Peran Penyuluh Dalam Upaya Meningkatkan Produktifitas Padi Mendukung Swasembada Pangan

Pin It

Dalam upaya swasembada pangan, Kementerian Pertanian menerapkan 4 startegi dalam meraih surplus beras 10 juta ton yaitu perbaikan manajemen, peningkatan produktifitas, perluasan areal, pengelolaan lahan, serta penurunan konsumsi beras (Sinar Tani Mei 2012).

Dalam 5 tahun terakhir menurut angka ramalan (ARAM) II Badan Pusat Stastik (BPS) komoditas padi meningkat  3,44%/ tahun dari 60,32 juta ton GKG pada tahun 2008 menjadi 68,96 juta ton GKG pada tahun 2012 (ARAM II) sedangkan laju peningkatan produktivitas mencapai 1,14%/tahun dan luas panen meningkat rata-rata 2,26 %/tahun, hal ini menunjukan arah pencapaian swasembada pangan padi. Target Kementerian Pertanian dalam upaya swasembada yaitu rata-rata peningkatan sebesar 3,4%/ tahun (Sinar Tani Desember 2012).

Peningkatan produktifitas padi tidak terlepas dari petani sebagai pelaku utama yang  memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan teknologi yang dibutuhkan dalam kegiatan usaha taninya, termasuk kegiatan pendampingan dan penyuluhan. Peranan penyuluh sangat penting dalam mengembangkan kemampuan petani, karena penyuluhan pertanian adalah suatu sistem pendidikan di luar sekolah untuk para petani dan keluarganya, sehingga secara khusus memiliki sifat tujuan sasaran struktur pelaksanaan dan pendekatan yang khusus pula (Padmanegara,1987)

Secara kelembagaan penyuluh pertanian mempunyai tugas dan fungsi penyuluh: 1) sebagai simpul komunikasi dan interaksi antara berbagai instansi, 2) mengembangkan kemampuan petani, 3) sebagai lembaga penyampai ilmu dan teknologi. Dalam hal ini  perlu ada upaya perbaikan manajemen penyuluhan untuk merubah perilaku petani yang menggunakan kegiatan usaha taninya secara tradisional, adanya upaya merubah perilaku petani, akan mempengaruhi produktifitas usaha tani padi.

Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran pelaksanaan pendampingan penyuluhan dalam upaya meningkatkan produktifitas  padi melalui studi pustaka.

 

Kegiatan yang diterapkan dalam meningkatkan produktifitas padi

Salah satu kegiatan yang mendorong peningkatan produktifitas padi adalah kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang dimulai sejak tahun 2008. Dalam SL-PTT petani dapat belajar langsung di lapangan melalui pembelajaran dan penghayatan langsung (mengalami), mengungkapkan, menganalisis, menyimpulkan dan menerapkan (melakukan/mengalami kembali), menghadapi dan memecahkan masalah-masalah terutama dalam hal teknik budidaya dengan mengkaji bersama berdasarkan kondisi spesifik lokasi.

Melalui penerapan SL-PTT petani akan mampu mengelola sumberdaya yang tersedia secara terpadu dalam melakukan budidaya di lahan usahataninya yang spesifik lokasi sehingga petani menjadi lebih terampil serta mampu mengembangkan usahataninya dalam rangka peningkatan produksi padi. Melalui SL-PTT diharapkan petani/kelompok tani nantinya akan mampu mengambil keputusan atas dasar pertimbangan teknis dan ekonomis dalam setiap tahapan budidaya usahataninya serta mampu mengaplikasikan teknologi secara benar sehingga meningkatkan produksi dan pendapatannya.

Namun demikian wilayah di luar SL-PTT harus tetap dilakukan pembinaan, pendampingan dan pengawalan sehingga produksi dan produktivitas tetap dapat meningkat, sehingga peranan penyuluh di lapangan sangatlah penting untuk membimbing dan mengarahkan petani agar lebih terampil dalam meningkatkan produktifitas padi.

 

Fungsi dan peranan penyuluh pertanian

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, di antaranya telah dicanangkannya Revitalisasi Penyuluhan Pertanian (RPP), yaitu suatu upaya mendudukkan, memerankan dan memfungsikan serta menata kembali penyuluhan pertanian agar terwujud kesatuan pengertian, kesatuan korp dan kesatuan arah kebijakan. Salah satu tonggak untuk pelaksanaan revitalisasi ini adalah telah disyahkannya Undang-undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) No. 16 Tahun 2006 pada tanggal 18 Oktober 2006. UU ini merupakan suatu titik awal dalam pemberdayaan para petani melalui peningkatan sumberdaya manusia dan kelembagaan para penyuluh pertanian PNS, swasta dan penyuluh pertanian swadaya

Didalam Undang-undang No 16 tahun 2006 yang dimaksud dengan penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas, efisensi usaha, pendapatan dan kesejahteraanya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pelaku utama dalam kegiatan pertanian adalah petani beserta keluarga intinya.

Hanafi (1986) menyatakan bahwa penyuluh pertanian berfungsi sebagi mata rantai, penghubung antara dua sistem sosial, yaitu pemerintah /dinas lingkup pertanian dengan masyarakat tani. Disamping itu peranan penyuluh sebagai guru pertanian, penasehat, penganalisis dan sebagai organisatoris, serta sebagai kawan yang memberi dorongan bekerja (Mosher, 1968).

