Berita

FGD “Untuk Mencapai Target Serapan Gabah” di BPTP NTB

Pin It

Balai Pengkajian Teknologi  Pertanian (BPTP) NTB telah banyak menghasilkan teknologi pertanian spesifik lokasi termasuk analisis kebijakan pertanian mendukung pogram pemerintah  daerah NTB dalam pembangunan pertanian.

Salah satu analisis kebijakan yang dilakukan BPTP  NTB pada saat ini terkait  serapan gabah petani (Sergap),  untuk itu pada Kamis (12/5/2016) BPTP NTB melaksanakan Focus Grup Discussion (FGD)  di aula sidang BPTP NTB. Acara dihadiri 29 orang terdiri dari Kepala BPTP NTB, penganggung jawab  NTB, perwakilan  Danrem 162 Wirabhakti,  Karantina Pertanian, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura NTB, Badan Ketahanan Pangan, Sekretaris Bakorluh NTB, Bulog NTB, Pengamat Social Ekonomi Unram, Kodim 1606 Lombok Barat, ketua KTNA NTB,  tim Anjak Sergab BPTP NTB, peneliti dan penyuluh BPTP NTB.

Kepala BPTP  NTB Dr. Ir. M. Saleh Mukhtar, MP  dalam sambutannya menuturkan bahwa cita –cita Pemerintah Republik Indonesia adalah mewujudkan kedaulatan pangan. Agar kedaulatan pangan dapat tercapai Kementerian Pertanian melakukan upaya khusus (Upsus).

Labih lanjut Saleh Mokhtar mengungkapkan sebagai Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Kementerian Pertanian, BPTP NTB berkewajiban untuk mensuksekan Upsus, salah satu kegiatan didalamnya adalah serapan gabah di petani.” Serapan gabah merupakan isu utama yang tejadi saat ini sehingga BPTP NTB merespon kebijakan daerah NTB dengan melakukan kegiatan analisis kebijakan Sergap yang akan menghasilkan rekomendasi kebijakan sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Daerah NTB”, demikian dijelaskan Saleh.

Lebih jauh Saleh Mokhtar mengharapkan melalui FGD kita  dapat menghimpun data dan informasi atau sumbangan pemikiran untuk mencari solusi guna mengoptimalkan serapan gabah di NTB.

Sementara itu penanggung jawab Upsus NTB  Dr. Ir. Mastur menegaskan kedaulatan pangan harus terwujud demi meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat miskin. Dengan Upsus diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan sebesar-basarnya dan bisa disalurkan dengan harga terjangkau.

Lebih lanjut Mastur  menjelaskan bahwa beras merupakan kebutuhan  utama bagi penduduk, jika harga beras tidak stabil akan menurunkan tingkat  kemiskinan, oleh karena itu Bulog harus menyerap sebanyak – banyaknya gabah  pada saat panen raya sesuai dengan harga penetapan pemerintah (HPP).

Dalam kesempatan yang sama ketua Tim analisis kebijakan sergap BPTP NTB  mengungkapkan bahwa serapan gabah sampai dengan 10 Mei tahun 2016 hanya 18,66%  yaitu  4.570 ton beras dari target sergap NTB 241.500 ton beras setara dengan 500.000 ton GKP, untuk itu kinerja bulog harus terus dimaximalkan lagi, serta diperlukan adanya kerjama sama yang baik dari semua pihak. Selanjutnya masing-masing peserta menyampaikan informasi dan solusi agar serapan gabah sesuai target.(M F.Matenggomena)

Web Analytics