Dinamika Harga Ayam Potong Peluang Pengembangan Usaha Ayam Potong di NTB

Parent Category: Artikel
Created: Thursday, 19 July 2012 09:26
Published: Thursday, 19 July 2012 09:26
Written by Sasongko WR dan Farida Sukmawati M
Hits: 16984

Ayam sebagai sumber protein bagi manusia yang relatif mudah diperoleh, harganya relatif murah dibandingkan dengan bahan makanan hewani lainnya.  Ada dua jenis ayam potong yang menjadi penyuplai kebutuhan daging ayam di Nusa Tenggara Barat yaitu ayam Buras (ayam Kampung, ayam Arab) dan ayam Broiler. Harga ayam Broiler hidup Rp 16.000/kg, sedangkan dagingnya sekitar Rp 30.000/kg, harga ayam Kampung sekitar Rp 50.000/ekor.  Sedangkan harga daging ternak lainnya relatif lebih mahal seperti  daging sapi Rp 65.000 – 75.000/kg,  daging kambing Rp  50.000/kg, daging kerbau Rp 65.000 – 68.000/kg.

Industri perunggasan seperti ayam Broiler di NTB, telah cukup berkembang dan telah menerapkan manajemen agribisnis yang lebih maju dibandingkan dengan ayam Kampung yang masih pada level usaha peternakan rakyat.  Jelas sampai saat ini usaha ayam Kampung belum bisa bersaing dengan industri ayam Broiler dengan sistem “Contract Farming” bekerjasama dengan industri bibit (DOC) dan pakan (complete feed).   Kerjasama antara peternak dan perusahaan dalam bisnis ayam Broiler telah ditangani secara profesional mulai persiapan, proses produksi sampai pada pemasarannya.

Tulisan ini mencoba untuk  mengamati komoditi ayam potong (Brioler dan Kampung) pada sistem manajemen usaha yang berbeda.  Pada dasarnya keduanya memiliki kesamaan tujuan yaitu memproduksi ayam potong untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.  Seringkali kita mendengar  orang  mengatakan bahwa ayam Broiler memiliki kandungan lemak yang relatif lebih tinggi;  tekstur dagingnya relatif lebih empuk, namun konsumennya relatif terbatas.  Bagi yang berpantangan terhadap makanan berkolesterol tinggi, maka akan menghindarinya dan pilihannya tentu pada daging ayam Kampung dengan kandungan lemak lebih rendah.  Dari sisi kualitas jelas bahwa ayam Broiler lebih unggul, karena pertumbuhannya yang lebih baik, untuk mencapai berat badan potong 1,8 – 2,5 kg membutuhkan waktu relatif lebih singkat. Soal  rasa (taste) tergantung selera, walaupun sampai saat ini banyak masyarakat yang masih menggemari ayam Kampung.  Dapat disaksikan pada restoran-restoran yang menjual masakan dengan ayam Kampung seperti soto, ayam panggang (ayam bakar) dan pelecing ayam (khas Lombok).

 

Usaha Ternak Ayam Kampung dan Industri Ayam Broiler

Industri ayam Broiler dengan sistem agribisnis-nya memiliki kemampuan memasok kebutuhan daging ayam relatif lebih besar.  Produktivitasnya lebih tinggi dibanding ayam Kampung, untuk sampai pada finishing produk membutuhkan waktu hanya 1,5 – 2 bulan; ayam Kampung memerlukan waktu 6-12 bulan tergantung pada pemeliharaannya.  Usaha ayam Kampung sulit bersaing dengan industri ayam Broiler, walaupun dapat kita amati bahwa harga ayam Kampung lebih tinggi dibandingkan dengan  ayam Broiler.  Dalam keadaan hidup ayam Kampung harganya Rp 50.000 per ekor dengan berat badan sekitar 1 kg; ayam Broiler harga berat hidup sekitar Rp. 16.000 – 18.000 per kilogram, jika per ekor beratnya 2,5 kg (umur 40-45 hari) harga per ekornya Rp 40.000 - 45.000.  Akan tetapi jika dibandingkan  fisiknya,   ukuran ayam Broiler lebih besar dan harganya lebih rendah dibanding ayam Kampung dengan harga yang lebih tinggi namun ukuran tubuhnya lebih kecil. Perbedaan sistem manajemen pemeliharaan dan menajemen pemasarannya bisa menunjukkan bahwa industri ayam Boriler telah lebih efisien; dapat memproduksi skala besar dengan kualitas yang relatif sama sehingga harga menjadi lebih murah.

