KELOMPOK TANI TERNAK “AMERTA SARI”  DI RINDANG  TEPI HUTAN  LOMBOK BARAT

Parent Category: Artikel
Created: Wednesday, 22 September 2021 08:58
Published: Wednesday, 22 September 2021 08:58
Written by Admin
Hits: 60

Oleh :  Sasongko WR, Nurul Agustini dan Farida Sukmawati

              

               Melaksanakan tugas Balai untuk memenuhi memberikan bimbingan teknis tentang pengelolaan pakan sapi yang diajukan oleh  Kepala Desa Giri Madia Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat.  Desa ini berada di bagian Utara Kecamatan Lingsar.  Daerah yang sejuk berada di dataran tinggi dengan pepohonan besar dijumpai hamper di sepanjang jalan.  Kedatangan fungsional BPTP NTB didampingi oleh Koordinator Penyuluh UPTD Lingsar bu Ayu dan tenaga penyuluh lapang (Nahidah), diterima oleh Kepala Desa (Samiudin).  Pemerintahan Desa menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Kelompok Tani Ternak dengan focus materi Fermentasi Pakan.

               Desa Giri Madia adalah wilayah pedesaan yang tidak memiliki lahan persawahan.   Usaha ternak sapi sebagian besar adalah pembibitan, untuk penggemukan hanya sebagain kecil yang mengusahakan.   Peternak yang  memelihara sapi jantan bukan semata-mata untuk penggemukan tetapi hanya pembesaran dan sebagai pemacek. Inseminasi buatan (IB) merupakan system perkawinan sapi  yang mendominasi di sini, namun kondisi daerah yang agak terpecil dan hanya memiliki 1 inseminator menyebabkan service preconception (S/C) lebih dari satu. Seringkali terlambat tiba di lokasi pada saat akan melakukan IB.  Kelompok peternak yang resmi hanya 1 kelompok walaupun beberapa dusun telah memiliki calon kelompok.  Nama kelompok tani ternak  “Amerta Sari”, dengan jumlah anggota 31 orang jumlah sapi 35 ekor, berdiri sejak tahun 2010.

               Sistem pemeliharaan sapi adalah secara semi intensif dan intensif.  Jenis pakan yang diberikan sebagian besar rumput alam, jerami dan hanya sebagian kecil yang memberikan rumput unggul seperti rumput gajah.  Sumber pakan yang tersedia di lokal setempat tidak banyak jenisnya karena daerah ini tidak memiliki lahan pertanian untuk ditanami padi dan palawija. Bahan pakan yang diberikan pada sapi yang berasal dan lokal setempat adalah batang pisang, gamal, lamtoro dan rumput alam.  Ketika memasuki musim kemarau ketersediaan rumput terbatas, oleh karena itu peternak harus turun ke lokasi persawahan untuk mendapatkan jerami padi atau jagung sisa panen.

               Materi yang disampaikan pada bimtek adalah pengelolaan pakan untuk sapi seperti teknik penyimpanan, pengawetan dan peningkatan daya cerna pakan.  Jumlah peserta yang mengikuti 30 orang.  Dari hasil evaluasi memberikan hasil :  yang telah mengetahui tentang hijauan pakan sebesar 92,9% peternak umumnya mengetahui adanya rumput unggul seperti rumput gajah, namun belum mengenal keberadaan rumput unggul yang baru seperti Parchong, Umami.  Rumput Odot sudah dikenal di wilayah ini, namun belum banyak dikembangkan karena tidak tersedia lahan karena lahan yang ada adalah berupa kebun sehingga banyak naungan.  Yang dibutuhkan adalah rumput yang tahan naungan.

               Pengetahuan peternak tentang teknik penyimpanan hijauan pakan belum banyak, walaupun beberapa menyampaikan pernah melihat di media social tentang silase atau hay.  Bagaimana caranya atau prinsip untuk masing-masing teknik penyimpanan hijauan pakan ini belum dapat mereka pahami.  Dari kuesioner yang dibagi dapat dilihat bahwa 37% yang mengetahui prinsip penyimpanan yang disebut silase yaitu menyimpan hijauan pakan yang dibungkus plastic secara rapat. Bahan probiotik yang dikenal masyarakat untuk memfermentasikan hijauan pakan adalah Efective mikroorganisme yang memang dapat ditemukan pada toko penjual obat-obatan pertanian.

               Pembinaan pada kelompok tani-ternak ini masih sangat diperlukan untuk memberikan pengetahuan tentang pengelolaan pakan agar memudahkan peternak untuk menyediakan pakan bagi ternak sapinya.  Usaha ternak pembibitan adalah memiliki peran penting untuk menjaga populasi ternak sapi.  IB yang harus dilakukan berulang karena untuk berhasil bunting setelah induk diinseminasi lebih dari sekali.  S/C yang tinggi akan menyebabkan jarak beranak (calving interval)  menjadi lebih panjang, dampaknya adalah pada produktivitas anak yang dihasilkan.  Sapi umumnya diberi pakan batang pisang, rumput alam, jerami dan sedikit legume pohon seperti gamal (informasi dari peternak).  Pakan dengan kualitas yang kurang baik bisa juga berpengaruh terhadap fertilitas induk atau dukungan induk untuk melahirkan pedet yang sehat dan berkualitas. Harapan di masa mendatang pembinaan, pendampingan dan bimtingan teknis dapat lebih sering dilakukan agar dapat meningkatkan kapasitas peternak di wilayah Desa Giri Madia, demikian dikatakan oleh Kelapa Desa, Samiun pada saat menyampaikan kata sambutannya. Balai siap untuk memberikan dukungan dan semangat dalam memajukan peternakan sapi di desa ini.

 

 

 

 

Web Analytics