KARAKTER MORFOLOGI JAGUNG KETAN VARIETAS “JAGO LEKE” SUMBER DAYA GENETIK (SDG) LOKAL PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Parent Category: Artikel
Created: Monday, 16 August 2021 09:43
Published: Monday, 16 August 2021 09:43
Written by Admin
Hits: 178

 Fitrahtunnisa dan Ai Rosah Aisah

              Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditi strategis kedua setelah padi karena jagung merupakan salah satu jenis serealia yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain sebagai pangan dan pakan, jagung juga banyak digunakan sebagai bahan baku energi serta bahan baku industri lainnya yang kebutuhannya setiap tahun mengalami peningkatan (Hermanto dkk, 2009).

              Jagung ketan atau jagung pulut (dalam bahasa Bima disebut jago leke atau jago fare keta) merupakan salah satu jenis jagung yang memiliki karakter spesial yaitu pati dalam bentuk amilopektin 100% yang memiliki rasa manis dan pulen yang tidak dimiliki oleh jagung lain sehingga banyak digemari oleh masyarakat. Sejak jaman nenek moyang dahulu jago leke dibudidayakan secara luas oleh masyarakat Bima, bahkan dapat dikatakan sebagai bahan konsumsi utama setelah beras. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan semakin beragamnya jenis makanan, pemanfaatan jago leke beralih prioritas yang awalnya sebagai makanan utama pengganti beras saat musim paceklik tiba, namun kini dikonsumsi sebagai cemilan untuk jagung direbus atau jagung bakar. Selain tersebar luas di hampir seluruh Kabupaten di pulau Sumbawa, jago leke ini juga sudah tersebar di pulau Lombok seperti di beberapa daerah di Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Petani lokal dalam beberapa tahun terakhir selalu membudidayakan jago leke yang ditumpangsarikan dengan tanaman kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kacang nasi di lahan pertaniannya, dimana Jerowaru merupakan daerah dengan lahan kering tadah hujan.

Keberadaan jago leke ini dirasa mulai terancam keberadaannya mengingat hampir seluruh pelosok daerah di pulau Sumbawa dari daerah ujung timur sampai ujung barat merupakan daerah yang sangat potensial sebagai daerah pengembangan jagung, dan dalam dua tahun terakhir masyarakat melakukan penanaman jagung hibrida secara massal dalam upaya pencapaian swasembada jagung nasional. Hal ini dikhawatirkan dapat mengancam hilangnya sumberdaya genetik jagung lokal khususnya di NTB. Untuk itu dianggap penting untuk melakukan konservasi atau pelestarian jago leke ini yaitu melalui upaya karakterisasi, evaluasi dan pendaftaran sebagai varietas lokal yang potensial.

 

Gambar 1. Tanaman jagung lokal (kiri), kelobot (tengah), tongkol (kanan)

 

Jago leke adalah jagung lokal Bima yang sudah sangat familiar dengan masyarakat Bima sejak zaman nenek moyang dahulu sampai sekarang. Jagung ini enak untuk dikonsumsi sebagai jagung muda baik sebagai jagung rebus atau jagung bakar, maupun jagung tua sebagai jagung goreng ataupun jago sombu (jagung ketan tua direbus dan disajikan dengan kelapa parut dan taburan gula). Jagung ini tidak mengenal musim, selalu tersedia di segala musim. Rasanya yang pulen dan manis membuat jagung ini digemari oleh semua kalangan dari orang dewasa hingga anak-anak.

Secara visual, tanaman jagung ketan lokal Bima ini dapat dengan mudah dibedakan dengan jagung-jangung varietas unggul baru. Ciri morfologi yang menonjol seperti warna batang kemerahan, tinggi tanaman lebih pendek dibanding tanaman jagung pada umumnya, tongkol lebih kecil, dan rambut tongkol muda berwarna merah (Gambar 1). Karakter lebih lengkap hasil evaluasi tersaji dalam Tabel 1 - 4.

 

Tabel 1. Karakater tanaman jagung ketan lokal Bima

NO

Variabel

Keterangan

 

Tanaman

 

1

Umur berbunga jantan

34 hari

2

Umur berbunga betina

38 hari

3

Tinggi tanaman (cm)

176,5

4

Tinggi tongkol (cm)

63,6

5

Panjang daun (cm)

83,3

6

Lebar daun (cm)

8,34

7

Jumlah daun di atas tongkol

6

8

Total jumlah daun per tanaman setelah berbunga

12

9

Orientasi daun setelah berbunga

Menggantung

10

Bentuk ujung daun pertama

Runcing

11

Sudut antara helaian daun dan batang

Keci (±25o)

12

Arah helaian daun dan batang

Melengkung

13

Adanya lidah daun (ligula)

Tidak ada

14

Warna batang

Kemerahan

15

Bulu pelepah daun

Sedang

16

Jumlah daun hijau pada waktu masak

Tinggi

 

Tabel 2. Karakter malai jago leke lokal Bima

1

Panjang malai (cm)

43

2

Panjang tangkai bunga (cm)

26,35

3

Jarak cabang malai (cm)

11,35

4

Tipe malai

Primer – sekunder

5

Jumlah cabang primer pada malai

10,1

6

Jumlah cabang sekunder pada malai

4

7

Jumlah cabang tertier pada malai

0

8

Arah cabang lateral malai

Sedikit melengkung

9

Sudut antara poros utama dan cabang lateral

Sedang (±50o)

 

Tabel 3. Karakter tongkol jago leke lokal Bima

1

Penutupan kelobot

Bagus

2

Keusakan tongkol

Sedikit

3

Panjang tongkol (cm)

10 – 14

4

Diameter tongkol (cm)

3 – 4

5

Bentuk tongkol paling atas

Silindris mengerucut

 

Tabel 4. Karakter biji jago leke lokal Bima

1

Warna biji

Putih

2

Susunan baris biji

Teratur

3

Jumlah baris biji

10 – 14

4

Panjang biji (cm)

0,8 – 1,1

5

Lebar biji (cm)

0,7 – 0,9

6

Tebal biji (cm)

0,5 – 0,6

7

Bentuk permukaan biji teratas

Bundar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Web Analytics