Fluktuasi Harga Sapi

Pin It

Latar Belakang

Pemasaran ternak sapi  seperti halnya pada komoditi pertanian lainnya akan menghadapi harga yang fluktuatif.  Fluktuasi harga adalah perubahan harga di atas atau di bawah harga  rata-rata per tahun. Perubahan harga ternak sapi secara  eksternal dipengaruhi oleh  sistem usahatani yaitu aktivitas usaha pertanian (khusunya tanaman pangan). Selain itu ada pengaruh sosial budaya seperti hari besar keagamaan (Idul Fitri atau Idul Adha), dimana harga sapi mengalami peningkatan, namun pada awal tahun ajaran baru  harga sapi mengalami penurunan.

 

Perubahan harga sapi di pasar dapat mempengaruhi keuntungan yang diterima peternak.  Pemasalahannya  apakah diperlukan adanya kebijakan pemerintah untuk hal ini?  Selama ini beragam sikap peternak dalam menghadapi fluktuasi harga tergantung pada tingkat keperluan petani atau peternak akan uang tunai, sehingga mereka harus menjual ternaknya dengan resiko harga rendah. Berdasarkan pada  pengalaman dan pengetahuan peternak mereka bisa saja berusaha menghindari resiko kerugian akibat fluktuasi harga dengan melakukan pengaturan produksi, pengaturan pemasaran, atau melakukan efisiensi.

 

Penawaran dan Permintaan menyebabkan Fluktuasi

Penawaran ternak sapi oleh produsen sapi (petani atau peternak); dan permintaan ternak sapi berasal dari : pedagang antar pulau, peternak sapi, pejagal sapi di RPH.  Fluktuasi harga ternak sapi terjadi karena adanya perubahan keseimbangan  jumlah permintaan dan penawaran ternak sapi di tingkat pasar.  Sugiarto dkk., 2005, menyatakan bahwa harga pasar suatu komoditas dan jumlah yang diperjual belikan ditentukan oleh permintaan dan penawaran dari komoditas tersebut.

Pada saat penawaran (supply) pada kondisi tetap, kemudian permintaan (demand) meningkat maka kurve permintaan akan bergeser dari D0 ke D1;   maka keseimbangan bergesar dari E0 ke E1.  Pergeseran keseimbangan menyebabkan terjadinya perubahan harga dari H0 ke H1. (Gambar 2, kiri).  Demikian pula jika terjadi penurunan permintaan maka akan menyebabkan terjadinya penurunan harga.

Jumlah permintaan yaitu banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar, dapat mempengaruhi harga.  Hukum Permintaan menyatakan bahwa “bila harga suatu barang naik maka permintaan barang tersebut akan turun, sebaliknya bila harga barang turun maka permintaan akan akan naik, dengan asumsi ceteris paribus (Putong, 2010).

Perubahan harga juga bisa terjadi karena adanya perubahan penawaran, sedangkan permintaan tidak mengalami perubahan (Gambar 3.). Jika penawaran meningkat (S1) maka yang terjadi adalah harga akan mengalami penurunan (P1);  demikian pula sebaliknya jika penawaran berkurang (S2)  maka harga akan mengalami peningkatan (P2) (Ilham, 2009).

Permintaan terhadap suatu komoditas ditentukan oleh : harga komoditas itu sendiri, pendapatan, jumlah yang diinginkan (yang diminta) dan ramalan di masa mendatang. Sedangkan penawaran ditentukan oleh : harga komoditas itu sendiri, biaya produksi, tingkat teknologi yang digunakan dan musim (Sugiarto, et al. 2005).

