Produksi Biomas Kelor (Moringa Oleifera) di Lahan Kering, Beriklim Kering

Pin It

Indonesia memiliki banyak potensi keanekaragaman hayati yang sebelumnya terbukti telah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita. Salah satu tanaman yang bisa dimanfaatkan dengan baik dan banyak tumbuh serta mudah dibudidayakan di Indonesia; diantaranya tanaman Kelor (Moringa oleifera, Lamk). kelor termasuk tumbuhan perdu yang dapat memiliki batang 7 – 11 meter. Kelor (Moringa oleifera) dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 m dpl. Pohon Kelor tidak terlalu besar, batang kayunya mudah patah dan cabangnya agak jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur (oval) dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai.

Budidaya tanaman kelor (Moringa oleifera) memerlukan pemeliharaan yang sangat minimal dan dapat tahan pada musim kering yang panjang, cepat tumbuh, berbungga dan dapat menghasilkan buah satu tahun sejak ditanam. Tanaman kelor ini dapat tumbuh baik di daerah yang beriklim tropis, yaitu di negara Afrika dan seluruh Asia dan salah satunya di negara Indonesia. Karena kemampuan tumbuh yang cukup baik dan cara budidaya yang cukup mudah yaitu dengan biji atau stek maka tanaman kelor ini dapat dibudidayakan di semua daerah di Indonesia. Salah satu sifat yang menguntungkan untuk membudidayakan pohon kelor ini, yaitu minimnya penggunaan pupuk dan jarang diserang hama (oleh serangga) ataupun penyakit (oleh mikroba) (Winarno, 2003). Pada tanaman ini dalam umur 3 tahun akan menghasilkan 400-600 polong setiap tahunnya dan pohon dewasa menghasilkan 1600 polong (Fuglie, 2001). Produksi biomas tanaman kelor sangat dipengaruhi oleh musim, tinggi pemotongan dan interval pemotongan.

Interval pemotongan sangat berhubungan erat dengan produksi, nilai nutrisi, potensi pertumbuhan kembali, komposisi botani dan daya tahan hijauan.

Kematangan atau umur panen salah satu faktor yang penting dan mempengaruhi nilai gizi. Umur pemotongan pada saat tua kualitas gizinya menurun dibanding umur pemotongan pada saat muda. Sedangkan pemotongan pada saat terlalu muda akan mempengaruhi pertumbuhan kembali (regrowth) (Anan,2010).

Interval pemotongan tanaman kelor dapat dilakukan setiap 6-12 minggu, sedangkan pemotongan pertama dilakukan setip 10-20 minggu. Produksi biomas tanaman kelor kurang lebih dapat mencapai 20 ton bahan kering/ha/tahun, pada daerah kering beriklim kering (www.nurahmadhan.blogspot.com). Kelor dapat mempertahankan produksi biomas tinggi pada musim kering.

Kelor tahan terhadap pemangkasan berat dan tumbuh dengan cepat setelah pemangkasan. Kelor dapat mempertahankan produksi biomas tinggi pada musim kering.

Web Analytics