PERANAN KELAS BENIH TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI

Parent Category: Artikel
Created: Friday, 23 April 2021 15:37
Published: Friday, 23 April 2021 15:37
Written by Admin
Hits: 157

Yuliana Susanti & Sabar Untung

 

              Fungsi benih akan tercapai sebagai pembawa inovasi teknologi apabila benih yang sampai ke tangan petani adalah benih yang bermutu. Mutu benih mencakup beberapa hal, antara lain : 1). kemampuan tumbuh (mutu fisiologis); 2). bersih dan sehat (mutu fisik); 3). murni (mutu genetik). Wahyunu et al. (2011) menyatakan bahwa petani menggunakan benih yang berasal dari dua sumber yaitu : (a) sektor perbenihan formal (benih dari pedagang dan produsen benih yang komersial); (b) sektor perbenihan informal (benih yang berasal dari hasil panen sendiri/barter dengan petani lain).

              Benih digolongkan menjadi empat kelas benih yaitu : 1). Benih Penjenis (BS), merupakan turunan pertama dari benih inti (NS: nucleus seed) varietas unggul yang merupakan benih dasar, diproduksi dan dibawah pengawasan pemulia atau institusi pemulia; 2). Benih Dasar (BD) turunan pertama benih penjenis; 3). Benih Pokok (BP) turunan pertama benih dasar; 4). Benih Sebar (BR) turunan benih pokok. Benih sebar yakni benih yang bisa digunakan petani untuk tujuan konsumsi (Direktorat Perbenihan, 2009).

              Banyak petani yang berpendapat bahwa kelas benih yang lebih tinggi dengan standar mutu yang tinggi berkaitan erat dengan hasil yang tinggi pula. Hal ini yang menyebabkan petani lebih memilih untuk menggunakan benih dari kelas benih yang lebih tinggi dibandingkan kelas BR untuk pertanamannya. Hasil survey yang dilakukan Ruskandar et al. (2008), mengungkapkan bahwa persentase penggunaan benih pokok (SS) oleh petani di DI. Yogyakarta dan Jawa Timur cukup tinggi dibandingkan dengan penggunaan benih sebar (BR), sehingga kelarifikasi kelas benih yang berbeda perlu dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan petani dalam menggunakan benih sebar untuk pertanamannya sehingga permintaan terhadap benih sumber akan lebih rasional kedepannya.   

              Untuk menjawab opini petani terkait kelas benih yang  berpengaruh terhadap peningkatan hasil tanaman padi, maka dilakukan pengkajian dengan metode action research dilahan milik petani seluas 1 ha di Desa Dasan Geriya, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat pada musim tanam MK I yakni mulai bulan Maret hingga Juni 2019. Varietas yang digunakan adalah Inpari 33 dengan kelas benih yang berbeda, yakni kelas BS, FS dan SS dengan penerapan teknologi PTT dan sistem tanam jajar legowo 2:1.

 

 

Tabel 1. Produktivitas padi VUB Inpari 33 dengan kelas benih berbeda

Varietas

Kelas Benih

Produktivitas (t/ha)

 
 

Inpari 33

BS

9,39

 

FS

9,20

 

SS

9,11

 

 

Beberapa tahun terakhir ini terdapat kerancuan dalam pemilihan dan penggunaan kelas benih. Sebagian besar petani beranggapan bahwa pertanaman dengan menggunakan kelas benih yang tinggi akan memberikan hasil yang tinggi pula (Wahyuni, 2013). Hal ini sangat berdampak terhadap tingginya permintaan benih pokok yang digunakan dalam pertanaman padi untuk produksi beras. Perbedaan performa dari suatu tanaman maupun penurunan hasil yang signifikan dari suatu varietas tertentu dengan perbedaan kelas benih tidak akan terjadi selama proses produksi berjalan sesuai prosedur (Mulsanti et al. 2014). Dari hasil kegiatan pengkajian yang telah dilakukan di Desa Dasan Geriya Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat menunjukkan bahwa penggunaan VUB Inpari 33 dengan kelas benih yang berbeda tidak menunjukkan hasil yang jauh berbeda (Tabel 1). 

Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan bahwa penggunaan varietas IR 64 dengan kelas benih pokok dan benih sebar yang masing-masing dari tiga produsen benih yang ditanam dengan penerapan teknologi budidaya yang sama menunjukkan bahwa hasil gabah yang tidak berbeda nyata antar tanaman (Nugraheat, 1994). Mulsanti dan Wahyuni (2010) juga melaporkan varietas padi Ciherang dan IR 64 dengan kelas benih BD, PB dan BR menunjukkan bahwa komponen hasil (panjang malai, jumlah gabah isi per malai), hasil gabah kering panen dan hasil gabah kering giling dari satu varietas yang sama tidak berbeda antar kelas benih.

Banyaknya petani yang selama ini menggunakan kelas benih yang lebih tinggi untuk pertanaman konsumsi diduga berkaitan dengan tingkat kepercayaan petani terhadap mutu benih yang dijual dipasaran. Hal ini dapat menjadi masukan penting bagi para produsen benih BR agar dapat menghasilkan benih dengan kualitas tinggi sehingga pengguna benih (petani) memiliki tingkat kepercayaan terhadap benih yang dijual dan tidak menimbulkan efek jera bagi petani dalam menggunakan kelas benih yang lebih rendah. Selain itu perlu juga dilakukan demplot pada beberapa lokasi sentra padi yang pada umumnya petani banyak menggunakan kelas benih FS atau SS untuk padi konsumsi, untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka yakini itu tidak benar sehingga pengkelasan pada padi dapat berjalan normal kembali.

Daftar Pustaka

Direktorat Perbenihan. 2009. Persyaratan dan Tata Cara Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 173p.

Mulsanti, I.W., Wahyuni, S. 2010. Pengaruh Perbedaan Kelas Benih terhadap Produktivitas Padi Varietas Ciherang dan IR 64. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Padi 2009. Buku III: 1101-1110.

Mulsanti, I.W., Wahyuni, S. Sembiring, H. 2014. Hasil Padi dari Empat Kelas Benih yang Berbeda. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 33(3): 169-176.

Ruskandar, A., Wahyuni, S. Mulya, S.H. Rustianti, T. 2008. Respon Petani di Pulau Jawa terhadap Benih Bersertifikat. Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN. Buku 2. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Pertanian.p.881-888.

Wahyuni, S., Ruskandar, A. Rustianti, T. 2011. Penelusuran Keberlanjutan Alur Perbanyakan Benih Sumber Padi (Studi Kasus di Jawa Timur). Laporan Tahunan Penelitian Tahun 2010. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.29.p.

Wahyuni, S. Keragaan Produsen Benih Padi di Jawa Tengah dengan Mutu Benih yang Dihasilkan. Prosding Seminar Nasional. Universitas Sebelas Maret. 

 

 

Web Analytics