Dari uraian tersebut terlihat jelas peranan penyuluh pertanian dalam meningkatkan produktifitas padi dengan melakukan proses pembelajaran kepada pelaku utama yaitu petani, agar mampu mengaplikasikan teknologi yang sesuai dengan spesifik lokasi melalui kegiatan SL-PTT padi ataupun diluar SL-PTT, dan sebagai penghubung antar pemerintah dan petani. Jika terjadi permasalah dilahan tempat menanam padi, petani biasanya akan berkonsultasi dengan penyuluh. Hasilnya akan disampaikan dan didiskusikan dengan pemerintah daerah, selanjutnya ke pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian untuk mengeluarkan   kebijakan.

 

Peran penyuluh untuk meningkatkan produktifitas padi

Menurut Mardikanto (1996), penyuluhan merupakan suatu sistem pendidikan di luar sekolah yang tidak sekedar memberikan penerangan atau menjelaskan, tetapi biasanya untuk mengubah perilaku sasarannya agar memiliki pengetahuan yang luas. Disamping itu juga memiliki sifat progressif untuk melakukan perubahan dan inovatif terhadap sesuatu (inovasi baru) serta terampil melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan produktifitas, pendapatan atau keuntungan, maupun kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Penyuluhan pertanian dilaksanakan untuk menambah kesanggupan para petani dalam usahanya memperoleh hasil-hasil yang dapat memenuhi keinginan mereka tadi. Jadi penyuluhan pertanian tujuannya adalah perubahan perilaku  petani, sehingga mereka dapat memperbaiki cara bercocok tanamnya, lebih beruntung usahataninya dan lebih layak hidupnya, atau yang sering dikatakan keluarga tani maju dan sejahtera.

Untuk mengefektifkan penyuluh, Kementerian Pertanian melakukan kegiatan demfarm yaitu demonstrasi yang dilaksanakan oleh beberapa orang petani dalam kelompok tani pada luasan hamparan 1-5 hektar dalam waktu bersamaan. Agar penyuluh pertanian handal dalam mendampingi petani dalam meningkatkan produktifitas padinya, perlu dilakukan peningkatan kemampuannya seperti mengikuti pelatihan dan magang teknik budidaya padi dengan teknologi terbaru spesifik lokasi.

Penyuluh pertanian dituntut menyampaikan pesan yang bersifat inovatif yang mampu mengubah dan mendorong perubahan perilaku petani sehingga terwujud perbaikan mutu hidup. Pesan yang disampaikan kepada petani dalam berbagai bentuk yang meliputi informasi teknologi, rekayasa sosial, manajemen, ekonomi, hukum dan kelestarian lingkungan.

Materi penyuluhan dibuat tidak hanya sekedar peningkatan produksi namun menyesuaikan dengan isu global yang lain, seperti upaya menyiapkan petani dalam mengatasi persoalan iklim global. Petani perlu dikenalkan dengan sarana produksi yang memiliki adaptasi tinggi terhadap goncangan iklim karena akan berpengaruh kepada rawan pangan dan pengurangan produktifitas padi. Selain itu materi penyuluhan perlu berorientasi pada teknik bertani yang ramah lingkungan, seperti penggunaan pupuk organik dalam meningkatkan produktifitas padi dan  mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Penutup

Peranan penyuluh sangatlah penting melakukan perubahan perilaku petani terhadap sesuatu (inovasi baru), serta terampil melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan produktifitas, pendapatan atau keuntungan, maupun kesejahteraan petani.

Dalam melakukan pembinaan, pendampingan, dan pengawalan terhadap program pemerintah untuk meningkatkan produksi padi, hal ini diperlukan ketrampilan, pengetahuan penyuluh terhadap teknologi spesifik lokasi dan kemampuan malakukan pendekatan dan komunikasi dalam hubungannya dengan petani. Sehingga target swasembada pangan, terutama padi bisa tercapai.

 

Sumber :

Syam A, Sutisna E, 1996. Dukungan BPTP Sulawesi Tenggara Dalam Penyelenggaraan Penyuluh Pertanian Di Sulawesi Tenggara. Prosiding Seminar Nasional dan Ekspose Hasil Penelitian. Kendari Sulsel.

 

Marliati, Sumardjo,  Asngari P, Tjitropranoto P , Saefuddin A,  2008. Faktor-faktor Penentu Peningkatan Kinerja Penyuluh Pertanian Dalam Memberdayakan Petani. Jurnal Penyuluh. IPB.

 

Inraningsih K S, 2010. Kinerja Penyuluh dari Prespektif Petani dan Eksistensi Penyuluh Swadaya Sebagai Pendamping Penyuluh Pertanian.PSEKP

 

Cia, Som, 2012. Penyuluh dan Peluangcapai Surplus Beras, Sinar tani edisi 16-22 Mei 2012 No 3457 Tahun XLII.

 

Echa, Tia, Cia, 2012. Menapak Titian Swasembada Pangan. Sinar Tani Edisi 26 Desember 2012 – Januari 2012 No 3488 tahun XLIII

 

Aninomus, 2013. Pedoman Teknis SL-PTT padi dan jagung tahun 2013. Kementerian Pertanian Direktorat Tanaman Pangan Jenderal Tanaman Pangan. Jakarta.

Web Analytics