Konsep tersebut dalam teori ekonomi dapat terjadi jika harga sapi hanya dipengaruhi oleh besarnya penawaran dan permintaan, namun ada pengaruh lain yang menyebabkan harga tidak berpengaruh terhadap permintaan dan penawaran.  Pendapatan dan kebutuhan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi permintaan. pada saat harga tinggi, permintaan juga tinggi; keadaan demikian juga terjadi pada pemasaran ternak sapi.  Saat  panen padi (umumnya) : permintaan akan ternak sapi relatif tinggi walaupun dengan harga yang tinggi (karena penawaran tetap atau bahwa justru menurun jika tidak ada suplai dari luar wilayah).  Beberapa  saat kemudian permintaan kembali menurun setelah tercapainya pemenuhan kebutuhan sapi.  Keadaan ini menyebabkan harga sapi kembali mengalami penurunan sampai pada batas harga rata-rata (harga normal).

Untuk permintaan ternak sapi konsumsi daging sapi khususnya di NTB  relatif tidak dipengaruhi oleh harga ternak sapi, artinya fluktuasi harga ternak sapi tidak berpengaruh pada harga daging sapi.  Secara ekonomi untuk daging sapi bukan merupakan pangan pokok dan masih ada alternatif yang dapat mensubstitusi seperti daging kambing, ayam, ikan laut dan sebagainya.  Harga daging sapi akan naik jika secara umum terjadi inflasi khusunya untuk kebutuhan pangan secara nasional yang bisa disebabkan adanya kenaikan harga bahan bakar.

Harga  ternak sapi di pasaran  merupakan harga kesepakatan antara penjual dan pembeli.  Kelemahan  dalam sistem pemasaran ternak sapi adalah bahwa harga sapi sangat relatif berdasarkan kondisi ternak yang diduga secara kualitatif, di samping itu setiap pembeli memiliki pendugaan yang berbeda.  Penggunaan ukuran dengan satuan yang jelas (seperti kg untuk bobot sapi) masih belum difungsikan; maka keadaan ini makin menurunkan posisi tawar peternak; dan berkembangnya pedagang perantara yang makin memperpanjang rantai pemasaran.  Dengan menerapkan penggunakan timbangan terutama di pasar hewan dapat meminimalisasi praktek perantara, dan bisa menaikkan posisi tawar peternak.

 

Apa yang bisa dilakukan peternak?

Usaha peternakan umumnya akan berhadapan dengan berbagai resiko teknis seperti faktor lingkungan (iklim, curah hujan, kesuburan tanah) yang dapat mempengaruhi produktivitas.  Faktor internal seperti kualitas bibit ternak, manajemen pemeliharaan, juga berpengaruh terhadap produktivitas.  Secara ekonomi resiko yang dihadapi pada saat penjualan  produk adalah ketidakpastian harga, semua ini merupakan suatu ketidakpastian yang terjadi karena informasi yang tidak lengkap, dan seorang peternak harus menentukan keputusannya.

Untuk menghadapi ketidakpastian fluktuasi harga, peternak bisa meramalkan  harga berdasarkan pola fluktuasi yang terjadi sebelumnya, dan memperhatikan bahwa pengaruh faktor eksternal dan internal yang bisa memberikan kepastian terhadap produksi harus dapat dimaksimalkan.  Dengan demikian  peternak dapat tetap meraih keuntungan walaupun menghadapi peluang   harga tinggi, harga normal atau harga rendah. Meningkatkan produktivitas dengan menggunakan teknologi dan memperhatikan efisiensi menjadi upaya yang harus dilakukan. Mencari informasi teknis dan ekonomi seperti teknologi produksi, dan informasi pasar juga penting.  Bagi peternak skala kecil, menjalin kerjasama pemasaran perlu menjadi pertimbangan untuk memperkuat posisi tawar. Pengalaman beternak sebaiknya dapat dijadikan sebagai strategi untuk melakukan usaha beternak selanjutnya.

