“CONTRACT FARMING” Sebuah Pemikiran Untuk Membangun Sistem Usaha Peternakan Sapi Potong

Parent Category: Artikel
Created: Friday, 27 April 2012 15:05
Published: Friday, 27 April 2012 15:05
Written by Sasongko WR dan Farida Sukmawati M
Hits: 6885

PENDAHULUAN

Permintaan daging sapi yang terus meningkat, yang tidak diimbangi oleh  upaya peningkatan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan akan menyebabkan ketergantungan pada daging impor. Perubahan  keseimbangan antara permintaan dan penawaran membuat fluktuasi harga. Ketika produksi daging sapi terbatas, permintaan meningkat maka akan terjadi kenaikan harga daging sapi nasional, namun ketika impor berlebihan maka harga daging sapi rendah.  Kondisi  demikian menjadi dilema bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan.  Harga daging sapi rendah menyebabkan pendapatan peternak sapi menurun; sedangkan harga daging sapi tinggi berdampak pada kemampuan konsumen untuk membeli daging menurun.

Sistem usaha peternakan sapi masih berada pada pola tradisional, berbeda dengan sistem usaha ayam potong yang telah lebih maju.  Jika kita memperhatikan perkembangan peternakan ayam potong atau petelur, fluktuasi harga produk relatif kecil sehingga perubahan harga tidak menyebabkan keresahan pada masyarakat.  Disamping itu produktivitas relatif lebih stabil, pola kemitraan yang telah dijalankan bersama antara perusahaan peternakan ayam potong maupun petelur dengan peternak sudah mengarah pada usaha komersil.  Kondisi demikian lebih memudahkan dalam mengelola sistem pemasaran, pola penawaran dan permintaan yang seimbang;  karena produktivitas ternak telah terukur dan pola permintaan pasar sudah bisa diprediksi.

Ketidakmampuan usaha ternak sapi dalam memenuhi permintaan bukan semata-mata dipengaruhi oleh rendahnya produktivitas ternak dari aspek teknis, tetapi iklim usaha yang kurang mendukung.   Kita ketahui bahwa hampir  seratus persen  sapi potong nasional dihasilkan oleh peternakan rakyat berskala kecil, dengan skala kepemilikan ternak hanya 2 – 25 ekor per peternak.  Permasalahan umum yang dihadapi peternakan sapi potong  saat ini  adalah sifat usaha yang individual dan parsial dengan berbagai kelemahan pada sistem usahanya serta keterbatasan sumber daya yang dimiliki peternak.

Perubahan  pola usaha dari tradisional menjadi usaha komersial yang berorientasi profit diperlukan institusi atau kelembagaan yang kondusif.  Sistem kontrak (contract farming) merupakan satu mekanisme yang bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan penghidupan petani kecil.  Belajar dari keberhasilan sistem ini pada ternak ayam potong dan petelur, maka petani kecil dapat merubah pola usaha mereka. Konsep  “contract farming” atau  kontrak kerjasama usahatani, diharapkan dapat  melibatkan usaha ternak skala kecil dalam kelembagaan yang kuat menjalin kerjasama dengan perusahaan, memperkuat sumber kapital melalui akses pada lembaga keuangan formal, dan membangun jaringan pemasaran hingga ada jaminan keuntungan.

KERANGKA PEMIKIRAN

Contract Farming (CF)

Definisi contract farming, secara umum merupakan penetapan aturan  yang mengikat antara dua pihak yang terdiri dari perusahaan pertanian (kontraktor) dengan petani secara perorangan (Catelo dan Costales, 2011). Rancangan institusi yang mempertimbangkan pemanfaatan fasilitas akses pasar, bersama dalam memasarkan input dan output secara kolektif, yang didukung oleh pemerintah dan swasta (Jabbar et al., 2007). Contract farming dalam bidang peternakan adalah kerjasama antara peternak dengan pihak kedua yang terjalin secara baik jika saling ketergantungan yang saling menguntungkan, mengurangi beban resiko yang selama ini hanya ditanggung oleh peternak. Mereka memiliki kepastian bahwa produk yang dihasilkannya akan dibeli. Dalam jangka panjang mereka juga memperoleh manfaat yaitu peluang kemitraan di masa depan serta akses terhadap program-program pemerintah (Daryanto, 2007) .

