Jamu Tradisional Tingkatkan Pertambahan Berat Badan Sapi

Pin It

Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan petani miskin melalui inovasi pertanian. Untuk itu diperlukan peningkatan akses petani terhadap informasi pertanian, untuk mendukung pengembangan inovasi pertanian dan upaya pemberdayaan petani. Pendekatan partisipatif dalam perencanaan, pelaksanaan, pengembangan kelembagaan dan perbaikan sarana/prasarana yang dibutuhkan di desa, merupakan upaya yang dilakukan dalam pemberdayaan petani untuk pengembangan inovasi. Salah satu pendekatan partisipatif dalam kegiatan P4MI ini adalah pengkajian dan pemberdayaan potensi sumberdaya lokal. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan bagi daerah untuk mengembangkan inovasi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan petani di Kabupaten Lombok Timur.

Juga diharapkan dapat sekaligus mengembangkan teknologi tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan paket teknologi utuhnya. Proses pengembangan inovasi dengan pendekatan partisipatif lebih memiliki peluang yang besar untuk diterima dan diadopsi oleh petani karena pada prosesnya sesuai dengan keinginan dan kemampuan petani. Dengan demikian, teknologi tersebut dapat disosialisasikan atau didiseminasikan secara lebih luas dan dapat digunakan secara terpisah maupun kompatibel dengan teknologi modern.

Disadari bahwa banyak teknologi lokal yang ada di masyarakat yang sudah diterapkan secara turun-temurun namun belum diteliti dan dikaji secara ilmiah. Jika teknologi-teknologi tersebut didukung secara financial untuk diteliti dan dikaji lebih lanjut maka akan dihasilkan teknologi-teknologi spesifik lokasi yang akan dapat dipertaggungjawabkan secara ilmiah dan dapat dikomersialkan yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani yang ada di daerah-daerah pedesaan. Hal inilah yang menjadi dasar pertimbangan kegiatan pengkajian inisiatif lokal yang didanai oleh kegiatan P4MI di Kabupaten Lombok Timur.

Kegiatan Inisiatif Lokal Tahun 2009

Salah satu proposal kegiatan yang didanai pada T.A. 2009 adalah Pemberian Jamu Tradisional untuk Meningkatkan Pertambahan Berat Badan Harian Ternak Sapi Potong, oleh Ir. Sasongko W R, M.Sc. dkk, di Desa Tebaban – Suralaga. Deskripsi dan hasil dari kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

Pemberian Jamu Tradisional untuk Meningkatkan Pertambahan Berat Badan Harian Ternak Sapi Potong:

Pola pemeliharaan ternak sapi yang dikenal di masyarakat yaitu pembibitan dan penggemukan memiliki pendekatan peningkatan produktivitas yang berbeda. Khususnya usaha penggemukan dengan sistem pemeliharaan yang umum pada peternak kecil tentunya masih sangat minim penggunaan teknologinya. Jumlah modal yang dimiliki kecil sehingga mereka hanya dapat mengusahakan ternak dengan skala kecil pula 1-4 ekor. Namun dengan perolehan modal pinjaman yang saat ini banyak diberikan kepada peternak kecil, menyebabkan mereka harus dapat mengembalikan modal pinjaman jangka pendek dengan keuntungan optimal. Usaha penggemukan berdasarkan pengalaman peternak, merupakan usaha yang bisa diandalkan dengan modal pinjaman jangka pendek. Terkait dengan hal tersebut maka agar dapat diperoleh keuntungan maka mereka harus memacu peningkatan berat badan sapinya agar efisiensi waktu dapat diperoleh. Di masyarakat peternak cukup banyak dikenal berbagai obat-obatan atau jamu ternak tradisional untuk mengatasi hal ini. Jamu tradisional yang telah dikaji pada penelitian ini merupakan hasil racikan dengan bahan baku lokal yang khusus diperuntukkan bagi usaha penggemukan ternak sapi. Jamu ini telah diuji-coba dan dibandingkan efektifitasnya terhadap berbagai tingkatan umur ternak sapi.

