PENDAMPINGAN TEKNOLOGI DI KELOMPOK TANI “MEKAR SARI”

Pin It

Pendampingan  dimulai pada awal  2020, berlokasi di Desa Sisik Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah dan berkoordinasi dengan BPP kecamatan Pringgarata.  Kegiatan ini, berawal dari program utama kementan untuk membina BPP Model Kostratani yang pembinaannya diutamakan di Lokasi sekitar kantor Kelompok yang yaituKelompoktani “Mekar Sari” klas kelompok Pemula. Teknologi yang diperkenalkan saat itu adalah Varietas Unggul Baru (VUB) padi produk Badan Litbang pertanian. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan teknologi jarak tanam yaitu tandur jajar. Sebelumnya kelompok ini tidak  menggunakan sistem tanam jajar legowo, tetapi tandur jajar biasa.

Keberadaan penyuluh pertanian BPTP NTB di Kelompoktani “Mekar Sari” kemudian memperkenalkan tandur jajar legowo dan manfaatnya/keunggulannya.. Umumnya semua jenis tanaman membutuhkan jarak tanam untuk memberikan kesempatan tanaman menyerap unsur hara yang seragam di dalam tanah, sehingga tanaman dapat secara optimal menyerap unsur hara.  Jarak tanam juga memberikan ruang pada tanaman untuk memperoleh sinar matahari yang merata.  Tanaman membutuhkan sinar maharani untuk proses fotosintesis.  Dengan menerapkan tandur jajar legowo diharapkan dapat memperbanyak ruang untuk siner matahari mengenai tanaman dan juga dapat meningkatkan pertumbuhan anakan . Cahaya matahari yang cukup menyinari tanaman akan membantu proses pertumbuhan dan perkembangan. Selain mampu meningkatkan hasil, dengan menerapkan jarak tanam ini juga agar respirasi pada tanaman lebih baik.  Mengurangi potensi  tumbuhnya jamur akibat kelembaban tinggi.

Kelompoktani “Mekar Sari” umumnya mudah memahami penjelasan yang disampaikan. Pada  musim tanam berikutnya anggota kelompok akan menanam VUB Inpari 32 dan menerapkan jarak tanam. Pada setiap  kunjungan, petani tidak henti-hentinya bertanya agar Penyuluh Desa setempat juga intens ke Kelompok. Seiring dengan berkembangnya teknologi, jarak tanam jajar legowopun disiapkan untuk dilaksanakan oleh petani anggota kelompok ini. Pembelajaran singkat juga diberikan oleh penyuluh Desa bersama penyuluh BPTP NTB melalui media online dan slide power point.

Setelah membandingkan anakan pada tanaman pinggir dan tanaman di tengah, Kemudian petani diminta memberikan pendapat tentang apa yang telah dilihatnya. Petani dapat melihat bahwa tanaman pinggir memiliki jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan tanaman ditengahnya. Dijelaskan oleh Penyuluh bahwa tanaman pinggir mendapatkan cahaya matahari lebih banyak dibandingkan tanaman di tengahnya. Darai teknologi jarak tanam legowo ini petani mengharapkan agar dapat diberikan pelatihan atau bimtek kepada seluruh petani anggota kelompok.

, Teknologi jajar legowo adalah sistem tanam jajar legowo adalah agar memiliki intensitas sinar matahari pada tanaman.  Jajar Legowo  dapat meningkatkan populasi menjadi lebih dari 160.000/Ha. Teknologi tanam jajar legowo dapat  meningkatkan hasil. Teknologi ini, menerapkan jarak tanam 25 cm x 25 cm dan memiliki tanaman sisipan antara jarak tanam 12,5cm dan jarak antara lorong yaitu 50 cm  sehingga biasa ditulis: 25x12,5x50. Teknologi jajar legowo (jarwo) 2:1 dapat menghasilkan populasi sebanyak 213.300 rumpun dan populasi dapat meningkat sebanyak 33,31% pabila dibandingkan dengan teknologi jarak tanam biasa (25x25) cm yang menghasilkan 160.000 rumpun/Ha.Teknologi jarwo telah dilaksanakan oleh petani Kelompok Mekar Sari dengan menerapkan jarwo 6:1 menggunakan VUB Inpari 32 dan provitas yang diperoleh 6 t/ha. Hasil ini lebih baik dari sebelum menggunakan Jarwo hasil yang diperoleh  5 t/ha. Petani cukup terbantu dengan adanya teknologi ini dalam proses pemeliharaan tertama pada waktu penyemprotan, pemberian pupuk, penyiangan, dan proses pemeliharaan lainnya. Pada proses pemupukan, penyemprotan menjadi lebih mudah dengan adanya lorong, dan pada proses penyiangan dirasakan penyiangan lebih cepat dengan adanya jarak dan terlebih lagi dengan adanya lorong, tidak membutuhkan tenaga yang banyak dalam proses penyiangan maupun pemeliharaan lainnya sehingga mampu menghemat biaya dalam proses pemeliharaannya. Tahapan adopsi yang merupakan bagian utama dari diseminasi hasil pengkajian telah sampai pada tahap menerapkan, dimana tahapan adopsi terdiri dari: Sadar, minat, menilai, mencoba, dan penerapan. Sehingga diharapkan mampu dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu difusi inovasi.

          Setelah penilaian  kelompok beberapa waktu lalu, kelompok ini telah mampu meningkatkan kelas lanjut yang semula adalah kelas pemula. Pembinaan  pada awal 2021 (26 dan 27 /1/ 2021) menunjukkan kemajuan kelompok.  Pertemuan  kelompok sudah rutin dilaksanakan yaitu 1 kali seminggu, jumlah anggota bertambah yang semula sebanyak 53 orang menjadi 83 orang. Usahatani Kelompok sudah bertambah dengan usaha peternakan, ayam Ras petelur berjumlah 1100 ekor dan Sekretaris Kelompok memelihara 1500 ekor.

 

 
 Gambar 1. Teknologi jarak tanam jarwo  

 

Gambar 2. Pertemuan Penyuluh BPTP NTB bersama POPT dan penyuluh Desa dalam rangka pembinaan kelompoktani

 

Gambar 3. Peternakan ayam petelur ras coklat

  

Gambar 4. Pendampingan bersama anggota kelompoktani

 

Web Analytics