DUKUNGAN PEMERINTAH YANG DIPERLUKAN PADA USAHA TERNAK AYAM KUB SKALA KECIL DI MASA PANDEMI COVID 19

Parent Category: Artikel
Created: Thursday, 26 August 2021 10:01
Published: Thursday, 26 August 2021 10:01
Written by Admin
Hits: 109

Oleh : Sasongko WR dan Farida Sukmawati

              Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) telah dikembangkan sejak tahun 2012 di Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu mengalami perkembangan yang pesat.  Keberadaan kegiatan pengembangan dan program pemerintah di tingkat petani dan masyarakat telah memberikan dampak positif pada tumbuhnya usaha ternak ayam kampung di masyarakat umum (selain peternak), sebelumnya  diutamakan untuk konsumsi rumah tangga.  Kondisi  pandemic Covid 19 yang melanda tanah air sejak tahun 2020,  memberikan dampak negatif terhadap usaha ternak ayam KUB.  Penyebaran virus Corona menyebabkan pemerintah terpaksa harus membatasi aktivitas masyarakat mengakibatkan menurunnya serapan pasar untuk komoditi pertanian termasuk produk peternakan seperti ayam.

              Terganggunya perekonomian akibat pembatasan aktivitas usaha telah menyebabkan permintaan produk peternakan unggas seperti daging ayam menurun sehingga  peternak harus mengurangi produksi. Permintaan menurun, menyebabkan penawaran (suplai) meningkat sehingga menurunnya harga ayam.   Di satu sisi harga saprodi seperti pakan dan vitamin tidak turun namun cenderung mengalami kenaikan harga.  Pada posisi demikian penerimaan yang diperoleh  dari  penjualan ayam tidak mampu mengimbangi.  Usaha ternak berisiko mengalami kerugian.  Usaha ternak berskala kecil mengurangi produksi karena kemampuan modal yang dimiliki terbatas.  Jika kerugian dialami terus menerus dapat menyebabkan terhentinya usaha karena kehabisan modal.

              Umumnya beberapa saat adanya penurunan suplai (berkurangnya produksi) akan kembali terjadi kenaikan harga sebagai respon dari permintaan.  Dalam kurun waktu yang pendek,  kesempatan tidak dapat segera direspon oleh usaha ternak.  Dampak menurunnya suplai, walaupun permintaan tetap dapat menyebabkan kenaikan harga. Jika terjadi demikian akan masuk ayam siap potong atau sudah berupa karkas  masuk untuk memenuhi kebutuhan dan  menstabilkan harga.  Suplai yang lebih rendah dibandingkan dengan permintaan mendorong masuknya ayam dan daging ayam dari luar daerah atau wilayah.  Kondisi ini akan merugikan produsen ayam (usaha skala kecil). Di sini diharapkan kebijakan pemerintah agar dapat mengendalikan situasi untuk tetap dapat menjamin kesejahteraan peternak maupun masyarakat umum sebagai konsumen.               

Dilihat dari biaya produksi terbesar yang dikeluarkan pada usaha ayam kampung (KUB) adalah untuk menyediakan  pakan  yang menyerap sebesar 60-70% dari total biaya produksi.  Jika kebijaksanaan harga pakan diterapkan, diharapkan berpeluang bagi peternak untuk dapat mempertahankan produksi.  Pada  usaha pembibitan selain untuk pakan,  energy listrik untuk penetasan menyerap biaya yang besar juga.  Kebijakan penetapan tariff  listrik sekiranya dapat membantu petani maupun peternak, mengingat biaya listrik digunakan untuk menghidupkan mesin tetas. 

              Kebijakan lain yang dapat menjadi pertimbangan Pemerintah adalah meningkatkan peran penyuluhan di masa pandemik yaitu melalui pelatihan, bimtek untuk meningkatkan kapasitas SDM.   Pengelolaan pasca panen dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan nilai tambah produk.  Telah disampaikan bahwa produk peternakan umumnya tidak tahan lama (untuk penyimpanan segar), maka pengolahan pasca panen dapat dilakukan untuk memperpanjang waktu simpan produk ternak.  Pengolahan daging ayam seperti abon, dendeng atau daging beku dapat memperpanjang masa simpan produk ternak ayam  KUB.  Disamping itu produk olahan dapat memberikan nilai tambah (harga) yang lebih tinggi.

Kebijakan pemerintah menghadapi kondisi Covid 19 seperti yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga menjelaskan, secara khusus stimulus dan insentif yang dikeluarkan untuk tetap menjaga kinerja di sektor pertanian, antara lain: 1) Program Padat Karya Pertanian; 2) Program Padat Karya Perikanan; 3) Banpres Produktif UMKM Sektor Pertanian; 4) Subsidi Bunga Mikro/Kredit Usaha Rakyat; 5) Dukungan Pembiayaan Koperasi dengan Skema Dana Bergulir (sumber : Strategi Pemerintah Mendorong Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani - Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat (jabarprov.go.id)

Dari  sudut pandang urgensi, pertanian secara umum adalah sektor penopang ketahanan pangan (food security) yang akan krusial di kala krisis ekonomi, bukan hanya sebatas bertahan hidup tapi juga masalah asupan gizi.  Tercatat bahwa sektor pertanian tetap tangguh selama pandemi Covid-19 dengan kontribusi nilai ekspor mencapai USD 0,4 miliar atau 3% dari total ekspor Indonesia.  Menko Hartarto menyampaikan komitmen pemerintah untuk menguatkan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani/nelayan. “Pemerintah telah menyiapkan stimulus ekonomi untuk menyokong sektor pertanian dan perikanan,” ujarnya dalam acara “Silaturahmi Peternak dan Kampanye Makan Ayam dan Telur” di IPB International Convention Center, Bogor, Kamis (3/6/2021).  Khusus untuk industri perunggasan, disampaikan  bahwa industri ini merupakan salah satu industri yang telah mengakar dan menjadi budaya masyarakat untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Pemerintah akan mendorong hilirisasi di industri perunggasan, diharapkan  akan sangat membantu peternak dengan peningkatan konsumsi yang akan mendongkrak permintaan daging ayam dan telur. Dengan peningkatan konsumsi daging dan telur ayam ras maka optimalisasi sumberdaya produksi dapat dilakukan dan diharapkan peternak ayam lebih sejahtera (sumber : Strategi Pemerintah Mendorong Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Web Analytics