Berita

Temu Lapang Jagung Mendukung Program Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Jagung (GP-PTT) Di Kab. Sumbawa

Pin It

Jagung merupakan komoditas unggulan pemerintah provinsi NTB. Pada tahun 2013 produksi mencapai 633,733 ton pipilan kering, sedangkan tahun 2014 meningkat sebesar 785,864 ton pipilan kering atau 24%. Namun yang menjadi problem ditingkat petani yaitu harga benih sangat mahal, varietas unggul yang didatangkan dari berbagai tempat kadang-kadang setelah sampai ditingkat petani kualitasnya sudah berubah (daya tumbuh menurun) dan produksi rendah. Karena itu perlu adanya upaya pengkajian/demplot varietas unggul baru ke petani pengguna.

Sejalan dengan mendukung program Pendampingan pengembangan kawasan  pertanian nasional komoditas jagung (GP-PTT) Jagung, BPTP NTB melaksanakan Demplot PTT Jagung seluas 10  Ha yang tersebar di 14 Kelompok tani dan enam desa di Kecamatan Utan Kabupaten  Sumbawa. Ada 3 Varietas jagung yang coba di Demplot yaitu Varietas Bima 14, Bima 19 dan Bima 20 yang merupakan varietas Badan Litbang Pertanian hasil pemulia Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros. Untuk mensosialisasikan hasil demplot BPTP NTB melaksanakan Temu lapang yang bertempat di Kelompok tani Muka Baru Desa Pukat Kec. Utan Kab. Sumbawa, pada Rabu (16/09/2015). Acara dihadiri oleh 250 orang peserta yang terdiri dari stakeholder terkait antara lain Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP),  Balai Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Sumbawa, TNI, Polsek Kec. Utan,  Camat Kec. Utan, Penyuluh Pertanian dan petani Jagung di empat kecamatan di Kab. Sumbawa (Kec. Utan, Rhee, Alas dan Alas Barat), serta petani Jagung dari Kabupaten Sumbawa Barat yaitu Kec. Pototano. Acara dibuka oleh Bq. Tri Ratna Erawati, SP.M.Sc yang merupakan salah satu  Peneliti BPTP NTB yang mendampingi kegiatan GP-PTT jagung  dan sekaligus menyampaikan Produktivitas hasil demplot masing-masing varietas yaitu Bima 20 dengan produksi sebesar 10,29 t/Ha, Bima 14 = 9,39 t/Ha, Bima 19 = 9,03 t/Ha dan  Bisi 2 = 7,8 t/Ha. Ini Menunjukkan bahwa produktivitas varietas bima 20 lebih tinggi jika dibanding varietas lainnya, daun yang masih muda dengan tongkol yang sudah kering sangat cocok dikembangkan di NTB terutama pulau Sumbawa untuk mendukung Program unggulan pemda Provinsi NTB yaitu PIJAR.

Dalam kesempatan selanjutnya, Dr. Eko Ananto yang mewakili kepala BBP2TP menekankan agar petani menggunakan produk dalam negeri hasil karya anak bangsa karena memiliki keunggulan yaitu bisa diproduksi sendiri ditingkat petani untuk membantu para penangkar benih sehingga dapat menekan harga benih hibrida yang terlalu mahal dan mutu tidak kalah saing dengan produk luar negeri. Disela sesi diskusi, disebarkan kuisioner yang memberi pertanyaan tentang varietas yang disukai petani beserta alasanya. Dari hasil kesimpulan menunjukan bahwa 76,4% petani memilih varietas bima 20, 10,9% memilih Bima 14, 9,1% memilih bima 19 dan 3,6% memilih Bisi 2. Petani memilih Bima 20 dengan alasan Produktivitas tinggi, tahan terhadap penyakit bulai, umur genjah, tahan terhadap kekeringan sehingga sangat cocok untuk dikembangkan didaerah yang airnya bersumber dari sumur Bor. Dan pada kesempatan yang sama banyak permintaan dari petani untuk dilakukan pelatihan teknik produksi benih  dan sertifikasi benih jagung hibrida. (Yanti Triguna dan Bq. Tri Ratna Erawati)

Web Analytics