Prospek Pengembangan Itik Pedaging di NTB

Pin It

Itik merupakan unggas yang sudah cukup dikenal masyarakat sebagai penghasil telur, bahkan dagingnya juga digemari oleh masyarakat luas yang bisa dinikmati di warung  “warteg” pinggir jalan sampai restoran.   Suplai daging itik relatif kurang dibandingkan dengan suplai telur itik.  Daging itik di pasar berasal dari pemotongan itik jantan yang digemukan atau itik betina yang sudah afkir karena produksi telurnya sudah menurun. Itik afkir jelas sudah berumur relatif tua. Ternak yang berumur tua, tekstur dagingnya lebih keras, namun demikian belum banyak peternak khusus itik pedaging seperti pada peternakan ayam pedaging (Broiler).  Itik pejantan yang diharapkan menjadi penghasil daging juga belum bisa diandalkan karena persentase jantan dari setiap penetasan hanya memiliki peluang 50 persen. Itik yang dikategorikan sebagai petelur memiliki karakteristik sesuai tipenya, bentuk badannya relatif lebih ramping dengan volume daging yang rendah.

Melalui perkembangan teknologi persilangan, telah dihasilkan beberapa alternatif ternak itik pedaging, itik dua tipe (petelur dan pedaging) untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur itik.  Beberapa jenis itik persilangan yang sudah dihasilkan oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi seperti itik Serati dan Itik MA (Mojosari-Alabio).  Itik lokal seperti Mojosari dan Alabio yang disilangkan menghasilkan itik MA yang dikembangkan di Balai Penelitian Ternak Ciawi berpotensi besar sebagai penghasil daging khususnya untuk itik jantan, dengan rataan bobot badan umur delapan minggu dapat mencapai 1.3 kg (Prasetyo, et al, 2005 disitasi Matitaputy, 2012).

Sayangnya masyarakat peternak terutama di luar pulau Jawa masih mengalami kesulitan untuk memperoleh bibit itik MA, karena memang belum diproduksi secara massal.  Mungkin juga masih perlu dilakukan pengamatan-pengamatan terhadap daya adaptasinya.  Sangat disayangkan apabila hasil tersebut tidak dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi persoalan produksi ternak itik yang berkualitas baik dan produksi tinggi.

Sebelumnya  daerah NTB cukup dikenal sebagai daerah produsen telur asin (itik),  dan menjadi salah satu bentuk oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Lombok, bahkan diperdagangkan  ke luar wilayah NTB.  Ada kriteria tertentu pada telur itik yang digemari yaitu cangkang (kerabang telur) berwarna kehijauan atau kebiruan.  Itik yang memiliki karakteristik telur seperti itu adalah itik Mojosari dan Itik Bali.  Namun kedua jenis itik ini kurang baik untuk menjadi pedaging karena umumnya unggas petelur ini memiliki bentuk tubuh yang ramping, tidak gemuk sehingga kualitas dagingnya relatif rendah.

 

Gambar 1. Perkembangan populasi ternak itik di NTB.

 

Kebutuhan daging itik di NTB yang terus meningkat, mendorong laju pertumbuhan populasi ternak itik, (Gambar 1.).  Populasi  ternak itik tahun 2010 mencapai 568.122 ekor (BPS, 2011).  Harga  itik dewasa rata-rata Rp 60.000/ekor (Disnak Prov. NTB, 2013). Jika bobot umur 8-10 minggu sebesar 1,3 kg dengan persentase karkas sekitar 50%, maka akan diperoleh karkas seberat 650 gr.

Penerapan teknologi diharapkan dapat memperbaiki penampilan itik lokal dalam hal produksi daging. Telah banyak  dilakukan perbaikan manajemen pemeliharaan seperti pemberian pakan seimbang sesuai kebutuhan ternak,  namun perbaikan genetik melalui seleksi dan persilangan masih jarang dilakukan terhadap itik-itik lokal, karena membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup mahal.  Menurut Noor (2008) disitasi oleh Matitaputy (2012), bahwa perbaikan genetik bisa relatif lebih efektif akan memberi dampak yang lebih permanen dibandingkan dengan perbaikan manajemen atau perbaikan pakan.

Itik Pedaging Unggulan Lokal, Itik PMp merupakan  itik tipe pedaging baru yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak di Ciawi-Bogor. Kombinasi genetis dari itik ini yaitu itik Peking dan itik Mojosari putih, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen penggemar daging itik. Harapan dari persilangan ini adalah untuk menghasilkan karkas ukuran sedang ataupun besar,  dengan kualitas daging itik yang tinggi.  Bangsa  itik ini  diharapkan dapat mengurangi penggunaan itik tipe petelur untuk memenuhi kebutuhan daging itik yang dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan genetis itik petelur akibat terjadinya pengurasan (pemotongan betina umur produktif, betina dan pejantan kualitas unggul).  Itik PMp memiliki warna bulu putih, warna kulit karkas bersih dan cerah, bobot badan itik MPp umur 10 minggu sekitar 2 -2,5 kg/ekor (Balitnak, Ciawi).

Ini merupakan potensi dan peluang yang menjanjikan bagi peternak itik untuk dapat mengembangkannya lebih lanjut, terutama untuk memenuhi kebutuhan bibit di daerah seperti yang sudah berkembang pada industri ayam. Perkembangan ayam pedaging yang begitu pesat karena ketersediaan industri perbibitan telah mampu memenuhi kebutuhan DOC final stock dan pakan berkualitas. Peningkatan permintaan akan  daging itik di pasaran, memerlukan pemenuhan melalui kesanggupan peternak untuk memproduksi ternak itik.  Ketidakmampuan memenuhi permintaan akan membuka peluang impor, yang akan merugikan peternak dan masyarakat semua.

 

Pustaka

BPS, 2011.  NTB Dalam Angka.  Badan Pusat Statistika Provonsi Nusa Tenggara Barat.

Disnak Prov. NTB, 2013.  Data Harga Komoditi Peternakan di NTB.

Prasetyo, H. 2012. Teknologi Pemuliaan untuk Peningkatan Produksi Itik. Poultry Indonesia.

Matitaputy, R. 2012. Peningkatan Performa dan Produksi Karkas Itik melalui Persilangan Itik Alabio dengan Cihateup.  Makalah Seminar Disertasi. IPB.

Web Analytics