"Prima Tani" Mendukung Percepatan Pembangunan Pertanian di Bumi Gora dan Bumi Sejuta Sapi

Parent Category: Artikel
Created: Tuesday, 24 March 2009 18:16
Published: Tuesday, 24 March 2009 18:02
Written by Dwi Praptomo S
Hits: 3093

Era perubahan di Provinsi Nusa Tenggara Barat telah dimulai dengan dilantiknya Gubernur HM Zainul Majdi, MA dan Wakil Gubernur Ir. H. Badrul Munir, MM. “Kabinet Baru” sudah terbentuk dan program-program prioritas dalam rangka mewujudkan visi dan misi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur telah diluncurkan. Salah satu program prioritas “Kabinet Baru” ini adalah membangun pertanian dalam wadah “Rumpun Hijau” untuk meningkatkan ketahanan pangan, kelestarian lingkungan hidup, dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan.

Perubahan program dan kebijakan dalam membangun pertanian ditandai dengan dicanangkannya NTB sebagai BUMI SEJUTA SAPI, setelah pada tahun 80-an NTB dicanangkan sebagai BUMI GORA, yang hingga kini predikat tersebut masih melekat erat. Sudah sepantasnya julukan-julukan tersebut diberikan kepada NTB sebagai daerah pertanian yang subur dan potensial dengan kekayaan dan keunggulan ternak sapinya. Kontribusi sector pertanian secara luas dalam PDRB NTB adalah terbesar setelah sector pertambangan, sedangkan jumlah tenaga kerja yang bekerja di sector pertanian juga yang terbanyak.

Penjabaran secara operasional program pembangunan pertanian dalam wadah “Rumpun Hijau” haruslah segera dilaksanakan oleh seluruh Badan/Dinas/Instansi yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Badan Ketahanan Pangan, merupakan institusi utama yang paling berperanan dalam mewujudkan visi, misi, dan kebijakan Pemerintah Daerah NTB di sektor pertanian.

Namun demikian, dukungan institusi lain tidaklah diabaikan, misalnya lembaga-lembaga penelitian dan pengkajian, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) merupakan salah satu lembaga penelitian dan pengkajian di bidang pertanian di bawah Badan Litbang Departemen Pertanian yang dibentuk untuk mendukung program Pemerintah Daerah dalam aspek-aspek penyiapan teknologi pertanian.

BPTP NTB telah banyak menghasilkan paket teknologi pertanian dan sampai sekarang masih terus melaksanakan penelitian, pengkajian dan penyebarluasan (diseminasi) hasil-hasil penelitian dan pengkajian. Bentuk-bentuk kegiatan BPTP NTB selain penelitan terapan dan pengkajian adaptasi, juga dalam wadah gelar teknologi, demplot, publikasi (brosur, leaflet, poster), siaran TV dan Radio, dan sebagainya.

Dukungan BPTP NTB dalam membangun pertanian dan masyarakat pedesaan pada umumnya juga diwujudkan dalam Program Rintisan Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian atau lebih dikenal dengan nama PRIMA TANI. Progam ini merupakan upaya mempercepat diseminasi teknologi pertanian kepada petani dalam bentuk laboratorium lapang sebagai tempat belajar sekaligus aplikasi teknologi. Sebagai model pembangunan pertanian melalui percepatan inovasi teknologi, PRIMA TANI mengedepankan pendekatan partisipatif masyarakat dan pendekatan wilayah berbasis agribisnis. Hal lain yang penting dalam PRIMA TANI adalah penguatan kelembagaan tani di desa sebagai syarat penting dalam pemberdayaan masyarakat dan sebagai strategi kelestarian program ini ke depan setelah dilepas pengawalannya oleh BPTP atau Pemerintah Daerah.

PRIMA TANI harus melibatkan Pemda, terutama Pemda Kabupaten/Kota sebagai unit organisasi otonom terdepan. Oleh karena itu dari awal BPTP telah mengajak Pemda, dalam hal ini Dinas/Badan lingkup pertanian sebagai anggotas tim PRIMA TANI.

PRIMA TANI di NTB

PRIMA TANI di NTB dimulai tahun 2005 di dua lokasi yaitu: 1) Desa Jurumapin Kecamatan Buer Kabupaten Sumbawa, dan 2) Desa Song Gajah Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu. Pencanangan PRIMA TANI dilaksanakan pada bulan Desember 2005 dengan penanaman tanaman buah-buahan oleh Gubernur NTB pada waktu itu HL Serinata di Desa Jurumapin.

