Pengendalian Penyakit-Penyakit Pisang di Pulau Lombok

Parent Category: Artikel
Created: Thursday, 15 April 2010 12:22
Published: Thursday, 15 April 2010 12:22
Written by Catur Hermanto, Bq Nurul Hidayah, Kunto Kumoro
Hits: 13116

Tanaman pisang mempunyai potensi yang sangat besar sebagai penopang ekonomi keluarga tani, alternatif makanan pokok dan tanaman  pioner. Akhir-akhir ini tanaman pisang di pulau Lombok dihadapkan pada ancaman yang sangat serius dari beberapa penyakit sistemik yang mematikan, antara lain penyakit layu fusarium, penyakit darah, dan penyakit kerdil pisang. Mengenal penyebab dan gejala serangannya sangat penting agar petani dapat melakukan pengendalian secara tepat dan benar.

Beberapa penyakit sistemik pada pisang di Pulau Lombok


a. Penyakit layu fusarium


Gejala penyakit layu fusarium ditemukan pada pisang Susu (Rajasere). Tanaman yang terserang menjadi layu dan mati. Seluruh tanaman dalam satu rumpun mati, termasuk anakan yang ada. Informasi dari petani di Desa Labuan Pandan – Lombok Timur bahwa serangan penyakit ini terjadi sejak tahun 2007.

Infeksi penyakit layu fusarium terjadi bila patogen melakukan penetrasi pada akar tanaman pisang. Jamur kemudian menyerang xylem sehingga menyebabkan penutupan pembuluh. Gejala internal diawali dengan penguningan jaringan pembuluh di akar dan bonggol yang selanjutnya berubah warna menjadi merah atau coklat pada pembuluh vaskular pada pseudostem dan kadang-kadang pada tangkai tandan. Pada saat tanaman mati, jamur akan tumbuh menyebar dari xylem ke jaringan sekitarnya, membentuk klamidospore (spora istirahat) yang mampu bertahan dalam perakaran tanaman inang alternatif sampai 30 tahun. Kerusakan terutama terjadi pada kelompok pisang Cavendish (Ambon Hijau), Rajasere (pisang Susu), dan Ambon Kuning.


b. Penyakit darah

Penyakit darah ditemukan pada pisang Kepok. Tanaman yang terserang memperlihatkan gejala penguningan daun dan layu. Gejala luar juga diperlihatkan dengan terjadinya pengeringan pada bunga jantan. Pada serangan yang parah, batang semu mencoklat dan membusuk.

Kerusakan disebabkan oleh bakteri ‘blood disease bacterium’ (BDB),  terutama terjadi pada pisang Kepok yang ditandai oleh pembusukan daging buah, sehingga daging buah busuk coklat kemerahan menyerupai darah.

Penularan penyakit dapat terjadi melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian dan serangga. Bakteri ini dapat bertahan paling singkat 1 tahun dalam tanah tanpa kehilangan virulensinya. Perkembangan penyakit di lapang terutama dipengaruhi oleh adanya sumber inokulum, persen tanaman yang memasuki fase generatif dan populasi serangga penggerek bonggol dan batang. Selain faktor-faktor tersebut, penyebaran penyakit darah pada suatu wilayah juga sangat ditentukan oleh aktivitas petani dalam memelihara tanaman, serta aktivitas pedagang ketika melakukan panen buah dan bunga pisang. Penggunaan alat yang sama untuk pemeliharaan tanaman atau panen dari satu kebun ke kebun yang lain tanpa disadari merupakan satu cara penularan dan penyebaran penyakit yang sangat efektif dan cepat dari satu tempat ke tempat lain.


c. Penyakit kerdil pisang


Gejala penyakit kerdil pisang di Pulau Lombok telah ditemukan di Kota Mataram pada beberapa pertanaman pisang yang tidak terawat di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan menuju desa Labuan Pandan juga ditemukan beberapa gejala, meskipun masih sangat jarang. Di Desa Labuan Pandan – Lombok Timur, penyakit kerdil pisang ditemukan pada pisang Udang dan pisang Susu dengan kerusakan mencapai sekitar 5% dari total pertanaman. Petani telah melakukan eradikasi dengan cara memotong beberapa tanaman yang memperlihatkan gejala sakit.

Penyakit kerdil pisang disebabkan oleh ‘Banana Bunchy Top Virus’ (BBTV). Gejala awal ditandai oleh adanya gejala hijau gelap bergaris pada tangkai dan tulang daun menyerupai sandi morse. Pada lembaran daun di dekat ibu tulang daun terdapat bercak/garis bengkok hijau gelap. Ketika tanaman  semakin tua, pertumbuhan daun menjadi terhambat, berukuran kecil, kaku dan mengarah ke atas, tanaman menjadi kerdil.

d. Nematoda

Serangan nematoda dijumpai pada pisang kepok. Pertumbuhan tanaman terhambat dan tanaman mudah rebah. Perakaran tanaman menjadi busuk dan pertumbuhan akar-akar rambut terhambat.