Di sini tidak dibahas mengenai biaya produksi masing-masing usaha, tetapi mari kita lihat bersama bagaimana prospek usaha di masa yang akan datang.  Ayam Kampung sebagai suatu usaha peternakan rakyat masih punya cukup peluang untuk bisa mengimbangi insdustri ayam Broiler, artinya petani atau peternak masih punya pangsa pasar ayam Kampungnya.  Bagaimana peternak bisa membangun sistem usaha bersama yang dapat menerapkan efisiensi usaha.  Jika menerapkan sistem manajemen seperti pada industri ayam Broiler maksudnya mulai dengan penyediaan bibit, penyediaan pakan lengkap sampai pada pemasaran; maka optimis setidaknya bisa menjamin usaha ayam Kampung dapat memberikan harapan sebagai sumber pendapatan peternak atau petani.  Kita ketahui bahwa masyarakat pedesaan dengan sumber penghasilan utama dari sektor pertanian, umumnya memiliki dan memelihara ayam Kampung, baik untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau sebagian dijual.

 

 

Fluktuasi Harga Ayam Potong

Kenaikan  harga Ayam Kampung cenderung cukup baik walaupun ada fluktuasi, tetapi relatif tidak terlalu besar.  Kenaikan harga pertahun rata-rata mencapai Rp. 3.600,- per ekor.  Ayam Broiler harganya relatif stagnan dengan kenaikan sangat rendah hanya sekitar Rp. 25,-  per kilogram berat hidup atau hanya sekitar  Rp. 66 per ekornya.

 

Pada Gambar 1. bisa dilihat bahwa fluktuasi harga ayam Broiler sangat besar; jika kita menghubungkannya dengan keterkaitan industri  perbibitan dan pakan yang merupakan industri multinasional, maka akan dipengaruhi oleh perubahan  perekonomian dunia. Harga ayam Broiler tahun 2008 merosot tajam harga rata-rata tahun itu sekitar Rp. 10.000 per kilogram hidup, sekitar 30% di bawah harga rata-rata.  Kita bisa menghubungkan dengan kondisi perekonomian dunia seperti harga bahan pakan ternak, harga minyak dunia, perubahan kurs dan lainnya.

Harga Daging Ayam Broiler

Khususnya dalam pemasaran daging ayam Broiler ada perbedaan yang cukup menyolok pada harga ayam hidup dan dagingnya. Kenaikan harga ayam Broiler hidup pertahun cenderung rendah, namun pada harga daging ayam Broiler justru sebaliknya; kenaikan harga per tahun  mencapai  Rp 1.500 per kilogram (Gambar 3.).  Kita ketahui bahwa pada pemasaran daging ayam Broiler, terdapat beberapa pihak yang berperan di antaranya pedagang pengumpul atau penampung,  jagal dan pedagang eceran di pasar.  Ada kontribusi penerapan harga yang bertingkat di setiap level. Sehingga ada perbedaan yang nyata pada kenaikan harga ayam Broiler hidup dan daging ayamnya.

Seperti halnya komoditi pertanian pada umumnya harga bulanan sangat fluktuatif ( Gambar 2).  Harga  ayam Kampung sangat fluktuatif (perbulannya) dalam setahun; pada awal kuartal pertama harga rendah di bawah harga rata-rata, kemudian meningkat tajam pada pertengahan kuartal kedua jauh di atas harga rata-rata demikian pada bulan-bulan berikutnya.  Dibandingkan dengan ayam Broiler terlihat perbedaannya  bahwa ayam Broiler relatif stabil.  Ini adalah kenyataan bahwa mekanisme pasar sangat mempengaruhi harga ayam Kampung. Panen bisa dikatakan musiman, artinya pasokan ayam Kampung di pasar umum bisa kurang atau berlebih tergantung pada situasi dan kegiatan sosial-budaya masyarakat atau petani. Hal ini menjadi bukti bahwa dengan manajemen sederhana pada usaha peternakan ayam Kampung harus selalu menghadapi kondisi seperti ini, dan tidak ada insentif yang bisa dinikmati oleh peternak ayam.  Selain itu kondisi demikian kurang menggairahkan bagi pelaku usaha ayam Kampung, karena makin rendah harapan memperoleh keuntungan usaha tersebut.

