Nilai Nutrisi Kelor Sebagai Pakan Ternak Sapi

Parent Category: Artikel
Created: Monday, 14 March 2011 19:07
Published: Monday, 14 March 2011 19:07
Written by Achmad Muzani dan Tanda S. Panjaitan
Hits: 10004

I. Latar Belakang

Kelor (Moringa oleifer. Lam) merupakan tanaman asli Asia dan dipercaya berasal dari daratan India, Pakistan dan Afganistan. Di beberapa negara, tanaman kelor diolah dalam bentuk makanan seperti: tepung daun kelor, bubur, sirup, teh daun kelor, sauce kelor, biskuit kelor dan lainnya. Di Indonesia penggunaannya di beberapa daerah baru sebatas sebagai sayuran dan belum banyak masyarakat yang mengatahui penggunaan kelor sebagai pakan ternak.

II. Kandungan Nutrisi Kelor

Kelor dikenal dengan berbagai nama, masyarakat Lombok Utara menyebutnya maronggek, masyarakat Bima menyebutnya parongge dan masyrakat Timor menyebutnya marongga, sedangkan rumpun melayu menyebutnya kelor. Penggunaan kelor sebagai pakan ternak sudah banyak dilakukan di negara lain.

Dengan tingkat kemampuan memproduksi hijauan yang tinggi, kelor dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pakan baru terutama untuk ternak sapi, kerbau, kambing dan domba di daerah Nusa Tenggara. Apalagi kandungan nutrisi kelor tidak kalah dengan jenis tanaman hijauan legume pohon yang banyak digunakan sebagai pakan ternak di Nusa Tenggara Barat seperti Gamal (Glircidia sepium), Lamtoro (Leucaena leucocephala) dan Turi (Sesbania grandiflora) (Tabel 1). Selain itu beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kelor mempunyai kandungan asam amino yang lengkap, vitamin yang lengkap dan dengan kandungan mineral yang tinggi.

Tabel 1. Nilai nutrisi daun kelor, gamal, turi dan lamtoro

Komposisi*

Kelor

Gamal

Lamtoro

Turi

Bahan Kering (%)

25

22

25

25

Protein Kasar (%)

26

24

26

28

Ekstrak Ether (%)

6,5

6,0

-

-

Total Abu (%)

12

8

11

10

Hemi/Selulosa (%)

15

24

-

-

NDF (%)

29

39

34

30

ADF (%)

14

26

23

24

*Data dikumpulkan dari berbagai sumber ; NDF = Neutral Detergent Fibre

Daun pohon yang memiliki kandungan NDF yang rendah biasanya mempunyai tingkat kecernaan yang tinggi. Data di atas menunjukkan bahwa kandungan NDF pada kelor cenderung lebih rendah mengindikasikan daun kelor lebih mudah dicerna dibandingkan dari daun hijauan pohon legume lainnya.

III. Kelor Sebagai Pakan Ternak Sapi

Daun hijauan pohon legume seperti Turi, Gamal dan Lamtoro umumnya diberikan pada ternak sebagai pakan tambahan. Kelor dengan kandungan nutrisi yang tinggi berpotensi digunakan sebagai pakan tambahan di daerah tropis dengan musim kering yang panjang seperti sebagian besar daerah Nusa Tenggara Barat, ternak seringkali mengalami kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang panjang karena kualitas rumput yang ada sudah menurun, menyebabkan rendahnya produktivitas ternak. Pemberian suplemen/ tambahan dimaksudkan untuk menutupi dan mencukupi kekurangan tersebut sehingga konsumsi terhadap pakan berkualitas rendah dapat ditingkatkan dan kebutuhan ternak dapat terpenuhi sehingga produksi meningkat. Jumlah pemberian kelor sebagai pakan tambahan sangat ditentukan oleh kualitas pakan dasar yang diberikan dan tingkat produksi yang diinginkan. Pemberian tunggal daunan hijauan legume lamtoro tidak dianjurkan karena tidak memberikan pertambahan berat badan yang optimal. Hal ini terjadi karena sebagain besar daunan hijauan legume termasuk kelor mempunyai faktor antinutrisi yang dapat berpengaruh buruk terhadap nilai nutrisinya bila diberikan sebagi pakan tunggal tetapi sangat baik diberikan sebagai pakan suplement. Dengan demikian penerapan prinsip yang sama berlaku untuk daun hijauan kelor walaupun belum ditemukan referensi jumlah minimum pemberian kelor sebagai supplemen yang dapat memberikan response produksi yang optimum. Anjuran pemberian kelor sebagai pakan ternak disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Proporsi pemberian kelor berdasarkan berat badan atau berdasarkan total pakan yang diberikan setiap hari terhadap harapan pertambahan berat badan (Kg/hr)

Ternak

Pemberian berdasarkan berat badan (%/Kg BB)

Komposisi Kelor dalam pakan (%)

Harapan Pertambahan Berat Badan (Kg/Hr)

Lepas Sapih

(60 – 100 kg)

0,5

1,0

1,5

20

40

60

0,25 – 0,30

0,40 – 0,50

0,55 – 0,60

Pertumbuhan

(100 – 200 kg)

0,5

1,0

1,5

20

40

60

0,25 – 0,30

0,40 – 0,50

0,55 – 0,60

Dewasa tidak bunting

(200 – 300 Kg)

0,3

0,5

15

25

Maintenance

< 0,25

Dewasa bunting tua-menyusui

(200 - 300 Kg)

0,5

0,75

1,0

20

30

40

Maintenance

<0,25

0,25 – 0,30

Penggemukan

(200 – 350 Kg)

1,0

1,5

40

60

0,40 – 0,50

0,55 – 0,60

Maintenance ; ternak tidak mengalami pertambahan berat, pakan hanya cukup mendukung pokok hidup.


IV. Kesimpulan

Kelor mempunyai nilai nutrisi yang tidak kalah dengan daunan hijauan legume pohon yang sudah biasa digunakan pada ternak dan penggunaannya sebanyak 60% dari pakan dasar rumput berpeluang memberikan pertambahan berat badan yang optimal.

Web Analytics