Inovasi Pengembangan Kelor Sebagai Pakan Ternak Mendukung Swasembada Daging Sapi

Parent Category: Artikel
Created: Wednesday, 22 December 2010 09:18
Published: Wednesday, 22 December 2010 09:18
Written by Tanda Panjaitan
Hits: 10413

Secara nasional dibutuhkan penambahan populasi sapi sebanyak tiga juta ekor untuk dapat mencapai swasembada daging pada tahun 2014. Nusa Tenggara Barat (NTB) satu dari 18 provinsi yang diharapkan berkontribusi terhadap program swasembada daging sapi (PSDS) nasional menargetkan peningkatan populasi menjadi satu juta ekor tahun 2013 melalui program Nusa Tenggara Barat Bumi Sejuta Sapi (NTB-BSS). Peningkatan populasi perlu didukung peningkatan ketersediaan pakan mengingat pakan merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan. Kesulitan memenuhi kebutuhan pakan ternak pada musim kering merupakan tradisi yang hampir setiap tahun dialami peternak sapi di NTB. Eksplorasi terhadap sumber daya lokal, mencari sumber pakan alternatif perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan dan nutrisi yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya populasi ternak.

Hijauan merupakan sumber energi dan protein termurah untuk memproduksi daging sapi. Kelor (Moringa oleifera Lam) di Nusa tenggara Barat, merupakan tanaman pohon yang banyak ditanam dipekarangan rumah, baik sebagai pagar hidup maupun sebagai pembatas lahan. Daun dan buah polongnya banyak dimanfaatkan sebagai sayuran. Daun buah polong kelor mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi (Tabel 1.) dan mengandung 18 asam amino termasuk 9 asam amino essensial (Gupta dkk, 1988). Penggunaan kelor sebagai pakan ternak sapi sudah banyak dilakukan di negara lain namun belum dilakukan peternak di NTB.

Pemberian daun kelor sebagai pakan suplemen pada ternak sapi meningkatkan total konsumsi pakan dan meningkatkan pertambahan berat badan harian dibandingkan dengan sapi yang hanya mengkonsumsi rumput (Foidl dkk, 2001). Produksi susu lebih tinggi pada sapi yang diberi suplemen daun kelor segar sebanyak 8 sampai 12 kg dari sapi yang hanya diberi rumput (Sa´nchez dkk, 2005).

Tabel 1. Kandungan nutrisi daun kelor

No

Komponen

Kandungan

1.

Protein

(%)

16 - 29

2.

Total gula

(%)

12

3.

Ekstrak Eter

(%)

6,5

4.

Total kadar Abu

(%)

12

5.

NDF

(%)

19

6.

ADF

(%)

29

7.

Mineral

Calsium (Ca)

(%)

2,4

Magnesium (Mg)

(%)

0,3

Phoporus (P)

(%)

0,6

Cuprum (Cu)

(ppm)

12

Zat Besi (Fe)

(ppm)

225

8.

Vitamin

A

(mg/100 g)

16,3

B1

(mg/100 g)

2,6

B2

(mg/100 g)

20,5

B3

(mg/100 g)

8,2

C

(mg/100 g)

17,3

* Data diperoleh dari berbagai sumber

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTP NTB) dan pemerintah daerah kabupaten Bima bekerjasama mengembangkan dan memasyarakatkan penggunaan kelor sebagai pakan ternak sapi. Demonstrasi penanaman kelor dan penggunaannya dilakukan di Kelompok Tani Ternak Ngaro Ni’u binaan dari Sarjana Membangun Desa (SMD) desa Mpuri Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima. Pengembangan penggunaan kelor sebagai pakan ternak sapi dilakukan melalui Sekolah Lapang Pengelolaan Agribisnis Sapi Potong (SL-PASP) yang melibatkan sebanyak 34 tenaga SMD dari kabupaten Dompu, Bima dan kota Bima dengan 800 anggota kelompok tani ternak dan jumlah ternak sebanyak 2000 ekor.

Paket teknologi yang dikembangkan meliputi teknologi budidaya kelor dengan biji dan stek batang, teknologi pemangkasan untuk mengoptimalkan produksi dan kualitas biomas, teknologi pemberian kelor sebagai pakan suplemen dan teknologi pembuatan komplit kelor mineral blok .