 

 

Perbedaan Manajemen

Pengaruh mekanisme pasar pada usaha ayam Kampung tentu akan memberikan dampak terhadap pendapatan peternak yang  hanya sebagai penerima harga (price taker).  Fluktuasi harga ayam Kampung terjadi karena perubahan kuantitas antara penawaran (supply) dan permintaan (demand) pasar.  Sebagaimana sifat komoditi pertanian umumnya yang inelastis, sehingga jika terjadi lonjakan penawaran maka harga akan turun pada titik yang lebih rendah. Mengapa demikian ? Ayam bukanlah bahan makanan pokok masyarakat, cukup banyak bahan pangan lain yang bisa men-substitusikan (sebagai bahan pengganti).

Industri ayam Broiler yang telah benar-benar eksis dalam bisnis, relatif bisa mengatur harga terutama jika perusahaan bisa menguasai pasar (cenderung hampir seperti monopoli). Apa yang terjadi jika perusahaan perunggasan (ayam Broiler) menurunkan atau menaikkan harga maka efeknya di pasar perunggasan akan sangat terasa. Perubahan stok ayam potong bisa berkurang atau berlebih, maka besar pengaruhnya terhadap keseimbangan harga ayam di pasar.  Tentu keadaan ini harus selalu mendapat pengawasan dari pemerintah, karena akan menyangkut pada kesejahteraan masyarakat sebagai konsumen dan peternak sendiri sebagai produsen.

Paradigma lama dari pembangunan peternakan yang berorientasi pada peningkatan produksi primer yang menganut pada teori ekonomi neoklasik (hukum Say’s) bahwa penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri (supply create its own demand).  Namun pada perkembangan sekarang paradigma tersebut ternyata memperlemah kedudukan peternakan, karena selera konsumen dapat mempengaruhi daya serap pasar. Sehingga seringkali terjadi kelebihan penawaran pada segmen pasar tertentu.  Pendekatan pada paradigma agribisnis yaitu “menghasilkan apa yang dibutuhkan pasar (konsumen)” atau pendekatan pada sisi penawaran (demand side approach) (Saragih, 2000),

Sebagai penutup mari kita renungkan bersama peluang-peluang pengembangan usaha ayam potong agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan atau penunjang pendapatan petani dapat melalui  kelembagaan yang bisa mendukung produksi dan pemasaran produk.  Upaya  yang bisa digunakan untuk menghadapi fluktuasi harga mengingat  peluang pasar yang masih terbuka bagi masyarakat yang ingin beternak ayam potong pada umumnya atau khususnya ayam Kampung. Perbaikan sistem manajemen usaha agar bisa membangun sistem agribisnis yang dapat memberikan dukungan bagi masyarakat peternak ayam potong. Yang belum terbangun adalah sarana penyedia bibit ayam Kampung berkualitas,  hingga membangun sistem pemasaran yang efisien agar dapat memberikan pendapatan yang layak bagi peternak.

Keberadaan ayam Kampung sebagai penghasil daging, juga perlu mendapatkan upaya-upaya pengembangannya termasuk upaya pelestariannya.  Ayam Kampung adalah salah satu plasma nutfah kekayaan negeri ini, yang memiliki keunggulan tersendiri; sampai saat ini harga ayam Kampung belum bisa tersaingi oleh ayam Broiler, sehingga memiliki segmen pasar sendiri.  Mengkonsumsi ayam Kampung menunjukkan status tersendiri bagi konsumennya; karena pada saat tertentu harga ayam Kampung relatif tinggi seperti menjelang hari Raya dan hari besar keagamaan lainnya.  Ini merupakan peluang-peluang usaha yang bisa dijajaki untuk menjadi prospek agribisnis di masa mendatang.

 

Pustaka

Saragih, B. 2000.  Agribisnis Berbasis Peternakan. Cetakan kedua. Pustaka Wirausaha Muda.  Bogor.

Sumber data : Dinas Peternakan Provinsi NTB dan Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Web Analytics