Berita

Study Banding Penyuluh Pertanian bersama BPTP NTB

Pin It

Pengetahuan penyuluh pertanian harus semakin ditingkatkan, karena tugas yang diemban oleh penyuluh pertanian adalah membibing dan mendampingi petani melalui penyebaran informasi teknologi pertanian di wilayah binaanya, sehingga  program pemerintah dibidang pertanian dapat tercapai.

Untuk itu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB melakukan pembinaan kepada penyuluh pertanian di NTB melalui kegiatan Percepatan Desiminasi Hasi-hasil Pengkajian Mendorong Pengembangan Bioindustri Pertanian di NTB pada Senin 12/10/2015. Peserta studi banding berasal dari Penyuluh Pertanian  BP3K Gunungsari, BP3K Lingsar, BP3K Batukliang dan BP3K Praya. .

Sebelum melakukan kunjungan, peserta studi banding diterima secara resmi oleh PLH Kepala BPTP NTB Ir. Sofyan Sauri. Peserta yang hadir terdiri dari 30 orang Penyuluh Pertanian yang mewakili Kabupaten Lombok Barat,  dan 15 orang Penyuluh Pertanian Kabupaten Lombok Tengah.  Kunjungan study banding para penyuluh ini diawali di Desa Nyerot, Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah  untuk meninjau budidaya pemeliharaan ayam KUB. Narasumber dalam pemeliharaan ayam KUB ini adalah  Fajarudin SPt yang merupakan mitra BPTP NTB Fajarudin mengakui bahwa keberhasilan  beternak ayam KUB di Desa Nyerot adalah berkat bimbingan dan kerjasama dengan BPTP NTB, sehingga mereka dapat menjual sebanyak 2000 ekor perbulan dengan umur ayam 3-4 bulan”

Lebih lanjut Fajarudinmengungkapkan bahwa kotoran dari ayam KUB dikumpulkan di dalam bak penampungan untuk dijadikan bahan pembuatan kompos. Dalam kesempatan tersebut Fajarudin mengharapkan agar masyarakat di desa lain dapat mengikuti seperti apa yang dilakukannya saat ini  untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Acara kunjungan penyuluh pertanian berlanjut di Balai Pengembangan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia (BP3TR) Provinsi NTB untuk melihat cara pembuatan silase.  Kepala BP3TR Lalu Muhammad Yusri SPt sebagai narasumber  menjelaskan bahwa tujuan pembuatan silase adalah untuk melakukan fermentasi pakan ternak agar dapat dijadikan cadangan makanan pada saat ternak mengalami kekurangan pakan terutama pada musim kemarau.

Dalam kesempatan yang sama Yusri menjelaskan bahan-bahan pembuatan silase terdiri dari 100 kg daun jagung, 5 kg dedak, bahan fermentasi (inokulum) 5 ml, dan pelarut air 50 ml. Bahan-bahan tersebut disimpan dalam wadah (tong) selama 3 minggu,  Silase akan dapat bertahan 2 tahun jika dalam proses penyimpanan kedap udara.

Acara studi banding diahiri dengan mengunjungi stand pameran BPTP NTB di Festival Holtikultura yang berada di Ruang Terbuka Hijau (RTH) kelurahan Pagutan Kota Mataram. (MF. Matengomena dan Nurul Agustini)

Web Analytics