PRIMA TANI di Desa Jurumapin merupakan salah satu pendukung utama program Agropolitan Alas-Uthan yang dilaksanakan Pemda Kabupaten Sumbawa, dengan titik ungkitnya di lokasi Agrotamase Jurumapin. Agrotamase Jurumapin merupakan konsep wisata agro (wisata berbasis pertanian) di daerah perbukitan lahan kering dengan view yang indah, meliputi pemandangan perbukitan, persawahan, pemukiman penduduk, dan laut.

PRIMA TANI di Jurumapin mencoba memasukkan teknologi budidaya tanaman buah-buahan (sawo, mangga, nangka, pisang, dll) sebagai tanaman tahunan dan juga tanaman musiman seperti jagung, kacang tanah, kacang hijau, kedele, dan sayuran. Sambil berwisata, pengunjung dapat menikmati pemandangan alam sambil memetik dan makan langsung buah-buahan segar.

{mosimage}Lokasi PRIMA TANI di Jurumapin ini kini sudah memberikan manfaat bagi petani dengan adanya tanaman buah-buahan sebagai pengganti semak belukar, adanya tambahan pendapatan petani, makin menggeliatnya perekonomian masyarakat dengan makin ramainya pengunjung Agrotamase. Beberapa event regional sudah dilaksanakan di sini, antara lain Lomba lari 10K dan Sepeda santai. Pada tanggal 17-19 Januari 2009 lalu telah diselenggarakan kegiatan Kemah Bhakti Penyuluh yang diikuti para penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan se NTB yang dihadiri langsung oleh Gubernur NTB HM Zainul Majdi, MA dan Wakil Gubernur Ir. H. Badrul Munir, MM, serta undangan dari Departemen Pertanian, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta Departemen Kehutanan. Hasil survai menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan masyarakat dari usahatani berbasis program PRIMA TANI di Desa Jurumapin mencapai 55% per tahun.

PRIMA TANI di Desa Song Gajah Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu mencoba memperbaiki teknologi pemeliharaan tanaman jambu mente, introduksi varietas unggul jagung, manajemen pemeliharaan sapi dan ayam buras. Selain itu juga introduksi teknologi pembuatan kompos. Di daerah kering Song Gajah dengan masyarakat transmigran dari Jawa, Bali, dan Lombok, serta penduduk lokal Dompu, maka keragaman adat budaya menjadi salah satu potensi yang bisa dikembangkan.

Program PRIMA TANI di daerah ini telah dapat meningkatkan pendapatan petani sekitar 35% per tahun dari berbagai usahatani, termasuk adanya instalasi biogas yang dapat menghasilkan gas untuk lampu penerangan dan untuk memasak. Di lokasi ini juga telah dilaksanakan panen raya jagung oleh Gubernur NTB dan Bupati Dompu pada tanggal 25 Maret 2008.{mosimage}

PRIMA TANI di lokasi lain baru dimulai tahun 2007 di 6 Kabupaten/Kota yaitu: di Desa Genggelang Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Barat (sekarang Kabupaten Lombok Utara), Desa Karang Sidemen Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah, Desa Sugian Kecamatan Sambalia Kabupaten Lombok Timur, Desa Poto Tano Kecamatan Poto Tano Kabupaten Sumbawa Barat, Desa Ntori Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, dan Kelurahan Kumbe Kecamatan RasanaE Timur Kota Bima.

PRIMA TANI di Desa Genggelang, Kabupaten Lombok Utara, mencoba untuk membangun daerah agroekosistem Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering dengan memberikan sentuhan teknologi untuk beberapa komoditas prioritas seperti kakao, kopi, kacang tanah, jagung, sapi, dan kambing. Teknologi perbaikan pemeliharaan kakao dan kopi dilakukan dengan system sambung tanaman, pembangunan kebun bibit (entres), dan perbaikan sanitasi kebun. Pengembangan kacang tanah dan jagung dilaksanakan dengan introduksi varietas unggul produktif. Di lain fihak pengembangan ternak sapi dan kambing diarahkan pada perbaikan manajemen, baik dari aspek reproduksi, kesehatan, perkandangan, dan pakan.