Jamu diberikan sesuai dengan anjuran pembuatnya yaitu seminggu sekali sebanyak 10 butir beratnya sekitar 3 g. Untuk memudahkan ternak memakan butir-butir jamu, dlakukan dengan menggunakan jagung muda. Butir-butir jamu diselipkan di antara kulit kelobot jagung, kemudian diberikan pada ternak. Setelah itu jagung muda yang didalamnya terdapat butiran jamu diberikan pada ternak, dengan cara ini ternak mudah memakan jagung mengunyahnya beserta jamu yang ada di jagung dan menelannya. Pembuat jamu mengatakan bahwa jamu ini dimaksudkan untuk meningkatkan nafsu makan ternak, agar dapat meningkatkan pertambahan berat badan. Pertambahan berat badan harian meningkat artinya ternak akan lebih cepat gemuk sehingga dapat memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk menambah berat badan ternak pada target tertentu. Sangat berguna bagi usaha penggemukan ternak sapi. Ternak yang memiliki nafsu makan yang baik akan mengkonsumsi pakan dengan baik bisa dilihat pada tempat pakannya, dimana pakan yang tersisa menjadi lebih sedikit. Jika hal ini dibarengi dengan peningkatan berat badan yang tinggi maka bisa dikatakan bahwa efisiensi pakannya juga baik. Bila pemberian jamu membuat nafsu makan meningkat dan menyebabkan meningkatnya konsumsi pakan maka yang perlu menjadi perhatian peternak adalah pakan yang diberikan harus tersedia cukup.

Rata-rata pertambahan berat badan harian sapi Bali sebelum diberikan jamu pada dua kelompok umur, hampir sama antara Kelompok 1 dan Kelompok 2 yaitu 0,208 kg/ekor/hari dengan 0,238 kg/ekor/hari. Berbeda dengan Kelompok 3 (sapi-sapi Simental) dengan PBBH 0,622 kg/ekor/hari. Diketahui bahwa sapi Simental merupakan salah satu jenis sapi potong yang unggul dan telah beradaptasi dengan lingkungan di sekitar kita. Peningkatan berat badan disamping dipengaruhi oleh pakan dan linkungan sekitarnya, juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Sapi Simental merupakan keturunan bangsa sapi Bos taurus yang dikenal memiliki badan yang lebih besar dari sapi Bali. Bangsa sapi tersebut telah dikenal sebagai sapi potong karena pertumbuhannya cukup baik, memiliki otot tubuh yang kekar, lapisan lemak bawah kulit yang rendah.

Sapi Simental merupakan salah satu bangsa sapi potong yang memiliki bentuk tubuh yang lebih besar dari sapi lokal (sapi Bali). Disamping bentuk tubuhnya yang besar, pertambahan berat badan hariannya juga lebih tinggi sehingga dikategorikan bangsa sapi unggul. Simental (di Demak) dapat mencapai PBBH 0,9 – 1,2 kg/hari, dan Simental di sini (yang digunakan dalam penelitian) PBBH rata-rata 0,622 kg/hari, hal ini bisa disebabkan pengaruh genetik dan lingkungan tempat hidupnya. Pakan juga memiliki pengaruh penting pada PBBH.

Jamu tradisional yang diberikan kepada masing-masing kelompok ternak memberikan respon terhadap PBBH yang berbeda. Pada bangsa sapi yang sama yaitu sapi Bali responnya juga berbeda menurut tingkatan umurnya (kelompok 1 dan kelompok 2), sapi Bali yang berumur di atas 1 tahun responnya terlihat lebih besar, rata-rata 1 kg/hari dibandingkan sapi Bali muda rata-rata mencapai 0,45 kg/hari. Respon tertinggi terjadi pada sapi Simental mencapai 1,45 kg/hari (Grafik 1).

Jika dibandingkan dengan PBBH sapi-sapi yang tanpa pemberian jamu, masing-masing kelompok terdapat perbedaan PBBH yang cukup besar : kelompok 1 mencapai 0,16 kg/hari; kelompok 2 mencapai 0,62 kg/hari; dan kelompok 3 mencapai 0,6 kg/hari. Peningkatan ini cukup signifikan. Namun perlu diingat bahwa untuk mendapatkan respon yang positif dari pemberian jamu bahwa ternak harus diberikan pakan dalam jumlah yang cukup. Respon demikian yang disebabkan oleh pemberian jamu, bisa merupakan efek dari bahan-bahan yang dikandung oleh jamu. Dilihat dari bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jamu maka ada bahan yang memiliki kandangan protein tinggi seperti sarang Walet; merangsang makan seperti kunyit. Kunyit meningkatkan kerja organ pencernaan, merangsang dinding kantong empedu mengeluarkan cairan empedu dan merangsang keluarnya getah pancreas yang mengandung enzim amilase, lipase dan protease yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan karbohidrat, lemak dan protein. Tetapi karena persentasi jamu yang diberikan sangat kecil jika dibandingkan jumlah pakan maka kemungkinan jamu hanya merangsang indra perasa pada ternak sehingga menyebabkan nafsu makan ternak meningkat. Sedangkan peran jamu pada pencernaan dalam perut ternak sangat kecil karena jumlahnya yang sangat kecil untuk kapasitas alat pencernaan sapi yang besar.

