ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN JAGUNG KETAN LOKAL VARIETAS “JAGO LEKE”

Pin It

Fitrahtunnisa dan Ai Rosah Aisah

 

Jagung merupakan tanaman yang mampu tumbuh dan bertahan di berbagai musim dengan kondisi geografis tertentu. Kemudahan perawatan pun menjadi daya tarik petani untuk melakukan budidaya jagung. Akan tetapi, kemudahan budidaya jangung tidak membuatnya terlepas dari berbagai ancaman hama dan penyakit. Hal ini juga tidak dapat dihindari terjadi pada jagung lokal varietas jago leke yang merupakan jagung ketas lokal Bima.

Serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang umum ditemukan di area pertanaman jago leke yaitu meliputi belalang, penggerek batang, hawar daun, dan karat daun. Gejala serangan OPT terjadi baik pada fase vegetatif maupun generatif dengan intensitas serangan yang berbeda-beda. Menurut Surtikanti (2012), hama dan penyakit yang menyerang tanaman jagung pada masa vegetatif umur 0-14 hst (hari setelah tanam) yaitu lalat bibit, ulat tanah, lundi (uret), bulai, dan virus mozaik kerdil. Selanjutnya pada umur 15-42 hst, hama dan penyakit yang menyerang jagung adalah penggerek batang, ulat grayak, wereng jagung, bercak daun, dan hawar atau upih daun. Sementara pada fase generatif, hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman jagung yaitu penggerek tongkol, busuk batang, dan busuk tongkol.    

 

  1. Serangan belalang (Locusta)

Serangan belalang pada pertanaman jagung mulai terlihat pada umur 12 hst. Gejala yang terlihat yaitu berupa daun berlubang atau hilangnya bagian pinggir daun (Gambar 1). Belalang merupakan salah satu serangga pengganggu yang sering ditemui di pertanaman jagung. Belalang menyerang tanaman dengan cara memakan tanaman jagung yang masih muda, sehingga menyebabkan daun berlubang atau bagian daun berkurang. Bahkan dalam kondisi serangan berat dapat menyebabkan daun tersisa bagian tulang daunnya saja. Serangan belalang dapat dikendalikan dengan beberapa cara, di antaranya yaitu kultur teknis, seperti menanam tanaman alternatif yang tidak disukai belalang; fisik mekanis, dengan menangkap atau mengumpulkan kelompok belalang; dan biologis, seperti melakukan penyemprotan dengan memanfaatkan ekstrak nimba (Fattah dan Hamka 2012; Adnan 2012). Adapun pengendalian serangan belalang pada tanaman jago leke ini dilakukan secara kimiawi. 

 

 

 

Gambar 2. Gejala serangan hama belalang pada tanaman jagung: a) daun berlubang, b) bagian pinggir daun hilang, dan c) individu belalang hijau.

 

  1. Serangan hama penggerek batang (Ostrinia furnacalis)

Serangan hama penggerek batang pada jago leke dapat dilihat dengan adanya gejala berupa lubang gerekan pada bagian batang dan adanya serbuk yang keluar dari lubang gerekan tersebut (Gambar 2a). Selain batang, hama ini juga dapat menyerang bagian daun (Gambar 2b). Serangan penggerek batang merupakan OPT yang paling dominan ditemukan di area pertanaman dan menyebabkan kerusakan berat berupa patahnya bagian batang tanaman jagung. Nonci (2004) menjelaskan bahwa penggerek batang merupakan hama penting pada tanaman jagung di Indonesia, bahkan di beberapa negara Asia. Hama penggerek ini dapat menyerang tanaman jagung pada bagian daun, batang, dan bunga (jantan dan betina) dan dapat menyebabkan kehilangan hasil sekitar 20-80%. Penelitian Heryana (2013) menunjukkan bahwa tingkat serangan penggerek batang jagung paling tinggi terjadi pada saat tanaman berumur 50 hari, sedangkan paling rendah pada umur 60 hari.

 

                                         

Gambar 3. Gejala serangan hama penggerek batang pada tanaman jagung: a) larva hama penggerek batang jagung, b) lubang gerek pada bagian batang, dan c) serangan pada bagian daun.

 

Upaya pengendalian penggerek batang jagung dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid, predator, dan patogen (Nonci 2004). Ginting et al. (2014) menunjukkan bahwa pemanfaatan patogen Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) dengan dosis 3000 ppm dapat menyebabkan kematian larva penggerek batang sebebsar 86.08% pada skala laboratorium. Dalam kajian ini pengendalian dilakukan secara kimiawi.

