Menanam Rambutan Dalam Pot Dalam Menunjang Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) Di Wilayah Perkotaan

Pin It

Balai Besar Pengkajian sedang mengembangkan kawasan rumah pangan lestari dengan tujuan sebagai display atau miniatur implementasi Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Selain telah dirumuskan dalam Raker BBP2TP pada bulan Mei di Solo, replikasi KRPL di setiap BPTP juga telah menjadi komitmen untuk dilaksanakan pada tahun 2011-2012.

Seperti yang pernah disampaikan oleh Dr. Yudi  Sastro (BPTP DKI Jakarta) pada pelatihan pembekalan penerapan RPL di BBP2TP bahwa konsep RPL sangat mungkin direplikasikan terutama di daerah perkotaan. Tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti  tanaman obat keluarga, cabe, selada dan pak coy dapat ditanam dengan cara vertikular (budidaya secara vertikal) dan pot plant (tanaman dalam pot).

Tanaman buah dalam pot (tambulapot) kini sudah tidak asing lagi bagi para pencinta tanaman. Aneka tanaman buah yang dulu hanya ditanam di halaman yang luas yang tingginya bisa mencapai 6.5-7,5 m, kini banyak ditanam orang dalam pot yang bisa dikerdilkan hingga tingginya hanya mencapai 2 – 3 m.

Jenis-jenis tanaman buah yang cocok dibudiyakan dalam pot adalah tanaman yang memiliki perakaran yang dangkal dan habitus yang tidak terlalu besar seperti rambutan, jeruk, belimbing, srikaya dan sebagainya.

Rambutan (Naphellium lappaceum) berasal dari Malaysia dan Indonesia merupakan salah satu jenis tanaman buah yang dapat ditanam dalam pot.

Varietas yang dipilih untuk ditanam dalam pot adalah varietas jenis Narmada dengan bibit rambutan setinggi 40 – 50 cm. Wadah tanam untuk tambulapot rambutan sebaiknya menggunakan wadah tanam berupa drum.  Drum ini harus diberi lubang-lubang kecil di bagian dasarnya, kemudian diberi ganjalan berupa batubata atau batako, sehingga pembuangan air penyiraman lancar.

Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah gembur, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 5 : 1 : 2 atau bisa juga campuran pupuk kandang, pasir, dan sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1.  Yang perlu diketahui, tabulapot sangat sensitif terhadap media tanam yang memadat, yang mengakibatkan daun cepat mengering lalu rontok. Oleh karena itu, disarankan menggunakan media tanam berupa pupuk kandang seluruhnya. Lebih baik lagi jika pupuk kandang tadi diberi insektisida Furadan 3 G sebanyak 100 grm per drum, ini untuk mencegah serangan hama.

Tahap-tahap Memasukan Pupuk Kandang Kedalam Drum

  • Pertama, masukkan pecahan batu bata ke dasar drum hingga mencapai seperempat bagian drum.
  • Di atas lapisan batu bata, isikan selapis ijuk atau humus atau daun-daun kering
  • Masukkan pupuk kandang hingga mencapai 2 cm di bawah bibir drum
  • Siram hingga cukup basah.

Cara Menanam Bibit dalam Pot

Siram media tanam dalam polybag, lalu sobek, dan keluarkan bibit bersama tanahnya. Bila akar, daun, dan cabang tampak panjang, sebaiknya dipangkas.

  1. Gali media dalam drum membentuk lubang. Sesuaikan ukuran lubang dengan ukuran perakaran bibit rambutan.
  2. Tambahkan pupuk NPK, dengan perbandingan 15 : 15 : 15, sebanyak 100 grm, lalu aduk-aduk hingga merata.
  3. Masukkan bibit ke lubang dalam drum. Pelan-pelan, tekan tanah pada bagian pangkal bibit pelan-pelan.
  4. Siram sampai cukup basah.
  5. Untuk sementara waktu, beri tutup kantung plastik transparan dan letakkan di tempat yang teduh. Jika sudah tumbuh tunas-tunas baru, singkirkan tutupnya.