Upaya pengendalian

Memperhatikan metode penularan dan cepatnya infeksi penyakit di dalam tanaman, maka pengendalian yang disarankan lebih ditekankan pada pencegahan daripada pengobatan. Berikut adalah beberapa teknik yang dapat diterapkan:


a. Penggunaan bibit bebas penyakit


Penggunaan bibit sehat merupakan langkah awal dari keberhasilan usaha tani pisang. Pengadaan bibit sehat yang paling mungkin adalah melalui kultur jaringan. Karena perkembangan penyakit layu bakteri pisang di dalam tanaman terjadi sangat cepat (3 – 4 minggu), maka bibit hasil kultur jaringan hampir dapat dipastikan bebas dari bakteri patogen. Yang harus diingat adalah bahwa bibit bebas penyakit (hasil kultur jaringan) tidak sama dengan bibit tahan penyakit, bahkan pada kenyataannya di lapang justru lebih rentan terhadap penyakit. Karenanya, pemeliharaan dan pengendalian penyakit di lapang harus tetap dilakukan.


b. Budidaya tanaman sehat


Pengendalian penyakit tidak dapat dilepaskan dari pemeliharaan tanaman yang optimal. Ketahanan tanaman dapat diperoleh melalui kegiatan pemeliharaan tanaman yang baik, antara lain pembumbunan, pemupukan, pengairan, dan sanitasi kebun. Karena proses pemeliharaan tanaman ini banyak melibatkan aktivitas manusia dan menggunakan peralatan yang memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk menularkan penyakit, maka harus diupayakan agar aktivitas pemeliharaan tidak  menyebarkan penyakit, antara lain dengan cara mengatur agar pekerja tidak bergerak dari tanaman sakit ke tanaman sehat dan sterilisasi alat-alat yang telah digunakan untuk memotong tanaman sakit.


c. Pemanfaatan agen pengendali hayati


Pemanfaatan agen pengendali hayati terutama dilakukan untuk mengurangi sumber bahan penular (inokulum) yang terdapat di dalam tanah.  Beberapa agen pengendali hayati telah banyak tersedia di pasaran. Pemanfaatan agen pengendali hayati juga dapat ditujukan terhadap kompleks hama, sehingga peluang penularan melalui vektor dapat ditekan.


d. Pembungkusan tandan buah dan pemotongan bunga jantan


Metode ini dilakukan untuk mengurangi peluang penularan tanaman melalui serangga pengunjung bunga pisang. Meskipun tidak menjamin 100% terbebasnya tanaman dari infeksi penyakit, metode ini dapat menurunkan intensitas serangan sampai tingkat 20-30%. Pembungkusan tandan dilakukan segera setelah bunga keluar menggunakan plastik biru, kantong semen, karung  dan bahan-bahan pembungkus lain yang aman. Penggunaan plastik transparan berwarna bening/putih tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan buah menjadi terbakar.


e. Pengendalian serangga vektor


Mengingat bahwa hampir seluruh hama yang terdapat pada kompleks pertanaman pisang memiliki peluang untuk menularkan penyakit, maka pengendalian harus dilakukan secara menyeluruh terhadap semua hama yang ada. Ambang kendali hama semakin rendah pada wilayah-wilayah yang terdapat sumber penular penyakit. Selain metode perlindungan bunga dan tandan buah melalui pembungkusan dan pemotongan bunga jantan, pengendalian serangga vektor dapat dilakukan secara kultur teknis, hayati, mekanis maupun kimiawi.


f. Eradikasi


Tanaman-tanaman yang telah terinfeksi penyakit bakteri sangat kecil kemungkinannya untuk disembuhkan. Pada tahap ini eradikasi harus dilakukan agar tidak menjadi sumber penular bagi tanaman-tanaman di sekitarnya. Eradikasi harus dilakukan dengan cara yang ekstra hati-hati agar tanaman terinfeksi yang dibongkar tidak tercecer sehingga menulari tanaman yang lain. Selain dengan cara membongkar dan menggali tanaman terinfeksi, eradikasi dapat juga dilakukan dengan cara membakar atau menginjeksi tanaman dengan bahan kimia (minyak tanah atau herbisida). Injeksi tanaman sakit dengan 10 ml herbisida berbahan aktif glyphosate terbukti dapat membunuh tanaman dan jamur fusarium yang ada di dalam jaringan tanaman. Dengan cara tersebut, kemungkinan penyebaran patogen oleh tanaman terinfeksi dapat diperkecil.


g. Menghindarkan pemindahan bahan-bahan tanaman terinfeksi dari daerah endemis ke daerah non endemis


Peran manusia dalam penularan penyakit-penyakit tanaman pisang  sangat besar, baik di dalam kebun melalui aktivitas kerja, maupun antar kebun dan bahkan antar wilayah melalui pergerakan bahan tanaman terinfeksi. Bahan tanaman terinfeksi ini dapat berupa bibit maupun hasil panen. Seringkali tanaman terinfeksi belum/tidak memperlihatkan gejala dari luar sehingga masih laku dijual dan didistribusikan ke lain tempat. Setelah diketahui oleh konsumen bahwa buah tersebut ternyata busuk, maka kemudian dibuang begitu saja dan menjadi sumber penular yang potensial. Pada taraf ini penerapan karantina tumbuhan sangat diperlukan.


h. Pengembangan sistem pola tanam pisang multi varietas

Karena masing-masing penyakit pada tanaman pisang menimbulkan kerusakan yang spesifik varietas, maka pengembangan pisang multi varietas akan dapat mengurangi resiko kegagalan akibat serangan penyakit. Pengembangan dan penyebaran varietas pisang yang ada saat ini tampaknya dipengaruhi oleh preferensi konsumen setempat, pengalaman petani dan kesesuaian lahan terhadap masing-masing varietas.


i. Melakukan sosialisasi pengendalian ke semua pihak yang terlibat dalam pengembangan komoditas pisang


Banyak pihak yang belum memahami cara-cara pengendalian penyakit pisang. Sosialiasi teknologi pengendalian sangat diperlukan untuk merubah pemahaman petani dari mengobati penyakit menjadi mencegah terjadinya serangan penyakit. Upaya sosialisasi ini dapat dilakukan secara langsung terhadap petani maupun melalui TOT (training of trainer) terhadap penyuluh dan pengamat hama penyakit tanaman.

(Sumber : Catur Hermanto, Bq Nurul Hidayah, Kunto Kumoro)


Web Analytics