Kelor tumbuh baik pada temperatur 25 – 350C dengan curah hujan antara 250 – 1500 mm per tahun, mampu tumbuh dengan baik sampai ketinggian 1200 m diatas permukaan laut dan pada berbagai jenis tanah namun kurang tahan terhadap genangan (Palada dan Chang, 2003). Tanaman kelor tahan terhadap pemangkasan berat dan mampu tumbuh kembali dengan cepat setelah pemangksan dengan percabangan yang banyak dan produksi biomas yang tinggi. Kelor pada umur 2 tahun menghasilkan 160 kg edible biomas segar per tahun (Sa´nchez, 2006).

Penanaman kelor dengan stek batang sebagai pagar hidup lebih cepat menghasilkan biomas. Batang yang digunakan sudah berumur satu tahun dan berkayu dengan diameter 8-16 cm, tinggi disesuaikan kebutuhan tetapi untuk mempertahankan daya hidup minimum 50 cm. Kedalaman lubang tanam 20 – 25 cm dan ditutup dengan campuran kompos setelah penanaman. Daun dapat dipanen setelah tunas tumbuh mencapai tinggi 1 m kemudian pemangkasan dilakukan setiap 6-8 minggu untuk meningkatkan produksi biomas.

Penanaman kelor dengan biji, dilakukan dengan memilih buah kelor yang baik dan sudah tua atau polong berwarna coklat, biji dikeluarkan dari polong dan dijemur sampai kering dan direndam selama satu malam sebelum ditanam. Biji ditanam ditanah yang sudah diolah sempurna dan diberi pupuk kompos dengan saluran drainase yang baik. Biji ditanam sebanyak 2-3 per lubang dengan kedalaman 2-3 cm dan ditutup dengan kompos. Penyulaman dan penjarangan dilakukan 21 hari setelah tanam menjadi 2 tanaman/lubang. Jarak baris 30 cm dan jarak antar tanaman 10 cm. Panen dilakukan setelah tanaman mencapai tinggi 1 m dengan memotong batang 30 cm dari permukaan tanah kemudian dilakukan setiap 6-8 minggu. Pupuk ditambahkan jika warna daun berubah menjadi hijau pucat atau kekuningan.

Daun kelor digunakan sebagai pakan suplemen meningkatkan total konsumsi pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sepanjang tahun. Proporsi pemberian kelor berkisar antara 20 sampai 60% dari total pakan tergantung ketersediaan dan kebutuhan ternak. Pemberian lebih besar akan menurunkan konsumsi rumput atau pakan dasar lainnya.

Secara umum produksi biomas kelor lebih tinggi pada musim hujan, walaupun tidak besar perbedaannya dengan musim kering. Kelebihan produksi musim basah dapat disimpan setelah dikeringkan. Sebaliknya produksi dan kualitas rumput dan hijauan lain terus menurun memasuki musim kemarau. Sehingga kebutuhan suplemen pada ternak yang mengkonsumsi pakan dasar rumput terus meningkat seiring perubahan musim untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Tepung daun kelor bahan utama pembuatan suplemen komplit. Suatu inovasi teknologi untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ternak pada musim paceklik pakan. Kelor mineral blok (KMB) diformulasi menghasilkan komplit blok dengan kandungan protein kasar >30% (Tabel 2).

Tabel 2. Bahan-bahan untuk pembuatan komplit kelor mineral blok (KMB)

No

Komponen

Komposisi (%)

1.

Tepung Daun Kelor

33

2.

Dedak

25

3.

Tepung Ubi kayu

10

4.

Garam

10

5.

Urea

8

6.

Mineral mix

4

7.

Semen

10

Kelor mempunyai kemampuan memproduksi biomas yang banyak sepanjang tahun dengan kandungan nutrisi terutama kandungan protein kasar yang tinggi dan penggunaannya dapat memperbaiki produksi ternak. Inovasi pengembangan kelor sebagai pakan ternak sapi mempercepat peningkatan ketersediaan pakan berkualitas untuk mencukupi kebutuhan pakan dan nutrisi ternak yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya populasi ternak. (Tanda Panjaitan)

Web Analytics