Tips Perawatan

Faktor  perawatan kerap diabaikan. Padahal, sangat penting dan menjadi kunci keberhasilan penanaman tabulapot rambutan.

Perawatan apa saja yang harus kita lakukan ?

  • Penyiraman

Di musim kemarau, penyiraman sangat perlu. Jika memakai air PDAM, yang biasanya mengandung kaporit, sebaiknya endapkan dulu semalam, dan baru esoknya disiramkan. Namun, usahakan benar-benar jangan sampai air siraman menggenang lebih dari 12 jam. Genangan air bisa merangsang timbulnya penyakit busuk air.

  • Penggemburan

Usahakan media tanam tidak memadat. Pemadatan media biasanya terjadi karena penyiraman yang berlebihan. Selain itu, lakukan penggemburan dengan menggunakan sekop kecil. Hati-hati, jangan sampai merusak akarnya.

  • Pemupukan

Meski media tanam menggunakan pupuk kandang, pupuk organik masih diperlukan. Sampai umur 2 tahun, setiap 4 bulan, tambahkan NPK (15 : 15 : 15) sebanyak 25 gram per drum. Sejak umur 3 tahun dan seterusnya, setiap drum diberi 100 gram NPK  (15 : 15 : 15). Caranya, benamkan pupuk NPK sedalam 10 cm, lalu siram hingga cukup basah.

  • Pemangkasan

Pemangkasan tabulapot rambutan di samping untuk membentuk habitus (kanopi) tanaman agar tampak pendek, juga agar cabang dan pertumbuhannya seimbang. Pemangkasan perdana dilakukan saat tanaman berumur kurang dari setahun, atau tinggi batang sekitar 75-100 cm dari permukaan drum. Cara pemangkasan adalah, untuk pemangkasan perdana, pilih 3 cabang primer. Bila panjang cabang primer mencapai 50 cm, pangkas ujungnya hingga tumbuh cabang-cabang sekunder. Pilih hanya tiga cabang sekunder per cabang primer. Selanjutnya, pangkas ujung cabang sekunder sampai tumbuh cabang tersier, dan pilih hanya tiga cabang tersier. Nah, dari ketiga cabang tersier inilah akan terjadi pembungaan dan pembuahan.

  • Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman yang di budidayakan dalam pot lebih di tekankan pada pengendalian mekanis, tetapi secara lengkap pengendaliannya adalah :

Hama

  • Kutu Putih (Cacao mealybug)

Gejala : kerusakan secara langsung dengan menghisap cairan tanaman, dan pada tingkat kerusakan berat dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman serta menimbulkan kerontokan buah muda.

Pengendalian :

Cara mekanis : pemangkasan dan sanitasi

Cara Biologi : pemanfaatan musuh alami seperti semut hitam, dan cendawan parasit Empusa fresenii, predator Cryptoleamus.

Cara Kimia    : gunakan insektisida Lebacyd 550 dengan konsentrasi 0,2 %

  • Penggerek buah (Acrocercops cramerella)

Gejala : Larva penggerek akan membuat lubang di bawah kulit buah dan meninggalkan kotoran. Kadang-kadang larva masuk lebih dalam lagi  ke daging buah, bahkan sampai ke dalam biji. Serangan larva tidak tampak dari luar dan baru dapat diketahui setelah buah dikupas

Pengendalian :

Cara mekanis  : melakukan pemangkasan dengan tujuan memutus siklus hidup  hama.

Cara biologi     : Pemanfaatan musuh alami seperti laba-laba sebagai predator telur dan pupa.

  • Hama Tirathaba (Tirathaba ruptilinea)

Gejala : Tirathaba ruptilinea dikenal sebagai perusak pembungaan dan pembuahan. Rusaknya daun muda dan pangkal bunga akibat digerek oleh Tirathaba.

Pengendalian :

Cara mekanis : kumpulkan daun dan bunga yang terserang untuk dimusnahkan dengan cara di bakar.