{mosimage}PRIMA TANI di Desa Karang Sidemen Kabupaten Lombok Tengah dimulai tahun 2005 di daerah agroekosistem Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Basah. Beberapa komoditas potensial yang ada antara lain: sayuran (mentimun, kacang panjang, cabe), pisang, dan sapi. Pengembangan sayuran diupayakan dalam rangka produksi benih (kerjasama dengan swasta), pengembangan pisang dilakukan dengan introduksi bibit unggul dari bonggol pisang, sedangkan pengembangan sapi diutamakan dalam aspek manajemen.

PRIMA TANI di Desa Sugian Kabupaten Lombok Timur berlokasi di daerah agroekosistem Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering dengan komoditas potensial berupa tembakau rakyat, cabe, pisang, sapi, dan kambing. Pengembangan tembakau rakyat, cabe dan pisang diprioritaskan pada perbaikan teknik budidaya dan introduksi varietas unggul. Pengembangan ternak sapi dan kambing difokuskan mada aspek manajemen, terutama pada masalah reproduksi, perkandangan, dan pakan.

PRIMA TANI di Desa Poto Tano Kabupaten Sumbawa Barat berlokasi di daerah agroekosistem Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering dengan komoditas unggulan jagung, kacang tanah, dan sapi. Pengembangan jagung dan kacang tanah dilakukan dengan introduksi varietas unggul jagung (hibrida dan komposit), dan kacang tanah. Pengembangan sapi diutamakan dalam aspek manajemen, termasuk pengelolaan limbah ternak (kotoran sapi) untuk pembuatan pupuk organic dan pembangunan instalasi biogas dalam rangka pengembangan energi pedesaan.

PRIMA TANI di Desa Ntori Kabupaten Bima berlokasi di daerah agroekosistem Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering. Beberapa komoditas potensial yang dikembangkan adalah: padi gogo, jagung, kunyit, dan kambing. Introduksi varietas unggul baru dilakukan untuk padi gogo dan jagung, termasuk tentunya teknologi budidayanya. Pengembangan kambing dilakukan dengan perbaikan manajemen, terutama dalam aspek perkandangan, pakan, dan kesehatan.

PRIMA TANI di Kelurahan Kumbe Kota Bima berlokasi di daerah agroekosistem Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering. Komoditas potensial yang siap dikembangkan adalah: padi, kacang tanah, lontar, dan sapi. Pengembangan padi dan kacang tanah dilaksanakan dengan introduksi varietas unggul baru dengan teknik budidayanya. Pengembangan lontar dilakukan dengan perbaikan teknologi pemeliharaan dan teknologi pengolahan/pascapanennya. Pengembangan sapi diutamakan dalam aspek manajemen, terutama masalah reproduksi, pakan, dan pengelolaan limbah untuk pembuatan pupuk organik dan pembangunan instalasi biogas dalam rangka produksi energi untuk bahan bakar dan penerangan.

PENUTUP

PRIMA TANI sebagai program pemberdayaan petani berbasis wilayah pedesaan dengan inti kegiatan introduksi teknologi, memerlukan partisipasi dan peran nyata petani dan stake holder dalam mewujudkan tujuan pembangunan pertanian yaitu peningkatan pendapatan petani dan keluarganya. Ciri utama yang membedakan PRIMA TANI dari program-program pemberdayaan masyarakat lainnya adalah bahwa dalam PRIMA TANI selain melibatkan secara aktif Pemda dan masyarakat, juga aspek penguatan kelembagaan menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Pengalaman menunjukkan bahwa setelah selesai suatu program dilaksanakan, maka keberlanjutan program tersebut tidak berkesinambungan, jadi selesai sudah. Dengan PRIMA TANI dimana PPL dilibatkan aktif dan kelembagaan taninya diperkuat, maka nantinya secara perlahan BPTP dan Pemda akan melepaskan program ini. Kelanjutan program ini akan diprakarsai oleh kelompok tani yang didampingi PPL yang ada di lapangan. Dengan demikian pengembangan  komoditas potensial berorientasi agribisnis dengan introduksi teknologi unggul dalam wadah PRIMA TANI akan terus berlanjut. Dengan PRIMA TANI, dukungan terhadap pembangunan pertanian secara umum dan pelestarian swasembada pangan (lewat slogan NTB Bumi Gora) dan perwujudan NTB Bumi Sejuta Sapi, akan semakin nyata. (Dwi Praptomo S)

Web Analytics