Budidaya Tanaman Jabon (Anthocepalus cadamba) Untuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat

Pin It

Kerusakan lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim global, salah satunya disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang cukup tinggi, sehingga permintaan akan tempat tinggal dan bahan pangan semakin tinggi tetapi daya dukung lingkungan untuk peningkatan produktivitas tanaman semakin menurun.

Selain kebutuhan pangan, kebutuhan kayu juga tiap tahun mengalami peningkatan. Kayu saat ini merupakan barang/komoditas yang sangat penting dan memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Sebagian besar barang yang dipergunakan manusia sehari-hari terbuat dari kayu, seperti: bagian dari rumah (pintu, jendela, atap), kertas, perabot rumah tangga, korek api dll. Oleh karena itu kayu memiliki prospek dan pangsa pasar tinggi.

Beberapa jenis tanaman penghasil kayu saat ini antara lain : jati, sengon, gaharu dll, akan tetapi semakin hari produksi kayu semakin menurun sedangkan permintaan semakin tinggi. Beberapa spesies tanaman penghasil kayu sekarang ini semakin banyak dikembangkan diantaranya Kayu dari tanaman jabon.

Pohon Jabon (Anthocepalus cadamba) merupakan jenis pohon cepat tumbuh yang saat ini sedang banyak dikembangkan, seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, dan sebagian kecil Jawa Tengah yang sedang gencar memproduksi tanaman tersebut karena potensi yang begitu besar dari tanaman tersebut.

Tetapi tidak semua petani mau menanam tanaman ini dikarenakan belum mengetahui perawatan dan pengelolaannya, serta yang paling penting pemasaran ketika tanaman tersebut siap panen.Pemasaran memang terlihat sulit bagi beberapa petani yang belum mengetahui secara penuh tentang tanaman ini, termasuk ketersediaan bibit yang masih langka.

Deskripsi

Jabon termasuk dalam famili Rubicaea, di NTB tanaman ini dikenal dengan nama gumpayan, kelapan, mugawe, sencari. Tanaman ini dapat tumbuh di dataran rendah sampai 1000 dpl, memerlukan iklim basah sampai kering. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 45 m dengan panjang batang bebas cabang 30 m, diameter sampai 160 cm, batang lurus dan silindris, bertajuk tinggi dan cabang mendatar.

Jabon berbuah setiap tahun pada bulan Juli-Agustus, termasuk buah majemuk bentuk bulat dan lunak, mengandung biji yang sangat kecil, buah yang berukuran sedang dapat menghasilkan sekitar ± 8.300 pohon, biji yang telah dikeringkan dan disimpan pada tempat yang tertutup rapat pada tempat yang sejuk dapat bertahan selama 1 tahun.

Ciri umum tanaman ini adalah warna kayu teras berwarna putih semu-semu kuning muda, lambat laun menjadi kuning gading, kayu gubal tidak dapat dibedakan dari kayu teras, dengan tekstur kayu agak halus sampai kasar dan arah serat lurus tapi kadang-kadang berpadu, dapat digunakan untuk bahan bangunan non kontruksi, meubel, dan bahan plywood (kayu lapis).

Keunggulan

Jabon merupakan salah satu jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 0 – 1000 m dpl. Saat ini Jabon menjadi andalan industri perkayuan, termasuk kayu lapis, karena Jabon memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman kayu lainnya termasuk sengon/albasia. Kemampuan tumbuhnya sepadan dengan sengon/albasia apabila mendapat perawatan yang optimal. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan, tanaman jabon dapat diuraikan dari beberapa hal, yaitu :

  • Diameter batang dapat tumbuh berkisar 10 cm/th
  • Masa produksi jabon yang singkat hanya 4 – 5 tahun
  • Berbatang silinder dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus
  • Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok sendiri (self pruning).

Tanaman jabon termasuk tanaman kayu yang mampu tumbuh dengan cepat, kecepatan tumbuhnya menyamai tanaman sengon, bahkan jika mendapat perawatan yang baik jabon pertumbuhannya lebih cepat dari sengon.

Budidaya

Tanaman jabon termasuk jenis tanaman yang mudah untuk dibudidayakn, hal yang dilakukan pada budidaya tanaman jabon adalah :

  1. Pengolahan tanah

Jabon termasuk tumbuhan perintis , sehingga meskipun tanpa pengolahan tanah jabon bisa tumbuh dengan baik, tetapi hasil tanaman lebih baik yang menggunakan pengolahan tanah.

  1. Penyemaian benih

Benih jabon yang diperoleh dari tanaman yang berbuah, ditabur pada media pasir halus, sebaiknya dengan menggunakan wadah plastik yang telah dilubangi bagian bawahnya. Penyiraman dilakukan dengan memasukkan bak ke bak lain berisi air sehingga air merembes dari bawah. Setelah daun berukuran ± 1 cm2 dipindahkan ke polybag yang telah diisi media (tanah: kompos) dengan perbandingan 2:1.

  1. Penanaman

Jabon tidak menuntut syarat tumbuh yang tinggi, tapi untuk investasi sebaiknya ditanam pada media yang subur dan drainase yang baik.

Jarak tanam 2 x 2m atau 5 x 5m tergantung tujuan penanaman, murni/tumpangsari. Lubang tanam 30 x 30 x 30 cm atau 40 x 40 x 40 cm tergantung kondisi tanah. Kompos 0 - 5 kg dicampurkan dengan tanah galian lubang tanam kemudian digunakan untuk menimbun lubang setelah penanaman. Pupuk dasar NPK 0 - 100g per lubang tanam diberikan pada musim hujan (Desember – Januari).

  1. Pemeliharaan

Bibit jabon yang masih muda rawan terhadap serangan uret yang memakan akar dan mematikan bibit. Jabon juga dapat terserang ulat daun, meskipun tidak mematikan tanaman tapi mengurangi laju pertumbuhan tanaman karena memakan daun. Penyiangan tanaman jabon dilakukan 3-4 kali per tahun dengan membersihkan secara lajur. Jika tajuk sudah bersentuhan secara rapat atau untuk memperoleh pendapatan awal, maka penjarangan dapat dilakukan.

Nilai Ekonomi

Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara benar dan serius. Asumsi biaya budidaya jabon per Hektar dengan jarak tanaman 4x4 m ±Rp. 20 juta. Asumsi pendapatan dengan jarak tanam 4x4 m dihasilkan ± 625 pohon dengan masa panen 5-6 tahun diameter batang ± 50 cm. Tinggi tanaman ± 13 m, mendapatkan volume kayu ± 1.600 m3. Harga per m3 ± Rp 1,2 juta, sehingga penghasilan yang diperoleh : Rp 1.920.000.000,-/Ha.

Web Analytics