Penerapan Teknologi dan Analisis Usahatani pada Laboratorium Lapang (LL) dalam Kegiatan SL-PTT Padi di Lombok Barat

Parent Category: Artikel
Created: Friday, 08 February 2013 10:16
Published: Friday, 08 February 2013 10:16
Written by M. Faesal Matenggomena
Hits: 6370

Pendahuluan

Tanaman pangan, khususnya padi merupakan tanaman pokok yang diusahakan oleh sebagian besar petani di Indonesia.  Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Dalam upaya memenuhi kebutuhan beras Penduduk Indonesia dan mengantisipasi krisis pangan, Kementerian Pertanian menargetkan swasembada pangan untuk komoditas padi, dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

 

Tabel 1. Target produksi padi di Indonesia tahun 2010 – 2014.

Komuditas

Tahun 2010

Tahun 2011

Tahun 2012

Tahun 2013

Tahun 2014

Rata-rata pertumbuhan pertahun

Padi

(juta ton)

66,47

65,72

67,82

72,06

76,57

3,64%

Sumber : Sinar Tani Desember 2012

 

Target Kementerian Pertanian untuk komuditas padi seperti pada tabel 1. rata-rata pertumbuhannya pertahun adalah 3,64%, dari tahun 2010 sampai tahun 2014. Untuk mencapai hal tersebut dilakukan upaya swasembada pangan, salah satunya dengan peningkatan produktifitas padi.

Untuk meningkatkan produktifitas padi dilakukan dengan mengitroduksi pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) yang diterapkan melalui rekayasa sosial Sekolah Lapang PTT Padi, dengan menerapkan inovasi teknologi yang lebih produktif dan efisien.

Sekolah Lapang PTT tidak terikat dengan ruang kelas, sehingga belajar dapat dilakukan di saung pertemuan petani dan tempat-tempat lain yang berdekatan dengan lahan usahatani. Dalam kegiatan SL-PTT terdapat satu unit Laboratorium Lapang (LL) yang merupakan bagian dari kegiatan Sekolah Lapang PTT, sebagai tempat bagi petani atau anggota kelompoktani untuk melaksanakan seluruh tahapan SL-PTT pada lahan tersebut. Luas satu unit SL-PTT adalah antara 10 - 25 ha, dan satu unit Laboratorium Lapang (LL) seluas 1 hektar.

Peningkatan produktifitas padi bisa terhambat di tingkat petani yang masih menggunakan pola lama dalam kegiatan usahatani, dengan tidak memperhatikan  teknologi terbaru yang berkembang.

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani pelaksana Laboratorium Lapang (LL) dengan luas lahan 1 hektar, dalam kegiatan SL-PTT padi dan menganalisa biaya dan pendapatan di tingkat petani.

 

Pengertian Dalam Kegiatan Usahatani  Padi

  1. Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani melalui perbaikan sistem / pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat spesifik lokasi.
  2. Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SL-PTT) adalah suatu tempat pendidikan non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahataninya menjadi efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan.
  3. Laboratorium Lapang (LL) adalah kawasan area yang terdapat dalam kawasan SL-PTT yang berfungsi sebagai lokasi percontohan, tempat belajar dan tempat praktek penerapan teknologi yang disusun dan diaplikasikan bersama oleh kelompok tani /  petani.
  4. Usahatani menurut Mosher (1968) merupakan suatu organisasi produksi, petani sebagai pelaksana untuk mengorganisasi lahan, tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lahan pertanian baik yang didasarkan  atas laba atau tidak.
  5. Petani adalah perorangan Warga Negara Indonesia beserta keluarganya yang mengelola usaha di bidang pertanian.
  6. Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dengan semua biaya yang dikeluarkan.

 

Metode Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan di Desa Gegelang Kecamatan Lingsar Lombok Barat, dengan malakukan wawancara dengan salah satu petani yang berhasil melaksanakan kegiatan Laboratorium Lapang (LL) di lahan sawah padi seluas 1 hektar, pada bulan nopember 2012. Data usahatani dalam kegiatan ini di analisis dengan menggunakan analisis biaya dan pendapatan.

 

Hasil Kegiatan Usahatani padi

1.  Persiapan lahan

Lahan yang akan digunakan dibajak menggunakan traktor secara sempurna, yakni dibajak 2 kali, digenangi air sampai lahan lunak dan berlumpur, kemudian diratakan.

2. Pemilihan benih

Agar didapat bibit tanaman padi sehat dilakukakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menggunakan benih bermutu atau berlabel
  2. Memisahakan benih yang berisi dari benih setengah berisi dalam air, benih yang kurang berisi akan mengapung diatas permukaan air.
  3. Benih yang berisi dibilas dan direndam dengan air selama 24 jam, setelah itu benih ditiriskan dan kemudian di simpan selama 48 jam.
  4. Persemaian

Penanaman bibit padi tidak terlalu rapat pada bedeng persemaian, selanjutnya dilakukan pemupukan dengan mengkombinasi pupuk kompos dengan pupuk kimia, pada saat pemindahan bibit dari persemaian kurang dari 20 hari, agar mudah dicabut dan diangkut tanpa menimbulkan kerusakan pada akar, disamping itu benih padi umur muda tidak mengalami stres.

