Hasil Panen Kentang Sabrang (Visitor Plot di Kebun Percobaan BPTP-NTB)

Pin It

Pendahuluan

Kentang sabrang (Coleus tuberosus) sengaja penulis berikan nama kentang sabrang, karena kentang ini memiliki nama setiap daerah yang berbeda-beda. Di Pulau Lombok NTB kentang ini diberi nama Sabrang, di Jawa disebut kentang ireng klici, kumbili dan gembili dan di Jawa barat disebut huwi dan masih banyak lagi nama kentang ini di masing-masing daerah. Kentang ini hampir sudah tidak lagi dibudidayakan oleh para petani, kalaupun ada hanya sebagai tanaman tambahan dari tanaman pokok yang ada di lahan petani.

Kentang Sabrang ini pada umumnya umbinya digunakan sebagai sayuran atau digunakan seperti halnya kentang biasa, misalnya umbi yang masih muda digunakan untuk campuran sayur lodeh, sayur asam, sayur sop dan umbi yang sudah tua direbus untuk kemudian dimakan seperti kentang biasa. Kentang sabrang ini dapat dipanen setelah berumur 4 – 5 bulan dan memerlukan tanah yang gembur (banyak mengandung humus).

Mengingat tanaman ini sudah hampir punah, maka untuk melestarikannya BPTP NTB merasa perlu untuk membuat visitor plot guna melestarikan sekaligus sebagai percontohan dalam open house BPTP NTB yang dilaksanakan paga tanggal 21 – 22 Juli 2010 di BPTP NTB.

Teknologi yang di terapkan.

  1. Persiapan Lahan
  • Lahan dibersihkan dari semua rumput dan sisa-sisa tanaman yang lain.
  • Tanah diolah sempurna (dibajak 2 kali dan digaru 2 kali)
  • Guludan dibuat memanjang (sesuai kebutuhan) dengan lebar 40 cm dan tinggi 40 cm.
  • Sehari sebelum tanam guludan diairi terlebih dahulu agar sewaktu tanam lahannya cukup lembab.
  1. Penanaman
  • Stek bibit ditanam tegak atau miring dengan 2-3 ruas terbenam ke dalam (ini bila menggunakan bibit dari stek).
  • Kentang sabrang bisa juga menggunakan bibit dari umbinya dengan cara dibenamkan 2 - 3 cm, kedalam tanah, dengan jarak tanam dalam barisan : 20 – 30 cm.
  1. Pemupukan
  • Pupuk kompos 10 ton/ha yang diberikan bersamaan dengan pembuatan guludan/ bedengan.
  • Pupuk an organik dengan dosis urea 100 kg + SP-36 = 100 kg + 100 kg KCl/ha.
  • Cara pemberian 1/3 dosis Urea dan KCl serta seluruh SP-36 diberikan pada dua minggu setelah tanam.
  • Pupuk yang diberikan ditutup dengan tanah.
  1. Perawatan
  • Penyiangan sekaligus penggemburan guludan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada umur 4 minggu, 8 minggu dan umur 12 minggu setelah tanam.
  • Pembalikan batang perlu dilakukan untuk mencegah munculnya akar dari ruas batang.
  • Pengairan perlu dilakukan minimal 3 kali selama masa pertumbuhan.
  1. Panen
  • Kentang sabrang umumnya sudah dapat dipanen setelah berumur 4 – 5 bulan setelah ditanam.
  • Dengan teknologi yang tepat , hasil dapat mencapai 10-15 t/ha umbi basah.

Hasil dan analisa usaha tani.

Visitor Plot Kentang Sabrang Dalam Rangka Open House BPTP-NTB Tahun 2010 dengan luas 100 (0,01 ha), yang ditanam tanggal 25 Mei 2010 dan dipanen tanggal 24 September 2010, dengan hasil panen mencapai 135 kg umbi basah, atau sama dengan 13.500 kg/ ha. jika hasil panen produksi mencapi 13.500 kg/ ha (13,5 t/ha) dengan harga rata-rata Rp.2.250,-/kg, sementara biaya yang dikeluarkan Rp.16.550.000,-/ha, maka keuntungan diperoleh sebesar Rp.13.825.000,-/ musim/ha. Dengan demikian usaha tani kentang sabrang ini dapat dikatakan cukup menguntungkan bila diusahakan secara benar dan sesuai dengan anjuran teknologi.Analisa usaha taninya dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel : Analisa usaha tani kentang sabrang

No Uraian kegiatan Volume Harga satuan (Rp) Jumlah (Rp)
I Biaya sewa tanah/musim/ha 1 msm/ha 3.000.000 3.000.000
II Biaya Saprodi : 9.550.000
Bibit stek kentang sabrang 200.000 btng 25 5.000.000
Pupuk kandang 10.000 kg 400 4.000.000
Urea 100 kg 1.500 150.000
SP-36 100 kg 2.000 200.000
KCl 100 kg 2.000 200.000
III

Biaya tenaga kerja :

4.000.000
Permbersihan lahan 10 OH 25.000 250.000
Pengolahan lahan Traktor 750.000 750.000
Pembuatan bedengan 30 OH 25.000 750.000
Penanaman 20 OH 25.000 500.000
Penyiangan (2 kali) 40 OH 25.000 1.000.000
Panen 30 OH 25.000 750.000
IV Total Pengeluaran (I + II + III)
16.550.000
V Pendapatan 13.500 kg (13,5 t/ha)
13.500 kg 2.250 30.375.000
VI Keuntungan (V - IV)/musim (4 - 5 bln)/ha - - 13.825.000
B/C - - 0,84

(Sumber : H. Noor Inggah)

Web Analytics