Potensi yang menguntungkan bagi Peternak

Bagi peternak kecil pemasaran hasil produk masih merupakan aspek penting yang membutuhkan penanganan. Peternak seringkali harus menerima resiko harga, fluktuasi harga ternak mempengaruhi kestabilan penerimaan, dan peternak dalam pemasaran adalah sebagai penerima harga (price taker).  Sistem  kontrak yang menjamin  pemasaran dapat  mengurangi biaya transportasi dan tidak ada pengeluaran biaya lainnya selama proses pemasaran.

Mengurangi resiko harga yang ditetapkan pasar  atau harga yang ditentukan oleh pembeli dilakukan dengan mencari informasi pasar yang lebih baik dan memiliki akses pasar yang pasti, dimana peternak dapat mengetahui kualitas dan kuantitas ternak sesuai permintaan pasar.  Perusahaan dapat mengintroduksikan bangsa ternak unggul dan transfer teknologi kepada peternak agar produk yang dihasilkan sesuai dengan permintaan pasar.  Dengan demikian insentif yang diterima lebih besar yang diperoleh dari efisiensi yang bisa diterapkan dengan harga pasar yang diterima.

Keuntungan yang diperoleh perusahaan

Sistem kerjasama memberikan keuntungan bagi perusahaan karena dapat menerapkan efektivitas biaya yang dikeluarkan.  Perusahaan dapat memproduksi ternak sesuai kebutuhan pasar tidak perlu membangun kadang, tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membayar tenaga kerja, tidak mengeluarkan biaya untuk pakan.  Kualitas yang dihasilkan konsisten karena ada jaminan kontrol dari kelompok tani.

Potensi kerugian yang ditimbulkan contract farming

Bagi Peternak. Contract farming berpotensi pada hubungan kerjasama yang kurang seimbang antara peternak dengan perusahaan.  Terjadinya monopsony karena penolakan produk oleh perusahaan, kurang transparan dalam menentukan harga produk. Oligopoli juga terjadi akibat ketidak seimbangan kontrak tersebut.  Kurang terjalin kepercayaan pada kedua belah pihak.  Ketergantungan yang berlebihan diciptakan oleh perusahaan dapat menyebabkan hutang peternak yang tidak mampu dibayarkan.  Hilangnya fleksibilitas dan peternak telah terperangkap dalam kontrak sehingga tidak memiliki kekuatan untuk berbuat banyak kecuali mengikuti kondisi, hal ini biasanya yang membuat peternak  menderita. Perbedaan penerapan pola usaha dimana perusahaan bersifat  komersial sedangkan peternak bersifat tradisional menyebabkan ketidak-amanan pangan.

Bagi  Perusahaan. Dalam penerapan sistem contract farming, perusahaan mengeluarkan biaya transaksi yang cukup besar untuk mencari dan memilih peternak yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh suatu usaha.  Selama kerjasama berjalan perusahaan juga dibebani biaya untuk monitoring.

Permasalahan lain yang terjadi dan merugikan perusahaan seperti peternak tidak mampu menghasilkan produk sesuai keinginan perusahaan, peternak tidak mampu mengembalikan pinjaman kredit dan lainnya yang diakibatkan oleh gagalnya produksi.  Perilaku buruk petani yang sering terjadi adalah penjualan produk yang dihasilkan peternak kepada perusahaan lain yang menjanjikan harga lebih atas fasilitas lainnya.  Untuk input yang disediakan perusahaan maka biaya yang dikeluarkan adalah menjadi beban perusahaan. Penyalah gunaan input atau kredit yang diberikan pada peternak untuk digunakan pada produksi lain.

