PETERNAK PENGADOPSI TEKNOLOGI AYAM KUB DENGAN PERSOALAN YANG DIHADAPI

Parent Category: Artikel
Created: Tuesday, 16 February 2021 21:54
Published: Tuesday, 16 February 2021 21:54
Written by Sasongko WR dan Farida Sukmawati
Hits: 258

 

Oleh : Sasongko WR dan Farida Sukmawati

             

Ayam Kampung Unggul Balitbangtan mulai diperkenalkan tahun 2012 artinya sudah sembilan tahun keberadaannya di Nusa Tenggara Barat.  Pertama dipelihara oleh Sirajudin peternak ayam kampung dari Desa Jago Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah.  Diperkenalkan  oleh Penyuluh Senior Ir. A. Muzani saat masih aktif sebagai Penyuluh BPTP NTB dan Totok B Julianto, SPt.  Diseminasi yang tidak pernah putus hingga saat ini seperti pelaksanaan program #BEKERJA (2018) dan Perbibitan Ayam KUB Strata 1, Strata 2 dan Strata3 (2018 dan 2019). Usaha ternak ayam KUB terus berkembang di masyarakat, walaupun terdapat kendala yang dihadapi seperti peningkatan harga pakan (pakan komersil) dan fluktuasi harga jual ayam.


  

Telah dilaksanakan survei yang bertujuan mempelajari perkembangan usaha ayam KUB dan persoalan yang dihadapi.   Responden ditentukan secara purposiv  yaitu peternak ayam KUB sebanyak 26 orang yang ada di sekitar peternak ayam KUB binaan BPTP NTB.  Survei dilaksanakan  tahun 2019   sebagai enumerator adalah mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Mataram, setelah selesai melaksanakan magang di BPTP NTB. 

Peternak binaan BPTP NTB tersebar pada beberapa wilayah terutama di Pulau Lombok diantaranya yaitu pada 1). Program BEKERJA yang memelihara ayam hanya pada pembesaran dari DOC sampai menjadi ayam siap potong.  Srijaya dari Desa Setangor yang telah mendapat binaan melalui kegiatan #BEKERJA (2018).  2). Kegiatan Pembibitan Strata 2 Model Inti – Plasma, dimana Inti memproduksi DOC untuk dipelihara sendiri maupun dijual (plasma).  Fendi dari Desa Tanak Rarang Kecamatan Praya Barat yang mendapat pembinaan pada kegiatan program #BEKERJA dan pembibitan ayam KUB Strata 2 sebagai Inti.  Junaidi dari Desa Bagek Polak Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat juga dibina pada kegiatan Pembibitan Ayam KUB Strata 2 sebagai Plasma.  3). Peternak yang pertama mengembangkan ayam KUB saat pertama kali menjadi kegiatan Balai (2012), saat ini telah menjadi produsen bibit ayam KUB untuk memenuhi kebutuhan peternak di sekitarnya.  Sirajudin dari Desa Jago Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah. 

 

 

Hasil survey menunjukkan bahwa seluruh peternak responden telah mengetahui dan menjalankan usaha ternak ayam KUB.  Skala usaha tergolong kecil sampai menengah dengan jumlah ayam yang dipelihara di bawah 10.000 ekor/peternak.  Sumber  informasi tentang ayam KUB tersedia cukup di media sosial, website dan Google.  Beberapa dari  mereka mendapatkan informasi  langsung pada peternak binaan BPTP NTB dan sebagian pernah ke Kantor BPTP NTB. Umumnya  penerapan teknologi sesuai kemampuan dan keterampilan yang dimiliki (Grafik 1). 

 

           Ketertarikan untuk memelihara ayam KUB  karena memiliki keunggulan dibandingkan dengan ayam kampung biasa, seperti umur bertelur lebih muda.  Beberapa peternak ayam KUB, umumnya  memperoleh  informasi melalui media social seperti Facebook, dan Youtube.  Jika ingin mendapatkan informasi lebih lengkap mereka  menghubungi kontak person melalui telepon atau  datang  ke BPTP NTB. 

               Responden seluruhnya telah memiliki pengetahuan tentang ayam KUB. Menjalankan usaha ayam KUB, namun baru sebagian (88%) yang telah menerapkan teknologi pemeliharaan ayam KUB (Grafik 1).  Teknologi yang telah diterapkan seperti vaksinasi teratur, pemberian pakan, penerapan biosekuriti serta penetasan untuk menghasilkan DOC.  Teknis pemeliharaan belum sepenuhnya diterapkan sehingga masih membutuhkan pendampingan dan pembinaan terutama untuk mendapatkan solusi atas permasalahn yang dihadapi.      

