Pentingnya Komoditi Hortikultura Sebagai Bahan Pangan

Pin It

Hortikultura merupakan komoditas yang akan memiliki masa depan sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia waktu mendatang. Oleh karenanya kita harus berani untuk memulai mengembangkannya. Bercermin pada kondisi saat ini dimana sebagian besar masyarakat Indonesia pada umumnya dan petani pada khususnya yang cenderung memandang sebelah mata pada komoditi hortikultura, sudah saatnya kita untuk memberikan perhatian dan memahami betapa pentingnya komoditi hortikultura tersebut. Sesuai dengan program utama Pemerintah Pusat dibidang pertanian yaitu pembangunan berkelanjutan, salah satunya dengan diversifikasi pangan yang tertuang dalam rencana strategi kementrian pertanian 2010-2014, maka pengembangan komoditi hortikutura tidak boleh diabaikan.

Pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional, sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Sifat khas dari hasil hortikultura yaitu tidak dapat disimpan lama, perlu tempat lapang (voluminous), mudah rusak (perishable) dalam pengangkutan, melimpah/meruah pada suatu musim dan langka pada musim yang lain, dan fluktuasi harganya tajam. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura agar pengembangan hortikultura dapat berhasil dengan baik (Anonym, 2010).

Buah dan Sayuran

Buah dan sayuran merupakan bagian dari komoditi hortikultura yang mengandung berbagai komponen penting yang tidak dapat disintesa dalam tubuh manusia dan tidak tersedia pada jenis bahan pangan lainnya. Oleh sebab itu ahli nutrisi selalu menganjurkan untuk mengkonsumsi menu makanan setiap hari dalam jumlah cukup yang mengandung buah dan sayuran segar. Kebutuhan vitamin, mineral dan serat kasar saat ini sangat mungkin hanya bisa dipenuhi dari bahan pangan berupa buah dan sayuran (Darius, 2009).

Provinsi NTB menduduki peringkat tertinggi dalam kasus kekurangan gizi berdasarkan data yang dirilis Kementrian Kesehatan pada acara sosialisasi kebijakan dan program kesehatan tahun 2011 di Lombok Barat. Tidak dapat dipungkiri bahwa kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi zat gizi (Karbohidrat, Lemak, Protein, Vitamin dan Mineral) menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut. Kelima zat gizi diatas bersumber dari tanaman pangan dan hortikultura. Kandungan Gizi yang terkandung dalam beras dan jagung tentu saja tidak cukup, oleh karenanya produk hortikultura sangat penting sebagai pelengkap, bahkan mungkin sebagai pengganti (substitusi). Misalnya saja pisang sebagai salah satu produk hortikultura memiliki kandungan karbohidrat hampir sama dengan padi (beras). Berdasarkan data yang dilansir dari USDA Nutrient database, masing-masing kandungan gizi padi (beras) dan pisang per 100 gr (3,5 oz) yaitu :

KANDUNGAN

PADI (BERAS)

PISANG

Energi

540 kj (130 kcal)

371 kj (89 kcal)

Karbohidrat

28,59 g

22,84 g

Gula

-

12,23 g

Diet serat

0,3 g

2,6 g

Lemak

0,21 g

0,33 g

Protein

2,38 g

1,09 g

Vitamin A equiv.

0 mg (0%)

3 mg (0%)

Thiamine (Vit. B1)

0,167 mg (12%)

0,031 mg (2%)

Riboflavin (Vit. B2)

0,016 mg (1%)

0,073 mg (5%)

Niacin (Vit. B3)

1,837 MG (12%)

0,665 mg (4%)

Asam pantotenat (B5)

-

(B5) 0,334 mg (7%)

Vitamin B6

0,05 mg (4%)

0,376 mg (28%)

Folat (Vit. B9)

2 µg (1%)

20 mg (5%)

Vitamin C

0 mg (0%)

8,7 mg (15%)

Kalsium

3 mg (0%)

5 mg (1%)

Besi

1,49 mg (12%)

0,26 mg (2%)

Magnesium

13 mg (4%)

27 mg (7%)

Fosfor

37 mg (5%)

22 mg (3%)

Kalium

0 mg (0%)

358 mg (8%)

Seng

0,42 (4%)

0,15 mg (1%)

Selain pisang, kentang juga merupakan salah satu sumber utama karbohidrat sehingga menjadi komoditi penting dan komoditi hortikultura yang paling berpeluang untuk pengembangan agribisnis dan agroindustri dibandingkan dengan komoditi hortikultura lainnya. Besarnya peluang ini disebabkan harga kentang relatif stabil. Cabe merah Besar (Capsicum annuum L.)  merupakan salah komoditi hortikultura yang memilki nilai ekonomi yanng tinggi. Cabai mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia. Cabai mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan radikal bebas. Kandungan terbesar antioksidan ini adalah pada cabai hijau. Cabai juga mengandung Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker (Anonym, 2010).

