Potensi Kemangi (Ocimum americanum L.) Sebagai Pestisida Nabati

Pin It

Kesadaran masyarakat akan dampak negatif pestisida kimia terus berkembang. Oleh karena itu, untuk mengatasi dampak negatif penggunaan pestisida kimia, seperti pencemaran lingkungan (tanah dan air), imunitas hama, dan terjadinya ledakan hama maka diperlukan kebijakan perlindungan tanaman/pengendalian organisme penggangu tanaman (OPT) yang mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Konsep ini memadukan satu atau lebih teknik pengendalian yang harus memenuhi persyaratan keamanan/ramah lingkungan dan efektif tanpa adanya efek samping serta dapat menjamin pertanian berkelanjutan. Penggunaan pestisida nabati merupakan salah satu solusi terbaik untuk mengatasi dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia. Pestisida nabati mempunyai beberapa keunggulan antara lain: murah dan mudah dibuat sendiri oleh petani, relatif aman terhadap lingkungan, tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama, kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain dan menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu pestisida kimia. Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik. Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu :

  • merusak perkembangan telur, larva dan pupa.
  • menghambat pergantian kulit.
  • mengganggu komunikasi serangga.
  • menyebabkan serangga menolak makan.
  • menghambat reproduksi serangga betina.
  • mengurangi nafsu makan.
  • memblokir kemampuan makan serangga.
  • mengusir serangga.
  • menghambat perkembangan patogen penyakit.

Beberapa contoh bahan baku pestisida nabati antara lain: Tembakau, Kenikir, Pandan, Kemangi, Cabe Rawit, Kunyit, Bawang Putih, Gadung, Sereh dll. Kemangi merupakan salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yang sangat berperan dalam mengendalikan hama kutu dan ulat.

Di Indonesia terdapat beberapa jenis kemangi yang mempunyai nilai ekonomis penting dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai penghasil minyak atsiri yang digunakan untuk obat-obatan, pengharum, bumbu, dan bahan baku pestisida nabati dengan klasifikasi ilmiahnya. Kemangi merupakan tanaman semak perdu yang tumbuh liar dan berpenampilan cukup rimbun. Tanaman ini memiliki bunga berwarna putih batang halus dengan daun pada setiap ruas, daun berwarna hijau muda dengan bentuk oval antara 3-4 cm (panjang), memiliki aroma yang khas dengan tinggi tanaman antara 60–70 cm dari permukaan tanah, selain memiliki bunga, kemangi juga memiliki biji dengan ukuran 0,1 mm. Kemangi dapat tumbuh di semua wilayah Indonesia, tumbuhan ini banyak dijumpai di daerah dataran rendah hingga ketinggian 1.100 m dari permukaan laut, kemangi dapat tumbuh pada tanah yang memiliki pH antara 5-7, pada kondisi tanah yang masam kemangipun dapat tumbuh dengan baik.

Tanaman kemangi berdasarkan senyawa utama (bahan aktif) dalam minyak yang dimilikinya, maka dapat dibedakan menjadi 4 tipe yaitu: (1) tipe Eropa (methyl chavicol, linalool), (2) tipe Reunion (methyl chavicol, camphor), (3) tipe methyl cinnamate, dan (4) tipe eugenol (eugenol). Senyawa methyl eugenol tertinggi terdapat pada tipe eugenol yang berfungsi sebagai penarik (atraktan) lalat buah (B. Dorsalis) senyawa utama tersebut mampu menarik hama lalat buah jantan masuk ke dalam perangkap. Selain berperan sebagai atraktan, pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan cara yang sangat sederhana yaitu dengan mengumpulkan daun kemangi segar, kemudian dikeringkan. Setelah kering, baru direbus sampai mendidih, lalu didinginkan dan disaring. Hasil saringan siap diaplikasikan sebagai pestisida untuk pengendalian hama dan ulat di areal pertanaman, untuk hasil yang lebih optimal dengan memanfaatkan campuran bahan baku pestisida nabati sebagai berikut:

Bahan :

  • Tembakau 100gr
  • Kenikir 100gr
  • Pandan 100gr
  • Kemangi 100gr
  • Cabe rawit 100gr
  • Kunyit 100 gr
  • Bawang Putih 100gr
  • Aquadestilata 1 lt
  • Decomposer BSA (mikro organisme pengurai) 1-2 cc
  • Gula pasir 2 sendok makan.

Cara Pembuatan :

  • Semua bahan di blender dan di tambah 1lt air suling
  • Masukkan ke dalam botol yang steril
  • Tambahkan gula pasir 2 sdm
  • Tambahkan Decomposer BSA 1-2 cc
  • Tutup dan biarkan 1 minggu supaya terjadi fermentasi
  • Kemudian di saring.
  • Siap dipergunakan

Pengaplikasian /dosis pemakaian :

  • 60 cc untuk 1 lt air
  • Disemprotkan ke tanaman yang terkena hama pada daun dan batangnya
  • 1 minggu 1 kali, atau tergantung intensitas serangan
  • Pencairan 1lt harus habis 1kali pemakaian.

Dari hasil penelitian lainnya dengan pengaturan pola tanam kemangi dengan kubis mampu menurunkan intensitas serangan hama Plutella xylostella dan mampu meningkatkan produksi tanaman kubis secara organik. Tanaman kemangi tidak hanya baik untuk pertumbuhan tanaman kubis namun juga berperan menekan populasi hama Plutella xylostella. Hal ini disebabkan karena kemangi mengandung fenol (tynol) yang cukup tinggi mencapai 22,9-65,5 mg/g berat kering yang mampu berfungsi sebagai repellent dan anti mikrobial. Dengan kemampuannya menekan populasi hama maka kemangi menyebabkan tanaman kubis tumbuh dengan baik, dan tidak menganggu pertumbuhan tanaman.

Kebutuhan bahan baku cukup melimpah di alam dan sangat murah. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi baik melalui penyuluhan maupun pelatihan dan demplot sebagai upaya untuk menyebarkan informasi tentang potensi suatu bahan ekstrak tumbuhan sebagai pestisida nabati dengan menggalakkan dan mengembangkan teknik ekstraksi sederhana yang dapat dilakukan oleh petani untuk mengendalikan hama secara individu dan kelompok. Selain itu, dukungan pemerintah melalui kebijakan yang mengarah kepada pemanfaatan pestisida nabati untuk keperluan pengendalian hama, terutama pada sistem pertanian organik juga sangat diperlukan sehingga masyarakat dapat terlindungi dari residu pestisida kimia. (Sumber : Berbagai sumber di internet)

Web Analytics