Adopsi Teknologi dan Efisiensi Usaha Ternak

Pin It

Usaha ternak menjadi sumber pendapatan utama bagi peternak atau  pendapatan sampingan bagi petani. Sebagai pendukung usahatani,  ternak  juga dijadikan sebagai tabungan atau investasi, yang menyediakan biaya usahatani atau penunjang biaya hidup lainnya. Disamping fungsinya sebagai penunjang ekonomi keluarga petani, produk peternakan berguna dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga.  Melihat pentingnya ternak dalam kehidupan petani dan peternak, penting artinya ada upaya pemerintah untuk mengembangkan usaha ternak yang semestinya.

Perkembangan usaha ternak pada level petani, dihadapkan pada kendala yang cukup luas. Petani atau peternak belum sepenuhnya yakin untuk mau mengembangkan usaha ternaknya menjadi lebih bersifat komersial.  Pola pemikiran tradisional masih menyelimuti mereka, dalam pertanian tradisional kita tahu bahwa ternak berada dalam sistem usahatani,  petani melakukan usahatani terpadu antara tanaman dengan ternak.  Kedua tipe komoditas itu secara terpadu saling memberikan dukungan dalam memenuhi kebutuhan finansial maupun kecukupan pangan keluarga tani.  Pada perkembangannya komoditas tanaman pangan dan perkebunan telah beranjak lebih maju, sebagian sudah mengarah pada komersialisasi, namun tidak demikian dengan usaha ternaknya. Ketidak yakinan atas ketidak pastian harga jual ternak bisa jadi merupakan salah satu permasalahannya. Belum adanya ukuran formal yang digunakan untuk menentukan harga di tingkat petani, adanya fluktuasi harga, serta tambahan biaya transaksi dan transportasi; sehingga  peningkatan produktivitas belum sepenuhnya menjamin perolehan keuntungan yang memadai.

Teknologi peternakan cukup banyak tersedia, dan telah dikaji secara spesifik lokasi, artinya teknologi yang tersedia sudah cukup teruji untuk bisa diaplikasikan oleh petani atau peternak. Dari sisi ekonomi dalam upaya pengembangan usaha ternak, yang perlu dilihat adalah peluang adopsi teknologi bagi petani atau peternak.   Jika penerapan teknologi hanya mampu meningkatkan produksi dan produktivitas saja tidaklah cukup untuk meningkatkan daya adopsi. Oleh karena itu maka kita mencoba untuk mengamati dari tingkat efisiensinya.  Selama ini aplikasi teknologi cukup berhasil dari aspek teknis, artinya peternak mampu mengadopsi teknologi secara teknisnya tetapi belum diaplikasikan sepenuhnya secara kontinyu.  Pada hasil pengkajian telah diukur pula kemampuan teknologi dalam memberikan keuntungan; dengan mengukur benefit per cost ratio (B/C) atau revenue per cost ratio (R/C) dan menunjukkan kelayakannya. Kenyataannya pengukuran kelayakan usaha secara ekonomis tersebut belumlah cukup untuk mengukur kemampuan teknologi memberikan manfaat ekonomi yang sesuai dengan harapan peternak untuk mengadopsi teknologi.

Ketika petani diperkenalkan dengan suatu teknologi melalui pengkajian, mereka bisa mendapatkan manfaat pengetahuan dan membuktikan secara langsung atas keunggulan teknologi; namun setelah itu petani harus mempertimbangkan keuntungan yang bisa diperoleh. Keputusan terakhir berada di tangan mereka apakah teknologi akan diadopsi dan diaplikasikan dalam usaha ternaknya atau kembali pada eksisting teknologi. Pengkajian masih terbatas pada pengujian  teknologi yang  diterapkan petani, mengukur kemampuan pencapaian potensi produksi, dan memperhitungkan kelayakan usaha.  Seandainya masih ada hal yang tertinggal dalam pengamatan daya adopsi teknologi, menyebabkan seringkali teknologi tidak diadopsi atau ditinggalkan setelah beberapa kali dicoba oleh petani.

Potensi suatu teknologi dapat diaplikasikan oleh petani disebabkan beberapa hal di antaranya : secara teknis dibutuhkan peternak, mudah dilakukan, memberikan hasil yang lebih baik; secara sosial tidak bertentangan dengan budaya yang berlaku; secara ekonomis menguntungkan (pada harga yang mendukung), dan efisien.  Pada kesempatan ini kita fokuskan pada efisiensi usaha ternak terhadap suatu teknologi yang diadopsi.  Dalam pengkajian suatu teknologi belum banyak yang mengamati sisi efisiensi penggunaan teknologi.