Kelemahan-kelemahan di atas tentu bukanlah merupakan kendala yang menyebabkan timbulnya kerugian bagi salah satu pihak.  Ini juga bukannya suatu kondisi yang tidak dapat diatasi, tetapi dapat diantisipasi pada awal suatu kontrak kerjasama dilaksanakan.  Suatu kontrak tentu harus mendapatkan kesepakatan bersama sebelum dimulai, dan kedua belah pihak harus komitmen untuk melaksanakan.  Kedua belah pihak harus memiliki hak dan kewajiban yang seimbang, sehingga tidak ada yang merasa di rugikan di kemudian hari.

Beberapa hal penting dalam Contract Farming

Membangun kepercayaan. Dalam suatu contract farming membangun kepercayaan tidak mudah, karena ini menyangkut orang banyak yang bekerjasama secara kolektif untuk suatu tujuan yang sama.  Penyelewengan dan ketidakpuasan yang terjadi di antara mereka bisa saja terjadi kapan saja.  Jika sudah ada ketidakpuasan dan adanya bentuk penyimpangan atau pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai dalam kontrak, maka akan menimbulkan kecurigaan, yang menurunkan kepercayaan.  Ini akan menghancurkan sebuah kerjasama.  Membangun suatu kerjasama tidaklah sulit tetapi mempertahankan suatu kerjasama adalah tidak mudah.

Jaminan produksi.  Peternak sebagai produsen internal dalam suatu kerjasama harus dapat memberikan jaminan produksi yang memenuhi keinginan perusahaan mitra. Dengan demikian pihak perusahaan juga dapat menentukan harga yang tepat untuk produk tersebut dalam memasarkannya.  Banyak hal yang berpengaruh kuat terhadap harga produk di antaranya kualitas produk, biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk, biaya yang dikeluarkan selama proses pemasarannya dan pengeluaran lain seperti retribusi dan tax (pajak).

Skala ekonomis, menentukan besarnya produk yang dapat dihasilkan, penggunaan waktu produksi dan tingkat efisiensi yang bisa dicapai.  Pada usaha skala kecil, banyak ditemukan faktor-faktor produksi yang tidak dapat digunakan secara efisien.  Yang paling nyata adalah penggunaan waktu pada skala kecil mungkin dalam kurun waktu tertentu hanya menghasilkan satu produk, sedangkan dalam skala yang lebih besar kurun waktu yang sama bisa menghasilkan produk yang lebih banyak.

Pembagian beban resiko. Idealnya dalam suatu bentuk kerjasama maka pembagian beban  resiko haruslah berimbang, tidak ada yang merasa terbebani lebih besar.  Kalau biaya yang ditanggung lebih besar bukan berarti beban resikonya juga lebih besar.  Tetapi maksudnya resiko kerugian harus dibebani secara merata sesuai porsinya.  Dengan demikian pada saat terjadi kegagalan produksi maka tidak hanya peternak yang menanggung resiko tetapi harus menjadi beban perusahaan juga.

Kredit permodalan. Agar usaha ternak dapat berkembang menuju pada skala usaha yang ekonomis maka dibutuhkan sejumlah dana.  Peluang untuk mengakses modal bagi peternak peserta kontrak tentu lebih besar karena ada perusahaan yang bisa memberikan jamian kelancaran pengembalian.  Pemberian modal usaha dapat melalui sistem Kredit.  Sumber pendanaan adalah melalui perbankan yang biasanya telah memiliki akses dengan perusahaan sebagai kliennya.  Ini mempermudah petani-peternak  kontrak dapat mengakses permodalan lebih mudah.

Efisiensi input produksi. Umumnya dalam usaha peternakan input produksi seperti : pakan, obat-obatan dan bibit harus selalu tersedia.  Ini merupakan peran penting perusahaan untuk dapat melengkapi input dan memenuhi input yang dibutuhkan.  Dalam suatu usaha yang bersifat komersial maka akan berpandangan pada peningkatan produktivitas, menekan biaya serendah-rendahnya dan efisiensi terhadap penggunaan faktor produksi, tentu akan berpandangan inovatif.  Penggunaan teknologi penting bagi usaha, sehingga ini membutuhkan informasi teknologi, selanjutnya penyebaran teknologi baru dapat menggunakan  jasa penyuluhan dan kajian teknologi.

