Pendampingan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Jagung di Nusa Tenggara Barat

Parent Category: Artikel
Created: Thursday, 17 June 2010 08:57
Published: Thursday, 17 June 2010 08:57
Written by B. Tri Ratna Erawati
Hits: 5974
Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan unggulan di NTB. Di NTB komoditas jagung banyak dipasarkan ke luar daerah terutama Jawa dan Bali sebagai bahan baku pakan ternak, namun masih banyak yang belum dapat terpenuhi akibat kurangnya produksi di tingkat petani. Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi NTB (2004), bahwa total jumlah jagung dari Pulau Lombok yang diperdagangkan ke Bali dan Surabaya melalui pelabuhan Lembar sebanyak 1.884.110 kg.
Luas panen jagung di NTB pada tahun 2009 adalah 39.380 ha dengan produktivitas rata-rata sebesar 2,45 t/ha. Sementara produktivitas ditingkat petani rata-rata mencapai 2,0 t/ha dengan total keuntungan sebesar Rp. 740.000,-/ha (BPTP NTB, 2004). Dalam upaya memenuhi keberlanjutan suplai, sangat dibutuhkan teknologi usahatani yang dapat meningkatkan produktivitas dan produksi serta layak untuk dikomersilkan. Hasil penelitian Balitsereal menunjukkan dengan pendekatan PTT, produktivitas jagung dapat mencapai 7–9 t/ha (Saenong dan Subandi, 2002), sementara hasil kajian di Sambelia potensi hasil yang dicapai 5,45 t/ha dengan keuntungan sebesar Rp.1.283.200,-/ha (Awaludin, dkk, 2004).
Program peningkatan produksi pangan dan pendapatan petani akan berhasil apabila ditunjang oleh penerapan teknologi yang tepat, seperti penggunaan varietas unggul baru (VUB) yang beradaptasi dan baik berpotensi hasil tinggi yang disenangi oleh petani/ konsumen, penggunaan benih bermutu, populasi tanaman optimum, pengelolaan hara spesifik/pupuk kandang/kompos, pengairan yang cukup, dan penerapan konsep PHT.
Untuk meyakinkan pengguna dalam penerapan teknologi perlu diberikan contoh langsung melalui kegiatan demplot pengelolaan sumber daya terpadu (PTT) jagung pada lahan petani. Hal ini dapat memberikan motivasi kepada petani untuk menilai secara langsung penampilan komponen teknologi yang sesuai dengan keinginan mereka.
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) jagung merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk dapat meningkatkan produktivitas jagung dan pendapatan petani serta melestarikan lingkungan produksi melalui pengelolaan lahan, air, tanaman, OPT, dan iklim secara terpadu. Sementara Sekolah Lapang (SL) merupakan salah satu strategi untuk mempercepat adopsi teknologi dari peneliti ke tingkat petani.
Diskripsi, Volume, dan Sasaran SL-PTT Jagung di NTB
Upaya peningkatan produksi jagung nasional dengan pendekatan PTT dan dilakukan melalui kegiatan SL-PTT. Pelaksanaan kegiatan ini di NTB ada pada 8 Kabupaten/kota dari 10 kabupaten/kota, dimana pada tahun 2010 di NTB akan dilaksanakan 112 unit SL-PTT jagung dengan luas areal 1740 ha. Luas areal dan jumlah unit SL-PTT jagung per kabupaten /kota di NTB disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1.  Luas areal, dan  jumlah unit SL-PTT jagung per Kecamatan dan Desa di setiap kabupaten/kota di NTB
Kabupaten Kecamatan Desa/Kelurahan Nama Kelompok Ketua Kelompok Lua150s (Ha) Jumlah Unit
Lombok Barat 8 10 10 10 150 10
Lombok Utara 2 10 10 10 150 10
Sumbawa Barat 1 6 6 6 150 6
Sumbawa 6 16 23 23 345 23
Dompu 6 8 10 10 150 10
Kab. Bima 9 15 19 19 300 20
Kota Bima 4 9 10 10 150 10
Lombok Timur 5 12 23 23 345 23
Jumlah 41 86 111 111 1740 112
Dimana dalam setiap unit SL-PTT jagung hibrida terdiri atas 15 ha. Dalam satu unit SL-PTT terdapat 1 ha Laboraturium lapangan (LL). LL merupakan tempat belajar petani tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan usahatani yang diusahakan oleh petani. Pada lokasi SL petani akan mendapatkan benih unggul saja, sementara dalam lokasi LL seluruh sarana saprodi disiapkan oleh Dinas pertanian yang bersangkutan, termasuk biaya pertemuan 8-10 kali di setiap kelompok tani (lihat gambar 1)
Sasaran peningkatan produktivitas nasional untuk jagung hibrida 2,5 t/ha pada lokasi SL (Sekolah Lapang) dan 3,0 t/ha pada lokasi LL (Laboraturium Lapang). Posisi saat ini rata-rata produktivitas jagung di Nusa Tenggara Barat 4,4 t/ha. Dengan adanya kegiatan SL-PTT jagung diharapkan produktivitas akan dapat ditingkatkan menjadi 4,62 t/ha, sasaran meningkat lebih dari 5 % setelah masuknya SL-PTT jagung.

Bentuk Pendampingan BPTP

BPTP akan melakukan pendampingna pada 60% lokasi SL-PTT yang ada di seluruh NTB. Dari 60% pendamingan tersebut diperoleh 67 unit SL-PTT dengna luasan 1.045 ha yang berada pada 8 kabupaten/kota di NTB. Mengingat jumlah tenaga peneliti dan penyuluh serta terbatasnya angaran, maka 67 untuk tersebut tidak dapat didampingi langsung di lapangan secara terus menerus tetapi pendampingan langsung hanya dapat dilakukan minimal sekali dalam semusim pada saat yang sangat diperlukan  sebagai narasumber pada pertemuan SL, selebihnya akan difasilitasi melalui call basis (alat komunikasi). selain itu bentuk pendapingan yang akan dilakukan oleh BPTP adalah sebagai berikut:
1. Penyediaan informasi, dan buku panduan
Penyediaan Juknis PTT dan Pendampingan SL-PTT, selai itu untuk mendukung pengembangan inovasi teknologi PTT dilakukan penyebaran leaflet, brosur, atau folder yang materinya dapat mendukung kegiatan SL-PTT di lapangan.
2. Pelatihan
Berpartisipasi dalam pelatihan sebagai narasumber untuk pelatihan 60% dari jumlah PL-III disetiap kabupaten/kota.
3. Narasumber
Menghadirkan peneliti (Puslit/Balai Besar, BPTP, Balikomoditas, Lolit) sebagai narasumber pada 60% unit SL-PTT pada waktu pertemuan petani membahas topik khusus minimal sekali selama berlangsungnya SL-PTT.
4. Demontrasi Plot
Demontrasi plot pada SL-PTT jagung hanya dilakukan pada 2 kabupaten yaitu Kab. Lombok Barat dan Kab. Sumbawa, pada masing-masing kabupaten terdapat 2 lokasi demplot yang luasnya 0,25 ha. Demplot PTT ini dilakukan untuk menguji paket teknologi lengkap PTT.
5. Display (uji Adaptasi) Varietas VUB
Penyebarluasan inovasi dilakukan melalui demplot seluas 0,20 - 0,25 ha di LL yang luasnya 1 ha. Pada LL diintroduksikan tiga varietas unggul baru yang berproduksi tinggi dan satu pembanding yang telah digunakan petani secara luas. (B. Tri Ratna Erawati)
Web Analytics