Kemampuan teknologi dalam memberikan kontribusi secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rumahtangga tani tergantung pada tingkat pendapatan yang diperoleh dari usahatani dan surplus yang dihasilkan.  Tingkat pendapatan usahatani sangat ditentukan oleh efisiensi petani untuk mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki ke dalam berbagai alternatif aktivitas produksi.  Dengan demikian identifikasi efisiensi terhadap penggunaan sumberdaya merupakan hal penting dalam menentukan eksistensi berbagai peluang berkaitan dengan potensi (Weersink, Turkey & Godah, 1990 disadur oleh Adiyoga, 1999).

Konsep efisiensi dapat dipandang dari dua aspek, yaitu aspek teknis dan aspek ekonomis.  Tingkat pemakaian faktor produksi yang menghasilkan produk rata-rata maksimum.  Untuk menentukan tingkat efisiensi dan produksi optimum secara teknis ini cukup dengan diketahui fungsi produksi.  Dalam aspek ekonomis disebut juga efisien harga; pemakaian faktor produksi dikatakan efisien apabila dapat menghasilkan keuntungan maksimum (Soekardono, 2004).

Sejak dikembangkannya stochastic frontier production function (SFPF) oleh Aigner et al (1977) dan Meeusen and van den Broeck (1977), evaluasi terhadap efisiensi suatu usaha secara individual dan industri menjadi populer untuk meningkatkan ketersediaan data dan kemampuan komputer untuk menganalisisnya.  Ekonometrik, merupakan pendekatan untuk mengestimasi SPFP khususnya menentukan fungsi parameter produksi pada seluruh unit ekonomi dan komponen stochastic dari dua bagian error (Dhawan dan  Jochumzen, 1999).  Fungsi produksi frontier menggambarkan produksi maksimum yang dapat dihasilkan untuk sejumlah produksi yang dikorbankan.

Jika dalam suatu teknologi yang dikaji terdapat suatu input yang digunakan untuk menggantikan input eksisting yang sebelumnya telah digunakan, maka efisiensi input (teknologi baru) dapat digambarkan dalam Gambar 1.  Sepanjang garis cembung (determinant production) menunjukkan titik-titik efisien. Bila dalam  analisis menunjukkan penggunaan input Xi dan Xj menghasilkan produk yang berada di atas garis frontier ( Vi );    dan di bawah garis frontier    menunjukkan  bahwa kedua input belum berada pada titik efisiensi produksi.  Ada variable lain yang tidak teramati atau tidak tercantum dalam fungsi sehingga menggambarkan perbedaan tersebut.  Sejauh mana bisa diketahui tingkat efisiensi produksi salah satunya dengan metode Stochastic Frontier Production Function (Battese, 1991).

 

 

Jadi banyak hal yang dapat mempengaruhi tingkat efisiensi produksi pertanian tidak hanya disebabkan variasi input dalam proses produksi.  Penggunaan input (tenaga kerja, sarana produksi, waktu) yang tidak tepat bisa menjadi kurang efisien, produksi tidak mencapai titik frontier, bisa menyebabkan tingkat keuntungan yang diperoleh tidak maksimal.

Metode tersebut merupakan salah satu yang bisa digunakan untuk mengukur efisiensi yang bisa dicapai ketika petani mengadopsi suatu teknologi. Di samping kemampuan teknologi dalam meningkatkan produksi, dan penggunaan input produksi yang efisien maka akan semakin besar peluang untuk penggunaan teknologi secara berkelanjutan. Pengukuran ini diharapkan dapat melengkapi informasi atas keunggulan suatu teknologi yang diperkenalkan pada peternak dan petani umumnya, sehingga memperbesar harapan  teknologi dapat diaplikasikan.

 

PUSTAKA

Adiyoga,W., 1999.  Beberapa Alternatif Pendekatan untuk Mengukur Efisiensi dalam Usahatani.  Informatika Pertanian Volume 8.

Battese, G.E. 1991.  Frontier Production Function and Technical Efficiency : A Survey of empirical Applications in Agricultural Economic. Annual Conference of the Australian Agricultural Economics Society. University of New England, Armidale, 11-14 February, 1991.

Dhawan, R., dan Jochumzen P. 1999.  Stochastic Frontier Production Function with Error-In-Variables.  www.Google.com. akses 10 Juni 2011.

Masterson, T., 2007. Productivity, Technical Efficiency, and Farm Size in Paraguayan Agriculture.  Working Paper No. 490. The Levy Economics Institute of Bard College.  https://www.levy.org.

Soekardono. 2004.  Teori Ekonomi Mikro.  Pendekatan Grafis dan Matematis.  Laboratorium Sosial-Ekonomi.  Fak. Peternakan Universitas Mataram.

Web Analytics