Cara biologi : pemanfaatan musuh alami antara lain lalat Tachnidae (Argyroplax basifulva), Venturia sp. (Ichneumonidae), Apanteles tirathabae (Braconidae) dan Telenomus tirathabae (Scelionidae).

Cara kimia : Semprot dengan Insektisida dengan Diazion 60 EC kosentrasi 0,5-0,2% /liter

  • Ulat daun (Hyperaeschrella insulicola)

Gejala : Larva memakan daun rambutan hingga tanaman menjadi gundul dan meranggas, terutama pada larva instar 3 dan 4

Pengendalian :

Cara Teknis : Sanitasi kebun. Pemupukan tanaman. Pemberian air pengairan (apabila memungkinkan)

Cara biologi : Gunakan musuh alami semut merah

Cara mekanis : Pengumpulan larva, pra-pupa dan pupa serta memusnahkannya (dikubur/dibakar). Pengasapan/pengoboran untuk mengusir ngengat yang hinggap di pohon dan membunuh larva.

Cara kimia : Penggunaan insektisida racun kontak atau racun perut, dengan menggunakan alat aplikasi skid power srayer atau pengabut panas (fogger). Penyemprotan insektisida diusahakan pada larva instar 1-3.

  • Ulat daun (Tarsolepis sommeri)

Gejala : defoliasi (daun gundul).

Pengendalian :

Cara mekanis : Pengasapan di bawah pohon untuk mengusir imago (serangga dewasa).

Cara kimia : Penyemprotan dengan insektisida efektif dan diizinkan Menteri Pertanian.

Penyakit

  • Embun Tepung (Oidiumnephel ii)

Gejala : Bagian daun terdapat tepung berwarna abu-abu

Pengendalian :

Teknis : Menggunakan varietas yang tergolong tahan terhadap penyakit ini, yaitu Sibabat.

Cara mekanis : Pemangkasan dan sanitasi lalu dimusnahkan dengan cara dibakar.

Cara kimia : Gunakan fungisida berbahan aktif benomil seperti Benlate

  • Jamur Upas (Upasia Salmonicolor)

Gejala : Cabang/ranting banyak yang layu, timbul benang cendawan seperti sarang laba-laba

Pengendalian :

Teknis : Pemangkasan dan sanitasi kebun.

Cara mekanis : Jika cendawan sudah mencapai stadium kortisium, sebaiknya cabang dipotong lebih kurang 30 cm di bawah bagian yang kulitnya sudah membusuk

Cara kimia : Gunakan Fungisida seperti bubur kalifornia.atau Bordox.

  • Benang putih (Marasmius sp.)

Gejala : Cabang/ranting banyak terdapat benang putih. Daun yang mati tidak langsung rontok melainkan tergantung dengan benang putih

Pengendalian :

Teknis : Pemangkasan dan sanitasi

Cara kimia : Gunakan Fungisida seperti benlate atau Cupravit sesuai dosis yang dianjurkan

  • Busuk Buah (Glicophalotric humbulbilium)

Gejala : Buah yang masih kecil menjadi hitam dan rontok

Pengendalian :

Teknis : Pemangkasan dan sanitasi kebun.

Cara kimia : Gunakan fungisida berbahan aktif karbendazin dengan kosentrasi 4 cc/liter air.

Perlakuan pascapanen : Mencegah adanya pelukaan pada waktu panen dan pengangkutan.

  • Kanker batang (Dolabranepheliae Boot & Ting)

Gejala : Batang utama kulit pohon banyak terdapat kudis

Pengendalian :

Teknis : Mengerok batang yang terserang kudis

Cara kimia : Gunakan karbol atau deterjen secukupnya

Pemanenan

Buah rambutan dalam pot dapat dipetik setelah matang pohon atau umur 120 hari setelah antheis (bunga mekar), panen dilakukan dengan memotong tangkai rangkaian (tandan) buah, tentu saja hasil buahnya tidak sebanyak rambutan yang ditanam langsung di tanah.

Sumber :

Web Analytics