 

  1. Penyakit hawar daun

Penyakit hawar daun disebabkan oleh patogen Helminthosporium turcicum. Awal gejala dapat dilihat dengan adanya bercak kecil pada bagian daun. Bercak kemudian berkembang menjadi nekrotik dengan bentuk makin memanjang (elips) (Gambar 3). Latifahani et al. (2014) menyatakan bahwa gejala bercak yang semakin melebar dapat menyebabkan jaringan daun mati karena bersatunya satu bercak dengan bercak yang lain. Penyakit ini berkembang dengan baik pada fase generatif. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit hawar daun jagung di antaranya adalah penggunaan varietas tahan, eradikasi atau pemusnahan bagian tanaman yang terinfeksi, dan penyemprotan dengan fungisida nabati. Dalam kajian ini tidak dilakukan tindakan pengendalian karean tingkat serangan relatif rendah.

 

 

Gambar 4.   Gejala penyakit hawar daun pada tanaman jagung: bercak kecil kemudian berkembang menjadi memanjang.

 

  1. Penyakit karat daun

Penyakit karat daun disebabkan oleh patogen Puccinia polysora. Gejala yang ditimbulkan yaitu berupa adanya bercak-bercak kecil pada permukaan daun bagian bawah dan atas (Gambar 4). Puspawati dan Sudarma (2016) menjelaskan bahwa serangan P. polysora pada tanaman jagung memperlihatkan adanya pustul (jerawat) pada permukaan atas dan bawah daun. Lesio atau luka dapat berkembang pada bagian tangkai dan upih daun. Ketika pustul pecah, maka spora akan dipencarkan oleh angin dan berpotensi untuk menimbulkan infeksi berikutnya. Dalam kajian ini tidak dilakukan tindakan pengendalian dikarenakan rendahnya tingkat serangan. Akan tetapi upaya pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan penggunaan varietas tahan dan pemusnahan seluruh bagian tanaman yang terinfeksi beserta gulma yang berada di sekitar tanaman terinfeksi.  

 

 

 

Gambar 5. Gejala serangan penyakit karat daun pada tanaman jagung

Daftar Pustaka

Adnan, AM. 2012. Manajemen musuh alami hama utama jagung. Prosiding Seminar Nasioanl Serealia: 388-405. Seminar Nasioanal Serealia: Inovasi Teknologi Mendukung Swasembada Jagung dan Diversifikasi Pangan, Maros 3-4 Oktober 2011. Balai Tanaman Serealia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Fattah, A., dan Hamka. 2012. Tingkat serangan hama penggerek tongkol, ulat grayak, dan belalang pada jagung di Sulawesi Selatan. Prosiding Seminar Nasional Serealia: 382-387. Seminar Nasioanal Serealia: Inovasi Teknologi Mendukung Swasembada Jagung dan Diversifikasi Pangan, Maros 3-4 Oktober 2011. Balai Tanaman Serealia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Ginting, TY., Oemry, S., dan Pinem, MI. 2014. Uji efektivitas Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) terhadap pengendalian hama penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis Guenée (Lepidoptera: Pyralidae) pada berbagai instar di laboratorium. Jurnal Online Agroteknologi. 2(2): 726-734.

Heryana, RTS. 2013. Penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis Guenée (Lepidoptera: Crambidae): tingkat serangan di wilayah Bogor dan siklus hidupnya di Laboratorium. [skripsi]. Bogor: Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 

Latifahani, N., Cholil, A., dan Djauhari, S. 2014. Ketahanan beberapa varietas jagung (Zea mays L.) terhadap serangan penyakit hawar daun (Exserohilum turcicum Pass. Leonard et Suggs.). Jurnal HPT. 2(1): 52-60.

Nonci, N. 2004. Biologi dan musuh alami penggerek batang Ostrinia furnacalis Guenée (Lepidoptera: Pyralidae) pada tanaman jagung. Jurnal Litbang Pertanian. 23(1): 8-14.

Puspawati, NM., dan Sudarma, IM. 2016. Epidemiologi penyakit karat pada tanaman jagung (Zea mays L.) di Denpasar Selatan. AGROTROP. 6(2): 117-127.

Surtikanti. 2012. Hama dan penyakit penting tanaman jagung dan pengendaliannya. Prosiding Seminar Nasional Serealia: 497-508. Seminar Nasioanal Serealia: Inovasi Teknologi Mendukung Swasembada Jagung dan Diversifikasi Pangan, Maros 3-4 Oktober 2011. Balai Tanaman Serealia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Web Analytics