Berita

Temu Wicara Pengkajian Sistem Pertanian Bioindustri Berbasis Kawasan Integrasi Tanaman Ternak di Lombok Tengah

Pin It

Salah satu kegiatan pengkajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTP NTB) tahun 2015 adalah pengkajian system pertanian bioindustri berbasis kawasan integrasi tanaman ternak di Lombok Tengah. Dalam rangka menyebar luaskan hasil pengkajian tersebut, BPTP NTB melaksakan kegiatan temu wicara di Desa Setanggor dan Tanak Rarang Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah pada hari Selasa 04/08/ 2015  Kegiatan betempat di halaman penggilingan padi milik salah satu petani setempat.

Kegiatan temu wicara dihadiri hampir 300 petani dan wanita tani wilayah setempat, SKPD Lombok Tengah, Komandan Kodim, Polsek dan tamu undangan dari berbagai instansi terkait.

Sebelum acara dibuka, terlebih dahulu dilakukan panen padi bersama secara simbolik pada lahan sawah milik kelompok, yang tak jauh dari tempat temu wicara diadakan. Padi yang dipanen menggunakan sistem penanaman jajar legowo 2 : 1.

Pada acara temu wicara tersebut, juga dilakukan penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian dari BPTP NTB kepada Kelompok tani “Metak Jati” yaitu Mesin Appo untuk processing kompos, timbangan gabah, mesin jahit karung gabah, pompa air, hand sprayer, mesin perontok padi, dan caplak legowo 2:1, yang mana alat-alat tersebut ditujukan untuk digunakan bersama oleh anggota kelompok.

Kegiatan temu wicara dipimpin langsung oleh Kepala BPTP NTB  Dr. Ir. Dwi Praptomo S, MS dengan narasumber dari berbagai instansi . Dalam kegiatan diskusi tersebut, salah satu petani mengeluhkan adanya permasalahan anjloknya harga gabah dan kedelai saat panen yang menyebabkan para petani mengalami kerugian, dan pertanyaan ini direspon oleh petugas dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).  Perwakilan dari Disperindag tersebut juga menyampaikan bahwa petani jangan segan-segan untuk melaporkan kepada petugas di dinas jika ada oknum-oknum yang berusaha mempermainkan harga produk pertanian, sehingga bisa langsung ditindak tegas. Kegiatan diskusi berlangsung tertib yang mana dalam bertanya lebih didominasi oleh para petani setempat, namun ada juga petani dari anggota kelompok tani lain yang menyampaikan saran dan harapannya agar kegiatan pengkajian sistem teknologi semacam ini dilakukan juga di daerah mereka.

Menutup kegiatan diskusi, Kepala BPTP NTB menghimbau kepada seluruh petani untuk terbuka dalam menerima inovasi teknologi yang diberikan, karena merupakan hasil pengkajian spesifik lokasi yang telah diuji coba hasilnya. Beliau mencontohkan tentang bagaimana pada jaman Bimas (Bimbingan Massal), petani menolak untuk menggunakan pupuk karena belum tahu manfaatnya, namun sekarang petani malah ketergantungan akan pupuk. Dengan demikian, harapan kedepannya petani mau menerima dan mengadopsi teknologi yang diberikan guna meningkatkan hasil usaha tani yang dilakukan dan tercapai kesejahteraan petani.

Selanjutnya sambutan Asisten II memberi semangat kepada petani agar tidak pesimis dalam menghadapi beberapa permasalahan seperti kekurangan air dan distribusi pupuk yang terlambat. Disampaikan pula bahwa para petani untuk tidak segan membangun komunikasi dengan dinas pertanian Kabupaten Lombok Tengah dalam menyampaikan permasalahan yang dihadapi di lapangan (usaha tani) dan menyampaikan apa saja kebutuhan mereka agar dapat dianggarkan  pada program bantuan sosial. Menutup pidatonya, Asisten II berharap petani lebih aktif dalam menyampaikan keluhan dan permasalahan melalui penyuluh pertanian yang ada di lapangan guna membangun pertanian daerah Lombok Tengah yang maju dan modern. (Rahmatullaila)

Web Analytics