Tidak hanya dari segi kandungan gizinya, dari segi perdagangan komoditi hortikultura juga memegang peranan penting. Padi, jagung dan produk tanaman pangan lainnya memang tidak dapat dilepaskan dari petani kita karena produk tanaman pangan tersebut merupakan kebutuhan pokok, tetapi bukan berarti produk hortikultura tidak penting. Petani kecil menanam buah dan sayuran di pekarangan atau galengan sawah, untuk kebutuhan sendiri dan dijual untuk menambah pendapatan. Pemasaran komoditas hortikultura dimulai dari buruh panen, tengkulak desa, kecamatan, kabupaten, kotamadya, pedagang eceran, pedagang pasar dll, beribu-ribu, mungkin berjuta manusia tergantung hidupnya dari kegiatan perdagangan buah, sayuran, bunga potong, bibit dsb. Komoditas hortikultura menjadi komoditi perdagangan yang penting bagi sebagian besar rakyat kecil dan menengah di Indonesia (Darius, 2009).

Biofarmaka

Biofarmaka adalah tanaman yang berkhasiat obat. Tanaman biofarmaka sudah berabad-abad dikenal di Indonesia yang mempunyai khasiat jamu. Di harian Suara Merdeka edisi 26 November 2004 disebutkan bahwa Ekspor tanaman obat atau biofarmaka Indonesia ke berbagai negara di dunia hingga tahun 2004 telah mencapai 5,452 juta dolar AS dengan volume 9.149 ton. Komoditas yang diminati pasar ekspor antara lain jahe, kunyit, kencur, dan temulawak. Peningkatan angka ekspor biofarmaka terlihat pada tahun 1991 sebesar Rp 95,5 miliar, 1999 menjadi Rp 600 miliar, dan 2003 mencapai Rp 4 triliun. Hanya saja pengembangannya masih menjadi masalah karena masih sering tidak ditangani secara serius oleh pelaku utama, yakni petani. Selain itu jumlah tanaman biofarmaka masih terbatas karena hanya dibudidayakan sebagai tanaman hias dan perimbun halaman rumah.

Tanaman Hias

Tanaman hias tidak hanya indah dipandang mata,  ternyata tanaman ini bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit. Memang, usaha tanaman hias belakangan ini kurang menggiurkan. Namun, para pedagang dan pengusaha bisnis ini tetap mampu mendulang omset cukup tinggi.

Fenomena yang terjadi dilapangan, khususnya di Kabupaten Dompu, Sumbawa dan Lombok Timur Provinsi NTB yang sedang gencar-gencarnya mencanangkan program PIJAR (Sapi, Jagung Rumput laut), petani cenderung mengalihkan fungsi lahan yang semula digunakan untuk membudidayakan produk hortikultura seperti cabe, tomat dan sayuran lainnya pada musim tanam kedua dan ketiga menjadi lahan jagung. Bahkan tidak sedikit yang merubah lahan tanaman buah tahunannya seperti mangga menjadi lahan jagung. Hal ini mengakibatkan penurunan angka produksi komoditi hortikultura. Contoh kasus di Kabupaten Dompu terjadi penurunan angka produksi pada komoditi pisang yaitu dari 31,15 ton menjadi 16,30 ton, mangga dari 36 ton menjadi 10,20 ton, tomat dari 26 ton menjadi 16,8 ton dan cabe dari 161 ton turun menjadi 84,6o ton  (BPS, 2011). Masih banyak lagi komoditi hortikultura lainnya yang mengalami penurunan angka produksi, terutama biofarmaka yang mengalami pembongkaran total karna alur pemasarannya yang masih belum optimal sehingga mendorong mereka untuk menggantinya dengan jagung yang diperkirakan lebih menguntungkan.

Dari aspek sosiologi, dengan keberpihakan pemerintah pada program PIJAR cenderung berdampak pada semakin berkurangnya animo masyarakat pada komoditi hortikultura. Hal ini akan berpengaruh pada menurunnya kuantitas konsumsi keberagaman pangan dimasyarakat, terutama buah dan sayuran yang  merupakan sumber energi potensial bagi tubuh. Oleh karna itu dipandang perlu langkah-langkah antisipasi dan pengkajian lebih lanjut tentang pentingnya komoditi hortikultura sebagai bahan pangan substitusi.

Sumber :

Web Analytics