Penggunaan Tenaga Kerja Off Farm dalam Usahatani

Parent Category: Artikel
Created: Friday, 05 July 2013 06:47
Published: Friday, 05 July 2013 06:47
Written by Farida Sukmawati M
Hits: 6748

Penggunaan tenaga kerja oleh keluarga petani di negara berkembang pada umumnya, tidak hanya bekerja untuk on farm, tetapi juga off farm dan non farm, terutama pada usahatani skala kecil (berdasarkan ukuran luas lahan atau jumlah ternak yang diusahakan). Penggunaan tenaga kerja berasal dari anggota keluarga petani  menjadi topik penting untuk dipahami karena mereka adalah sumber pendapatan bagi rumahtangga pertanian. Pertimbangan terhadap keputusan keluarga masih sering mengabaikan keterlibatan anggota keluarga dalam pasar tenaga kerja off farm.

Bekerja  di sektor  off farm bagi rumah tangga petani merupakan upaya mengatasi resiko kegagalan panen (on farm) dan berpeluang memperoleh tambahan pendapatan.  Faktor  variasi demografi  pada pasar tenaga kerja off farm, tergantung pada : umur, ukuran rumahtangga, pengalaman dan jumlah anak dalam keluarga.  Secara individu ketersediaan modal sumberdaya manusia dan upah marginal bekerja di off farm merupakan refleksi  dari pendidikan formal, umur dan pengalaman pada pekerjaan tertentu. Hal ini terkait dengan keputusan untuk bekerja di off farm, yang memperhitungkan alokasi waktu bekerja sehingga mendapatkan kepuasan, yang setara dengan tambahan penerimaan yang diperoleh keluarga. Kesempatan seorang petani untuk bekerja off farm juga ditentukan oleh kemampuan dan keahliannya.

Jika pendapatan yang diperoleh dari off farm lebih besar maka akan  menyebabkan meningkatnya ketergantungan pada pekerjaan tersebut.  Pendapatan off farm yang lebih tinggi akan mengurangi waktu yang dialokasikan untuk mengelola pertaniannya sendiri, sehingga akan menurunkan  produktivitas usahatani on farm (Rios et al., 2008). Kondisi ini juga dapat mempengaruhi tingkat efisiensi produksi pertanian; karena inefisien tidak hanya disebabkan oleh variasi input yang digunakan dalam proses produksi.  Penggunaan input tenaga kerja dan alokasi waktu bekerja di on farm yang tidak tepat bisa menurunkan produksi dan mempengaruhi tingkat keuntungan yang diperoleh.

Ukuran rumah tangga dapat mempengaruhi partisipasi dalam  pasar tenaga kerja dan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani mereka sendiri. Penawaran tenaga kerja sebagai buruh tani menjadi lebih tinggi.  Rumah tangga dengan tenaga kerja yang cenderung lebih tertarik bekerja di luar pertanian,  memiliki  produktivitas  rendah dan penghasilan rendah.  Persaingan dalam alokasi waktu untuk kegiatan pertanian yang disumbangkan oleh tenaga kerja rumahtangga, bisa mempengaruhi produktivitas usahatani.

Rumahtangga pertanian diasumsikan memiliki perbedaan pada spesifikasi tenaga kerja.   Sering terjadi diskriminasi terhadap perlakuan tenaga kerja wanita yang hanya bekerja pada on farm pada pertanian subsisten;  sedangkan pekerja pria mempunyai peluang yang lebih besar pada jenis pekerjaan yang lebih beragam, bisa bekerja di on farm sebagai pekerja tetap dan di off farm sebagai tenaga kerja temporer.  Alokasi penggunaan waktu, setiap anggota rumahtangga bisa memiliki peluang yang sama untuk memperoleh upah kerja, tergantung bagaimana mereka melakukan pekerjaannya  (Caillavet, 1994).

Sektor pertanian di negara manapun masih tetap memegang peranan  penting, karena sektor ini menghasilkan sumber pangan yang diperlukan oleh masyarakat, dengan berbagai struktur budaya dan tingkat perekonomiannya.  Kondisi saat ini di mana pertumbuhan dan perkembangan industri telah memberikan harapan perekonomian yang lebih menjanjikan dari sisi pendapatan; memiliki daya tarik bagi tenaga kerja.  Walaupun demikian tidak semua tenaga kerja dapat beralih ke sektor industri atau pekerjaan lain di luar pertanian. Dampak negatif di sektor pertanian bisa saja terjadi, akibat  terjadinya peningkatan  persaingan dalam penggunaan tenaga kerja antara on farm dan off farm, yang berasal dari rumahtangga pertanian.

Di satu sisi kita ketahui bahwa harga-harga produk pertanian tidak dapat dengan mudah dinaikkan terutama komoditi pangan pokok, sedangkan   rumahtangga tani membutuhkan income keluarga yang layak.  Ditambah lagi usaha pertanian yang kurang efisien akan menurunkan tingkat keuntungan;  ini akan semakin memperbesar peluang tenaga kerja berasal dari rumahtangga pertanian akan beralih ke pekerjaan off farm atau non farm.

PUSTAKA

Caillavet, F., Herve Guyomard, Robert Lifran. 1994.  Agricultural Household Modelling and Family Economics.  Elsevier.  Amsterdam-Lausanne-New York-Oxford-Shannon-Tokyo.

Goodwin B. K., dan Mashra, A.K. 2004.  Farming Efficiency and Determinants of Multiple ob Holding by Farm Oprators.  American Journal Agricultural Economic. Pp 722-729.

Rios, A.N.,  William A. Masters and Gerald E. Shively 2008. Linkages between Market Participation and Productivity: Results from a Multi-Country Farm Household Sample Department of Agricultural Economics Purdue University

Uaiene dan Channing, 2008.  Farm Household Efficiency in Mozambique. National Directorate of Study and Policy Analysis. Ministry of Planning and Development Republic of Mozambique

Web Analytics