Pengawasan dan monitoring. Jalannya suatu usaha untuk menjamin kualitas dan kuantitas produksi senantiasa mendapatkan pengawasan dan monitoring, ini dimaksudkan jika ada suatu permasalahan seperti gangguan produksi dapat segera diperbaiki agar tidak berlanjut karena dapat menyebabkan kerugian.

Komitmen jangka panjang. Setiap usaha apapun bentuknya baik berupa kerjasama maupun perorangan berharap usahanya berjalan secara berkelanjutan.  Demikian pada usaha kerjasama perlu menjaga komitmen agar kontrak kerja dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Peran Pemerintah

Setidaknya untuk melindungi masyarakatnya dari hal-hal yang tidak diinginkan,  maka senantiasa  suatu kontrak kerjasama ekonomi yang melibatkan sebuah institusi dengan kelompok orang harus diketahui oleh badan hukum pemerintahan.  Jika pada suatu saat ada konflik atau perselisihan atau penyelewengan perjanjian maka pemerintah dapat menambil tindakan hukum dan dapat dilakukan secara tidak berpihak (adil).

Upaya pemerintah membangun perekonomian bangsa tentunya membantu masyarakat tidak hanya berupa materi yang diberikan secara langsung berbentuk bantuan permodalan atau bentuk lainnya, tetapi pentingnya kebijakan pemerintah untuk mempertimbangkan kelompok tani dan koperasi untuk meningkatkan posisi yang berperan dalam pembangunan perekonomian nasional. Meningkatkan posisi tawar peternak dalam memasarkan produknya dan iklim ekonomi yang mendukung usaha kecil sehingga mereka dapat menggunakan sumber  biaya secara efisien.

Kebutuhan modal bagi usaha kecil mandiri belum dapat dipenuhi dengan mudah oleh mereka.  Pihak lembaga keuangan formal cenderung mengkonsentrasikan dana mereka kepada perusahaan besar.  Walaupun Bank juga menyediakan kredit lunak bagi pengusaha menengah ke bawah tetapi tetap saja usaha kercil kesulitan mengakses karena tidak dapat memenuhi persyaratan utuk menjamin mereka mendapatkan modal usaha.

Pemerintah juga harus peka membaca peluang-peluang agribisnis baik nasional maupn internasional agar pelaku-pelaku agribisnis yang sebagian besar adalah petani – peternak kecil mampu berkontribusi walaupun tidak bisa dilakukan secara perorangan.  Banyak potensi yang bisa dikembangkan secara kolektif melalui bentuk kerjasama kemitraan agar bisa berkompetisi di pasar internasional.

Iklim usaha yang kondusif dimana pemerintah turut mendukung dalam pengembangannya akan merangsang pertumbuhan agro industry.  Kelembagaan yang dibentuk harusnya dari bawah, membiarkan petani atau peternak yang menentukan arah tujuannya dan membangun kelompoknya karena mereka yang paham akan kebutuhannya.  Pemerintah wajib menyediakan infrastruktur yang dapat mendukung segala kegiatan ekonomi masyarakat dalam pembangunan perekonomian nasional.

PUSTAKA

Cotelo, M.A.O., dan Achiles C. Castales, 2011. Contract Farming and Other Market Institutions as Mechanisms for Integrating  Smallholder Livestock Producers in the Growth and Development of the Livestock Sector in Developing Countries.  A Living from Livestock. Pro-Poor Livestock Policy Initiative. https://www.Google.com. di akses tanggal 6 Januari 2011.

Daryanto, A., 2007. Contract farming sebagai sumber pertumbuhan baru dalam bidang peternakan.  From the desk of Arief Daryanto.  WordPress.com weblog.  http:\\www.Google.com.  Diakses tanggal  4 Januari 2011.

Jabbar, M.A. Md Habibur Rahman, R.K.Talukder dan S.K. Raha, 2007. Formal and informal contract farming in poultry in Bangladeshhttps://www.Google.com. di akses tanggal 6 Januari 2011.

 

 

Web Analytics