 

 

Sumber bibit DOC sebagian kecil adalah dari penetasan sendiri (32%), membeli dari distributor DOC yang mendatangkan dari  Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur (88%), yang  membeli di toko saprodi ternak 6% (Grafik 2).  Artinya  bibit ayam KUB yang berasal dari wilayah setempat masih relative kurang, perlu diperbanyak jumlah produsen DOC ayam KUB atau kapasitas produksinya.   Kebutuhan DOC di wilayah NTB (wilayah Pulau Sumbawa) masih didatangkan dari Pulau Lombok dan dari luar wilayah NTB.

              Sarana produksi yang penting pada usaha ayam KUB adalah pakan. Pakan  merupakan pendukung utama bagi usaha  Ayam KUB.  Ayam ini  dapat diberi  pakan komersil maupun pakan campuran dari bahan baku lokal.  Namun pemenuhan kebutuhan pakan tidak hanya dari kuantitas (jumlahnya) tetapi juga kualitas (mutu), sebab kualitas pakan menentukan produksi ayam.   Pakan  yang dibuat sendiri oleh  peternak dari bahan pakan local dapat menekan harga (rendah), namun kualitasnya belum menjamin mendukung produksi. 

Usaha pembesaran ayam KUB umumnya masih tergantung pada pakan komersil karena  peternak belum mampu menghasilkan pakan yang memiliki kualitas setara pakan komersil (Grafik 3). Sedangkan usaha pembibitan untuk ayam fase menjelang bertelur umumnya diberikan pakan campuran.  Pilihan ini lebih pada upaya untuk menekan biaya pakan.  Ayam KUB mulai bertelur di atas umur 5 bulan, mulai umur 2 bulan ke atas ayam sudah diberikan  pakan campuran dari bahan pakan konsentrat, jagung giling dan dedak.

Harga pakan komersil cenderung mengalami peningkatan sedangkan kenaikan harga produk ternak tidak mengikuti perubahan harga pakan.  Ini menjadi permasalahan yang dihadapi usaha ternak ayam KUB.  Bahan pakan juga tidak stabil seperti jagung dan dedak, tergantung pada musim, saat di luar musim panen harga juga cenderung meningkat, dan mengalami penurunan pada saat panen.  Harga dedak padi tergantung pada saat panen padi. Persoalan ini perlu menjadi perhatian agar dapat memberikan solusi pada peternak ayam KUB untuk dapat menyusun pakan sendiri untuk menghadapi kenaikan harga pakan komersil.

 

Tentang penyakit ayam  yang  banyak dijumpai pada usaha ayam KUB terbesar adalah ngorok  yaitu sejenis penyakit pernapasan (seperti CRD) hampir 90%  (Grafik 4)peternak pernah menghadapi serangan penyakit tersebut pada ayam yang dipelihara.  Penyakit  ini umumnya masih dapat diatasi dengan pengobatan dan perlakuan fisik seperti memasang selimut kandang saat cuaca buruk.  Penyakit  berak kapur sekitar 65% peternak menjumpai penyakit ini pada ayamnya.  Penyakit New Castle Desease (ND) atau biasa disebut tetelo atau mopok (istilah lokal) 62% peternak pernah menghadapi penyakit ini yang meyerang pada ayam yang mereka pelihara. Penyakit ND adalah penyakit yang mudah menular, tetapi peternak yang telah melakukan vaksinasi ND sejak ayam umur muda (1-5 har) ayamnya relative lebih tahan.

Dari hasil tersebut dapat diketahui kelemahan yang perlu mendapatkan solusi agar peternak dapat mengatasi persoalan yang dihadapi , sehingga hal-hal tersebut tidak lagi sering terjadi pada usaha ternak ayam KUB.  Ayam KUB dari sisi genetik memiliki potensi yang unggul dibandingkan dengan ayam kampung lokal atau ayam kampung biasa, tetapi manajemen pengelolaannya harus diperhatikan terutama pada permasalahan yang sering muncul.  Permasalahan  harga pakan yang meningkat sewaktu-waktu menyebabkan kerugian pada usaha ternak apabila tidak disertai dengan kenaikan harga produknya.  Diperlukan teknologi penyusunan ransum ayam yang dapat dibuat sendiri dengan komposisi bahan pakan yang memiliki kualitas sama atau mendekati kualitas pakan komersil.  Pengendalian penyakit dengan memperketat biosekuriti agar dapat mengurangi terserangnya ayam oleh penyakit.  Tidak kalah penting adalah ketersediaan DOC atau bibit ayam berkualitas untuk memenuhi kebutuhan bibit pada usaha ternak setempat sehingga tidak perlu harus mendatangkan DOC dari luar karena harganya bisa lebih tinggi dan ini menjadi salah satu penyebabkan usaha ayam tidak memberikan keuntungan susai yang diharapkan. 

Web Analytics