Jamu tradisional yang diberikan pada sapi-sapi Bali dengan kelompok berumur kurang dari 1 tahun dan lebih dari 1 tahun memberian respon yang positif dan sangat signifikan pengaruhnya terhadap pertambahan berat badan harian. Demikian pula responnya terhadap bangsa sapi Simental yang tertinggi. Pemberian jamu itu sendiri dibandingkan dengan tanpa diberi jamu hanya berpengaruh nyata (signifikan) pada tingkat 5%; ini bisa disebabkan respon yang sangat bervariasi pada sapi-sapi yang digunakan pada penelitian ini. Setiap kelompok terdapat variasi umur antara 2-4 bulan.

Tabel 1. Rata-rata pertambahan berat badan harian sapi yang tanpa diberi jamu dengan yang diberi jamu

Tanpa Jamu

(kg/hari)

Diberi Jamu

(kg/hari)

Kelompok 1

0,309a

0,469 b

Kelompok 2

0,415 b

1,033 c

Kelompok 3

0,858 c

1,454 d

Keterangan : Notasi yang berbeda pada masing-masing perlakuan menunjukkan perbedaan yang signifikan

Interaksi antara kelompok sapi dengan pemberian jamu memang tidak signifikan artinya perbedaan yang terjadi sangat kecil pengaruhnya terhadap pertambahan berat badan harian setiap kelompok sapi, baik sapi Bali berumur kurang 1 tahun, sapi Bali umur lebih dari 1 tahun maupun dengan sapi Simental. Perbedaan respon jamu pada ketiga kelompok sangat kecil, walaupun antar kelompok itu sendiri jelas perbedaan respon jamu terhadap PBBH. Penyebabnya bisa saja pada masing-masing individu ternak memiliki respon yang bervariasi terhadap nafsu makannya atau pada saat yang bersamaan (hari yang sama) jenis pakan yang diberikan tidak seragam karena masing-masing sapi dipelihara oleh orang yang berbeda walaupun dalam pengawasan yang sama.

Pemberian jamu pada sapi ternyata juga dapat memberikan peningkatan penerimaan dari usaha ternak, sehingga peternak dapat meningkatkan keuntungannya. Pada tiga kelompok ternak (berdasarkan perbedaan umur dan bangsa sapi) memiliki perbedaan tingkat keuntungan, namun berdasarkan investasi yang ditanamkan dan perhitungan ekonomi menunjukkan ketiga kelompok tersebut memiliki Benefit per Cost Ratio (BCR) relatif hampir sama antara yang diberikan jamu dengan yang tidak diberikan jamu. Tambahan biaya yang dikeluarkan untuk membeli jamu sangat kecil hanya sekitar 1-2 persen dari total biaya pemeliharaan. Keuntungan yang diperoleh antara 43 – 69 persen dari harga beli dengan pemakaian jamu sedangkan tanpa jamu tingkat keuntungan hanya 15-18 persen dari harga pembelian.

Pemberian jamu tradisional pada ternak sapi berpengaruh terhadap nafsu makan ternak sapi, diketahui dari konsumsi pakan antara sapi yang diberi jama dengan tanpa pemberian jamu. Respon jamu tradisional pada sapi memberikan pengaruh yang posistif terhadap pertambahan berat badan harian dan pengaruhnya sangat signifikan terhadap bangsa sapi dan juga umur sapi. Pemberian jamu juga berdampak pada perolehan keuntungan yang meningkat. Sementara ini diduga bahwa jamu tradisional hanya memberikan rangsangan pada indra pengecap dan pada bagian lain yang menstimulasi rangsangan pada alat pencernaan, sehingga ternak ingin terus maka. (Bq. Nurul Hidayah dan Sasongko WR)

Web Analytics