Usahatani Sapi Dan Dilema Ekonomi Peternak

Parent Category: Artikel
Created: Monday, 12 March 2012 14:02
Published: Monday, 12 March 2012 14:02
Written by Sasongko WR dan Farida Sukmawati M
Hits: 4603

Beternak sapi yang biasanya menjadi bagian dari kehidupan petani yang dilakukan secara turun temurun atau  warisan  orang tuanya.  Ternak sapi memberikan pendapatan untuk keluarga selain berfungsi sebagai tabungan dan investasi.   Peternak sebagai produsen sapi tidak selalu bisa memperoleh keuntungan yang layak atas pengorbanan yang telah dikeluarkannya.  Sapi harus dipelihara, diberi pakan, dijaga kesehatannya dan menjaga agar tidak hilang dicuri orang.

Perkembangan teknologi komunikasi saat ini telah memudahkan petani atau peternak untuk memperoleh informasi tentang budidaya ternak sapi. Teknologi yang dihasilkan oleh lembaga penelitian seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian dan lainnya dengan mudah dapat diunduh melalui jaringan internet maupun bentuk publikasi tercetak lainnya.  Tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata sudah lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya tidak menyulitkan bagi mereka untuk membaca, mendengar atau memahami teknologi agar dapat diaplikasikan. Teknologi secara teknis bisa diaplikasikan oleh petani atau peternak, namun ada faktor-faktor pembatas yang menyebabkan kemampuan mengadopsi rendah.

Permasalahan usaha ternak sapi bukan hanya pada keterbatasan pakan, sistem pemeliharaan yang kurang mendukung, atau kualitas bibit dan sebagainya yang terkait dengan produksi. Namun permasalahan lain yang sering muncul ketika akan menjual sapi. Peternak dihadapkan pada sistem pemasaran yang tidak efisien, karena adanya biaya transportasi, biaya transaksi yang tinggi, biaya retribusi di pasar hewan, biaya yang dikenai oleh kelompok peternak, atau biaya lainnya.  besarnya biaya-biaya tersebut dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh peternak, atau bisa menyebabkan kerugian.

Peternak hanya sebagai penerima harga (price taker) atau dalam dunia ekonomi dikatakan bahwa pemasaran komoditas pertanian umumnya bersifat sebagai pasar persaingan tidak sempurna.  Salah satu bentuk kongkritnya adalah informasi harga yang tidak jelas. Demikian pula yang terjadi dalam pemasaran ternak sapi, harga dipengaruhi oleh jumlah penawaran (supply) dan permintaan (demand) sapi di pasaran.  Inilah yang menyebabkan terjadinya fluktuasi harga ternak sapi di pasaran.  Ketika penawaran meningkat di saat musim hujan dimana petani membutuhkan biaya produksi untuk menanam padi misalnya, sehingga harus menjual sapinya, pada saat yang sama permintaan dalam jumlah tetap, maka harga cenderung menurun dari harga normal. Demikian sebaliknya ketika musim panen, banyak petani yang membeli ternak sapi untuk sebagai tabungan yang digunakan sebagai penyedia biaya produksi musim berikutnya.

Dampak fluktuasi ini bagi petani yang memiliki ternak sapi sebagai komponen usahataninya mungkin tidak dipersoalkan karena menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Namun mungkin tidak demikian dengan peternak sapi skala kecil yang mana beternak sapi adalah usaha utama  rumahtangga. Tentu sangat berat untuk menghadapi persoalan fluktuasi harga. Insentif yang diterima tidak pasti, bisa memperoleh keuntungan atau menerima kerugian.  Insentif yang rendah (keuntungan yang diperoleh rendah) dapat berpengaruh pada produktivitas ternak sapi secara keseluruhan. Produktivitas ternak sapi secara individu bisa dinyatakan relatif baik dengan melihat kemampuan reproduksi (calving interval, berat lahir atau berat sapih), pertambahan berat bahan harian (PBBH) dapat dilihat pada waktu pemeliharaan rata-rata yang singkat.  Produktivitas keseluruhan maksudnya tidak berkembangnya usaha ternak sapi di masyarakat petani atau peternak; terbukti dengan skala usaha yang tidak beranjak dari jumlah di bawah 5 ekor sapi per petani atau per peternak. Peternak masih meragukan untuk menjadikan ternak sapi sebagai usaha utama atau satu-satunya usaha yang dijalani.