3. Penanaman

Penanaman dilakukan 1 batang per rumpun dengan pola tanam secara tandur jajar dan jarak  tanamnya  25 x 25 cm.

4. Pemupukan

Cara pemupukan dilakukan menggunakan pupuk dasar dan pemupukan susulan pertama umur padi 20 hari setelah tanam, dan pemupukan susulan kedua umur padi 35 hari setelah tanam.

5. Pengairan

Pengairan dilakukan berselang 4 hari basah 3 hari kering, dari fase anakan maksimal (50 hari setelah tanam). Mulai fase pembentukan malai sampai pengisian biji, petakan sawah digenangi terus (50-85 hari setelah tanam), 10 -15 hari sebelum panen sawah dikeringkan.

 

Analisa Usahatani Padi dalam Kegiatan  Laboratorium Lapang (LL).

Biaya produksi dan pendapatan yang diperoleh oleh petani padi dalam kegiatan Laboratorium Lapang (LL),  dapat dilihat pada tabel 2 berikut;

Tabel 2. Biaya produksi dan pendapatan petani padi dalam 1 hektar lahan

No

Uraian

Banyaknya

harga satuan (Rp)

Jumlah (Rp)

1

Benih padi (kg)

10

6.000

60.000

2

Pupuk

 

 

 

 

Urea (kg)

250

1.800

450.000

 

NPK pelangi (kg)

100

2.350

235.000

 

SP36 (kg)

50

2.400

120.000

3

Obat-obatan

 


 

 

Virtako (100 ml)

2

150.000

300.000

 

Scor (100 ml)

2

40.000

80.000

 

Matador (250)

1

45.000

45.000

4

Tenaga kerja (orang)

 

 

 

 

Persemaian

2

Borongan

150.000

 

Bajak

2

Borongan

1.300.000

 

Tanam

20

Borongan

2.000.000

 

Pengairan

1

Borongan

500.000

 

Panen

15

Borongan

4.080.000

5

Total biaya Produksi

 

 

9.320.000

6

Penerimaan

10.000 (Kg)

4.100

41.000.000

7

Pendapatan bersih

 

 

31.680.000

8

R/C  rasio

 

 

4,4

Sumber : data primer yang diolah

 

Penggunaan biaya produksi yang digunakan untuk usahatani padi pada pelaksanaan kegiatan Laboratorium Lapang (LL) seluas 1 hektar sebesar Rp 9.320.000 dan pendapatan bersih yang diterima oleh petani Rp 31.680.000, sedangkan untuk kelayakan usahatani dapat dilihat dari R/C rasio sebesar 4,4 yang memberikan kelayakan pada usahataninya.

 

Kesimpulan

  1. Kegiatan usahatani padi pada pelaksanaan Laboratorium Lapang (LL) dalam kegiatan SL-PTT mencapai produksi sekitar 10 ton / ha
  2. Total biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani  dalam kegiatan usahatani sebesar Rp. 9.320.000
  3. Pendapatan bersih yang diperoleh oleh petani sebesar Rp. 31.680.000, dengan R/C rasio sebesar 4,4 dan sangat layak sekali untuk di usahakan.

Saran

Berdasarakan hasil usahatani dan kesimpulan dapat disarankan kepada petani agar mengikuti paket teknologi yang diterapkan pada lahan Laboratorium Lapang (LL) dalam kegiatan SL-PTT untuk meningkatkan produksi dalam kegiatan usahataninya, sehingga target swasembada pangan dapat tercapai.

 

Daftar Pustaka

Anonimus, 2010. Loparan Kegiatan Pemandu Lapang II SL-PTT Padi Tahun 2010. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi NTB. Mataram.

 

Echa, Tia, cia, 2012. Menapak Titian Swasembada Pangan. Sinar Tani Edisi 26 Desember 2012 – januari 2012 No 3488 tahun XLIII

 

Soemarno, 1996. Model Pengembangan sistem Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia. Risalah seminar nasional Prospek Pengembangan Agribisnis Kacang Tanah Di Indonesia. BALITKABI.

 

Aryawati S, Sutami NP. 2009. Analisis Usaha Tani Cabai Merah di Tingkat Petani.Bulletin Teknologi Dan Informasi Pertanian BPTP Bali. Bali

 

Anonimus, 2008. Pedoman Umum Sekolah Lapang PTT Padi. BPSDMP Pusat Penyuluh Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta.

Web Analytics