Pemasaran Ternak Sapi di NTB Masih Tradisional

Pin It

Rangkaian proses mulai dari seekor ternak sapi dipelihara oleh peternak sampai di tangan konsumen berupa daging, berlangsung dalam suatu rantai yang cukup panjang. Peternak memelihara sapi sejak dilahirkan, tumbuh, berkembang hingga menjadi ternak yang siap potong untuk dimanfaatkan dagingnya dan bagian-bagian tubuh lainnya. Konsumen mungkin tidak sepenuhnya berkeinginan untuk mengetahui atau mengamati proses tersebut, yang paling penting adalah mereka mampu membeli, selanjutnya dimasak dan siap untuk disajikan dan disantap.

Rangkaian pemasaran terjadi sejak ternak berpindah tangan dari peternak yang memeliharanya, kemudian ke tangan pedagang pengumpul, lalu dibeli oleh jagal dan disembelih menjadi potongan daging dan tulang belulang kemudian dibeli konsumen. Setiap tahapan rantai pasar, akan menaikkan nilai (harga) ternak. Pedagang pengumpul jelas menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga sapi saat dibeli pada peternak. Selisih harga merupakan keuntungan yang bisa diperoleh setelah dia mengurangi biaya yang digunakan untuk transportasi, memelihara sementara saat sapi ditampung, komisi dan pengeluaran lainnya.

Harga ternak sapi ditentukan berdasarkan penafsiran pembeli sapi dengan melihat bentuk tubuh dan umur sapi. Seekor sapi hidup harganya sangat berfluktuasi, dengan umur dan besar tubuh yang sama bisa berbeda harganya. Harga dasar ternak hidup berpatokan pada harga yang ditetapkan oleh pemerintah, namun pada kenyataannya harga ternak di pasaran masih berdasarkan pada taksiran. Menjelang musim tanam harga sapi bisa lebih rendah dari harga biasanya, demikian pula ketika tahun ajaran baru harga sapi turun. Sesuai hukum pasar, dimana jika suplai lebih besar dari permintaan maka harga barang cenderung rendah demikian sebaliknya. Pada menjelang musim tanam petani/peternak menjual ternaknya untuk mendapatkan uang tunai guna membiayai lahan pertaniannya; demikian pada tahun ajaran baru banyak peternak harus menjual sapinya untuk biaya sekolah. Jika melihat kondisi demikian, harapan peternak untuk mendapatkan keuntungan dari usaha ternaknya sangatlah kecil. Mereka hanya bisa berharap mendapatkan keuntungan jika bisa mempertahankan sapinya untuk dijual pada saat harga sapi di pasaran tinggi.

Sistem pemasaran di daerah-daerah umumnya masih menerapkan cara penafsiran, belum berdasarkan harga berat hidup sapi. Namun pemasaran produk sapi (daging, tulang, kulit) sudah menerapkan penjualan berdasarkan timbangan. Sistem pemasaran ini sebenarnya kurang menguntungkan bagi para pelaku usaha ternak sapi ini. Ketepatan dari suatu penafsiran sangat relatif dan belum tentu kebenarannya 100 persen. Kalau diperhatikan harga seekor sapi sangat tergantung pada saat sapi dijual, kondisi sapi dan siapa pembelinya (pedagang pengumpul, jagal atau peternak lain); namun harga daging umumnya stabil pada kurun waktu tertentu (minggu; bulan atau tahun). Bagi pedagang sapi hidup dan pedagang daging sapi sulit untuk memprediksi keuntungan yang bisa diperoleh, dengan fuktuasi harga ternak hidup, mereka bisa saja mengalami kerugian. Harga sapi hidup naik-turun, sedangkan harga daging tidak banyak berubah. Bisa juga kesalahan tafsir terjadi saat membeli sapi hidup ternyata setelah di potong jumlah dagingnya tidak sesuai dengan yang diperkirakan. Pada kondisi demikain jagal hanya bisa mendapat keuntungan dari penjualan kulit, darah atau tulangnya.

Jika sistem pemasaran tradisional masih tetap bertahan dan tidak ada pembaharuan terutama pada pemasaran ternak hidup maka tidak banyak orang yang tertarik pada usaha peternakan sapi. Demikian pula untuk menggeser usaha ternak dari usaha sampingan atau tabungan menjadi usaha utama tentunya tidak mudah, karena tingkat resiko yang tinggi tidak disertai dengan harapan yang besar. Sapi yang dipelihara berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak memberikan kentungan yang memadai. Mungkin orang lebih tertarik pada bisnis perdagangan sapi antar pulau atau impor daripada harus membuka usaha pembibitan sapi atau penggemukan sapi.

Sudah saatnya diterapkannya sistem penjualan ternak berdasarkan timbangan terutama diberlakukan pada pasar-pasar hewan resmi, sehingga harga seekor sapi benar-benar berdasarkan berat badannya. Pengalaman di lapangan menunjukkan (ketika melaksanakan penelitian dengan penimbangan ternak secara berkala), membuktikan bahwa antusias peternak untuk mengetahui berat badan ternaknya sangat tinggi. Karena ketika mereka mengetahui berat badan sapinya, mereka sudah bisa memperkirakan harga jualnya. (Sasongko)

Web Analytics