Harga merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi penerimaan dan keuntungan yang diperoleh.  Fluktuasi  harga sapi terjadi secara periodik sepanjang  tahun, sementara  sistem rantai pemasaran  sudah cukup menekan keuntungan yang bisa diterima peternak,  karena keberadaan  para pedagang perantara.  Perubahan harga disebabkan keseimbangan  jumlah penawaran dengan permintaan.  Itu terjadi pada awal musim tanam, awal tahun ajaran baru, saat panen dan pada hari raya. Keadaan ini yang menjadi penyebab fluktuasi harga sapi di pasar lokal.

Ketika impor daging sapi terus meningkat, peternak harus menghadapi masalah baru.   Dampak yang dirasakan adalah turunnya harga ternak sapi lokal di pasar nasional.    Apakah kebijakan impor telah memberikan solusi yang baik bagi masyarakat luas dan  tidak ada pihak yang dirugikan?   Jika peternak mengalami kerugian, jelas akan menggangu produktivitas.  Swasembada daging sapi akan semakin jauh dari pencapaiannya.  Langkah yang cepat dan tepat yang harus segera diambil oleh pemerintah.  Program-program bantuan ternak saja tidak cukup, terbukti dengan kegagalan-kegagalan yang terjadi selama ini. Harus ada terobosan baru terutama di bidang  ekonominya. Modal memang dibutuhkan, tetapi bagian lain  seperti pemasaran dengan jaminan keuntungan yang bisa diperoleh peternak, dan beberapa alternatif lainnya; ini membutuhkan rancangan program jangka panjang. Insentif yang cukup dapat merangsang peternak untuk berproduksi lebih baik dan meningkatkan produktivitasnya; meningkatkan skala usahanya.

Peningkatan  pendapatan peternak tidak dapat tercapai dalam jangka waktu yang pendek, terbukti dengan seringkali suatu program mengalami kegagalan, karena evaluasi dan monitoringnya sebatas pada pelaksanaan program. Sudah saatnya mempertimbangkan pada penciptaan situasi ekonomi yang kondusif.  Bagaimana menciptakan kondisi perekonomian yang kondusif  yang mampu memberikan dukungan pada usaha ternak sapi.  Program agribisnis yang pernah dijadikan sebagai salah satu upaya membangun jaringan usahatani,  merupakan konsep yang cukup baik bahkan di negara maju sudah menerapkan dengan baik pada kalangan petani maupun peternak. Perlu dipelajari kembali kelemahan-kelemahannya untuk perbaikan sehingga program agribisnis dapat kembali dikembangkan secara lebih profesional dan berorientasi pada keuntungan serta jaringan usaha yang luas untuk menjamin efisiensi usaha. Di samping program juga perlu dukungan infrastruktur, dan menyiapkan komponen-komponen agribisnis seperti penyedia saprodi (pakan, obat-obatan), informasi teknologi, jaringan pemasaran dan jaminan terhadap akses pemodalan. Sistem ini bisa mengatasi masalah pemasaran, karena dapat memperbaiki sistem informasi pasar, efisiensi pemasaran (mengurangi biaya transortasi, biaya transaksi), adopsi teknologi menjadi lebih efektif, dan meningkatkan pendapatan peternak.

Dengan demikian tujuan swasembada daging sapi lebih jelas terbayang apa yang dapat dilakukan pemerintah sehingga dapat menyeimbangkan antara kepentingan nasional dan kepentingan masyarakat. Di satu sisi harga daging sapi diupayakan dalam kondisi stabil, untuk menjamin kesejahteraan konsumen; di sisi lain jaminan stabilitas harga ternak sapi untuk menjamin kesejahteraan peternak sapi.  Impor daging sapi dapat diatur dan dibatasi agar tidak mengganggu stabilitas harga ternak sapi dan harga daging sapi nasional.  Impor tidak selamanya memberikan dampak positif (pemenuhan kebutuhan daging dengan harga rendah), namun dampak negatif (menurunnya harga sapi nasional dan menurunkan produktivitas) perlu menjadi pertimbangan penentu kebijakan. Jika berlangsung terus maka swasembada daging sapi akan semakin sulit mencapai tujuannya. Mari kita pikirkan bersama apa yang perlu diperbuat, dan menyediakan program baru yang mendukung program-program yang sudah ada sebelumnya.

Web Analytics