Efisiensi usaha bisa menjadi alternatif untuk mengatasi perubahan harga, artinya peternak perlu menerapkan strategi yang mempertimbangkan lama produksi (untuk penggemukan maupun pembibitan), biaya yang dikeluarkan dan harga jual minimal.  Selisih antara (kelebihan dari) harga pembelian dan penjualan bukan berarti keuntungan, tetapi harus diperhitungkan secara rinci segala biaya yang dikeluarkan, termasuk efisiensi penggunaan tenaga kerja, siklus produksi dan faktor produksi lainnya.

Penundaan penjualan ternak saat terjadinya harga turun, bisa jadi justru merugikan peternak karena harus mengeluarkan tambahan biaya input (pakan, tenaga kerja dan lainnya) disepanjang waktu penundaan.  Demikian  pula bisa terjadi kerugian  jika peternak menunda pembelian sapi bakalan atau bibit (untuk proses produksi berikutnya) dimana peternak akan kehilangan biaya input  yang sudah diinvestasikan seperti penyusutan kandang dan peralatannya atau sewa lahan untuk kandang dan tenaga kerja yang tersedia.  Oleh karenanya peternak harus memperhatikan dan menentukan keputusan berdasarkan  pertimbangan tersebut.

 

Kebijakan Pemerintah

Sementara ini harga ternak sapi di pasaran masih dipengaruhi oleh mekanisme pasar yaitu berdasarkan pada jumlah penawaran dan permintaan.  untuk mengatasi perubahan harga yang ekstrim, maka hal yang sekiranya bisa dilakukan oleh pemerintah adalah pengaturan terhadap distribusi ternak sapi. Distribusi yang merata diharapkan dapat meminimalkan terjadi perubahan harga yang sangat tinggi atau sangat rendah.  Harga tinggi akan mempengaruhi permintaan ternak sapi untuk konsumsi (daging sapi), sebaliknya harga sangat rendah merugikan petani atau peternak sapi.

Perlu diingat bahwa bagi petani atau peternak,  sapi merupakan bentuk investasi dan tabungan.  Khususnya ternak sapi (hidup) permintaan dan penawarannya bisa bersifat elastis atau inelastis pada kondisi tertentu; artinya pada musim panen permintaan meningkat walaupun harga pada saat itu relatif tinggi (di atas harga rata-rata), sedangkan pada musim tanam dengan penawaran yang relatif meningkat dan menyebabkan harga turun (di bawah rata-rata) namun permintaan rendah.

Besarnya perubahan harga akibat besarnya permintaan atau penawaran yang diukur menggunakan konsep elastisitas, dapat dilakukan untuk membantu peternak melakukan strategi usaha ternak mereka.  Namun ini membutuhkan data yang bisa diukur dan runtut dari waktu ke waktu. Diharapkan pada Dinas dan Instansi terkait dapat menyediakan data dan informasi yang bisa digunakan peneliti untuk melakukan suatu kajian sehingga dapat memberikan informasi kepada Pemerintah dalam menyusun suatu Kebijakan yang dapat membantu petani atau peternak sapi dalam mengembangkan usahanya sehingga tujuan Swasembada Daging Sapi Nasional dan Bumi Sejuta Sapi dapat meraih sukses.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ilham N. 2009. Kelangkaan Produksi Daging : Indikasi dan Implikasi Kebijakannya.  Analisis Kebijakan Pertanian. Vol. 7 No. 1 Maret 2009. : 43-63.

 

Mandaka S,  Hotagaol P., 2005. Analisis Fungsi Keuntungan, Efisiensi Ekonomi dan Kemungkinan Skema Kredit Bagi Pengembangan Skala Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat di Kelurahan Kebon Pedes, Kota Bogor. Jurnal Agro Ekonomi, Volume 23 No. 2, Oktober 2005 : 191-208.

 

Putong I. 2010. Economics. Pengantar Mikro dan Makro.  Mitra Wacana Media. Jakarta.

 

Sugiarto, Herlambang T. Brastoro, Sudjana R., Kelana S. 2005.  Ekonomi Mikro.  Sebuah Kajian Komprehensif.  Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Web Analytics