Padi Di Desa Setanggor Kabupaten Lombok Tengah

Pin It

Upaya pemerintah untuk mewujudkan swasembada beras terus dilakukan. Namun demikian peningkatan produksi padi yang ditempuh melalui intensifikasi cenderung meningkatkan penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara kurang bijaksana. Kondisi ini jika terus berlangsung dan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan degradasi lahan dan pencemaran lingkungan. Pada sisi lain sumberdaya lokal yang berlimpah di sekitar kita, seperti limbah jerami, limbah padat ternak dan urinenya belum dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga banyak terbuang percuma. Demikian disampaikan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB Dr. Ir. M. Saleh Mokhtar, MP pada acara Temu Lapang Aplikasi Biourine Pada Tanaman Padi di Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah (01/08/16). Acara Temu Lapang yang dihadiri Dinas/Instansi terkait, PPL dan sekitar 100 orang petani diawali Panen Padi Varietas Inpari-33 hasil aplikasi Biourine.

Lebih lanjut  Dr Saleh  mengatakan bahwa pertanian bioindustri yang sedang dikembangkan di Desa Setanggor dan Tanak Rarang saat ini adalah konsep pertanian masa depan yang dicirikan oleh pemanfaatan semaksimal mungkin sumberdaya lokal yang tersedia dan pengurangan semaksimal mungkin input produksi yang bersumber dari luar, sehingga wilayah ini menjadi contoh penerapan sistem pertanian bioindustri di NTB yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kepala BPTP NTB mengapresiasi keseriusan dan semangat petani  yang mampu bekerjasama dalam menerapkan berbagai inovasi teknologi yang dianjurkan dan saya berharap dan yakin wilayah ini akan mampu menjadi basis pengembangan teknologi jarwo super dalam waktu dekat ini..

Selanjutnya Penanggung jawab kegiatan Sistem Pertanian Bioindustri  BPTP NTB Dr. Moh. Nazam, dalam penjelasan teknis mengatakan bahwa antara sistem pertanian dan sistem bioindustri memiliki hubungan keterkaitan imbal balik yang saling menguntungkan. Sistem pertanian menghasilkan biomassa berupa produk utama dan limbah yang menjadi bahan baku (input) bioindustri. Sedangkan sistem bioindustri mengolah biomassa pertanian menjadi aneka produk yang bermanfaat (input) bagi sistem pertanian dan peningkatan pendapatan petani.Berbagai teknologi telah dikembangkan untuk mendukung kedua sistem tersebut, antara lain: penggunaan varietas unggul baru Balitbangtan seperti Inpari-3, Inpari-7, Inpari-22, Inpari-30, Inpari-33; penerapan cara tanam jajar legowo 2:1; penggunaan pupuk kompos dan biourine pada padi sawah; rekayasa alat pembuatan garis tanam (caplak) jajar legowo; rekayasa kandang ternak untuk mengumpulkan urine dan limbah padat; intalasi biogas; teknologi prosessing kompos menggunakan permentor mikro organisme lokal; teknologi prosessing biourine, dan lain-lain.

Moh. Nazam juga menyampaikan hasil kajian aplikasi Biourine pada tanaman padi bahwa pemberian Biourine sebanyak 90 liter/ha konsentrasi 15% (1 liter biourine diencerkan dalam 15 liter air) kemudian disemprotkan pada tanaman padi pada fase vegetatif sebanyak 3 kali selang 2 minggu sekali mampu meningkatkan jumlah anakan produktif dan produktivitas padi dan sekaligus pengurangan penggunaan pupuk Urea 50 kg/ha. Pada MH 2015/2016 dengan varietas padi Inpari-30 jumlah anakan produktif  meningkat 9,14% dan produktivitas meningkat 4,56% yaitu dari 5,92 t/ha (tanpa biourine) menjadi 6,19 t/ha. Pada MK1/2016 dengan varietas padi Inpari-33 jumlah anakan produktif meningkat 11,43% dan produktivitas meningkat 20,11% yaitu dari 4,69 t/ha (tanpa biourine) menjadi 5,63 t/ha.Hasil kajian ini mampu menekan biaya sekaligus meningkatkan pendapatan usahatani antara Rp.0,9-3,7 juta/ha.

Berdasarkan hasil perhitungan kasar potensi biourine yang bersumber dari 721 ekor ternak sapi yang terdapat di Desa Setanggor mencapai 1,4 juta liter/tahun. Sedangkan potensi kompos mencapai 1.300 ton/tahun. Apabila aplikasi biourine pada tanaman padi sebanyak 90 liter/ha, maka Biourine yang dihasilkan dapat diaplikasikan pada tanaman padi seluas 15.000 ha. Bila penggunaan biourine diikuti pengurangan pupuk Urea 50 kg/ha, maka dapat dihemat pupuk Urea sebanyak 750 t/tahun setara Rp.1,37 M. Biourine produksi Kelompok tani Tunas Maju Desa Setanggor diperkaya dengan mikroba Azotobacter dan Ramuno Bacillus Berdasarkan hasil uji laboratorium kualitasnya cukup baik dan telah sesuai dengan yang dipersyaratkan. Azotobacter berperan mengikat N dari udara bebas dan memproduksi fitohormon terutama sitokinin atau hormon tumbuh auksin yang mempercepat pertumbuhan batang dan akar. Sedangkan Ramuno Bacillus berperan sebagai biopestisida yang memproteksi tanaman dari gangguan bakteri pathogen. Hingga saat ini jumlah biourine yang sudah dihasilkan oleh kelompok tani Tunas Maju sebanyak 2.500 liter dan pupuk kompos 300 ton, sudah dimanfaatkan oleh petani baik dalam wilayah maupun luar Desa Setanggor.

Dalam acara Temu Wicara yang dipandu langsung Kepala BPTP NTB mendapat respon positif bahwa Dinas/Instansi terkait yang hadir siap mendukung dan menfasilitasi kegiatan ini karena selaras dengan program pembangunan pertanian di Kabupaten Lombok Tengah. Sementara itu, Ihsan dari Rumah Energi yang juga hadir siap membantu terutama dalam pemanfaatan limbah biogas (bio-slury) menjadi aneka produk yang bernilai jual untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.  (Moh. Nazam)

Web Analytics