MENDIRIKAN KOMUNITAS PETANI UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN SEKTOR PERTANIAN DI MASA MENDATANG

Pin It

 

Oleh : Sasongko WR

Beranggotakan 21 (dua puluh satu) petani membentuk  suatu kelompok inovatif untuk menghadapi kondisi pertanian di masa mendatang.  Dengan memilih Agus Salim sebagai pemimpin kemudian mendirikan komunitas petani yang inovatif.  Berada di Dasan Ketapang, Desa Ungga Kecamatan Praya Barat Daya Kabupaten Lombok Tengah terbentuklah kelompok yang menyebut dirinya “Komunitas Petani Pecinta Teknologi Pertanian (KPPTP)”  Komunitas ini kemudian diberi sebutan “CINTA DAMAI” Pembentukan komunitas ini atas motivasi mantan Koordinator Penyuluh Pertanian dan juga Kepala Unit Pelayanan Teknis Kecamatan Praya Barat Daya,  Wagiyanto, SP.

              Berdirinya komunitas ini adalah dalam rangka bersama menjalankan usahatani yang akan menhadapi perubahan-perubahan pada sumberdaya alam maupun perubahan perilaku dan kondisi sosial budaya masyarakat.  Pada  kenyataannya semua harus dihadapi dan perlu beradaptasi.  Mempertahankan pola lama, tidak akan dapat bertahan.  Sumberdaya lahan khususnya untuk pertanian yang luasannya tidak bertambah namun cenderung mengalami pengalihan penggunaan.   Di satu sisi kebutuhan hasil produksi pertanian terutama bahan pangan akan terus mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan populasi penduduk.  Lahan dituntut untuk dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi, namun kemampuannya terbatas.  Penggunaan input pendukung produksi tidak dapat memberikan hasil yang maksimal.

              Berlatar belakang dengan kondisi yang dihadapi oleh petani saat ini dan di masa yang akan datang, dirasa sudah waktunya untuk memulai beradaptasi.  Petani harus berupaya untuk dapat memutuskan perubahan yang harus dilakukan.  Cara budidaya yang sudah dilakukan secara turun temurun sudah harus dilakukan perubahan, disesuaikan dengan perubahan alam maupun sosial budaya yang harus dipenuhi.  Penggunaan teknologi pada awalnya tidak mudah untuk dapat langsung diadopsi, butuh penyesuaian baik keterampilan maupun penyesuaian penggunaan input pendukung.  Penggunaan input bisa membutuhkan tambahan biaya atau tidak.  Tentu pilihan diutamakan jika tidak ada tambahan biaya.  Namun penggunaan teknologi ini penting untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.  Lahan yang semula subur, lambat laun menjadi ketergantungan pada unsur hara agar dapat menghasilkan produksi.

              Komunitas Petani Pecinta Teknologi Pertanian (KPPTP) mungkin agak jarang kita temui.   Tujuannya adalah agar teknologi pertanian yang baru dan memberikan hasil yang lebih baik dapat lebih cepat diterima dan digunakan oleh petani.  Dengan penerapan teknologi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan berdampak pada kesejahteraan petani.  Visi nya mewujudkan petani yang tangguh, ulet, gigih dan mandiri serta menjadi teladan bagi petani di sekitarnya.  Adapun Misinya adalah : 1) melakukan percobaan teknologi budidaya komoditi pertanian; 2) melaksanakan pelatihan di bidang pertanian; 3) melaksanakan anjangsana atau studi banding; 4) menerapkan teknologi yang ramah lingkungan; 5) menjalin kerjasama dengan dinas terkait (DInas Pertanian, BPTP NTB) pasar maupun perbankan, bulog, Dinas Perdagangan dan Industri.

              Untuk rencana kerja dalam waktu dekat akan menerapkan teknologi “Jajar Legowo” yaitu Jarwo 2 : 1; 4 : 1 pada MT 2020/2021.  Pada MT II akan menerapkan Jarwo 2 : 1 dan 4 : 1 dengan aplikasi pupuk organik cair (POC).  Akan mencoba tanam padi sistem SALIBU.  Untuk pemasaran hasil (perbenihan) akan bekerjasama dengan penangkar benih padi maupun kedelai.  Pada MT III akan menanam kedelai dan bawang merah.  Perlu diketahui bahwa POC yang dimaksud adalah produk dari Desa Setangor yang telah mendapatkan pembinaan dari Balitbangtan BPTP NTB pada kegiatan Bioindustri.  Mencoba menerapkan POC ini dimaksudkan untuk menghadapi keterbatasan pupuk bersubsidi.  Jumlah pupuk bersubsidi yang dibatasi tentu tidak boleh menggganggu produksi oleh karena itu komunitas ini akan mencoba menggunakan pupuk organik yang berbentuk cair untuk melengkapi kebutuhan pupuk pada tanaman.

Penerapan teknologi Jajar Legowo oleh Komunitas “Cinta Damai” ini dimulai dengan melakukan uji coba dan kemudian merencanakan untuk mengaplikasikan pada musim tanam 2021 ini. Adapun manfaat sistem tanam jajar legowo telah mereka peroleh informasinya seperti : 1) Menambah jumlah tanaman padi; meningkatkan produksi tanaman padi; 2) Memperbaiki kualitas gabah dengan semakin banyaknya tanaman pinggir; 3) Mengurangi serangan penyakit; 4) Mengurangi tingkat serangan hama; 5) Mempermudah dalam perawatan baik itu pemupukan maupun penyemprotan pestisida; 6) Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian dalam baris tanaman.  Namun demikian teknologi juga memiliki sisi kelemahan diantaranya : 1) Membutuhkan tenaga tanam yang lebih banyak dan waktu tanam yang lebih lama pula; 2) Membutuhkan benih yang lebih banyak dengan semakin banyaknya populasi.

 

Grafik 1. Persentase petani anggota komunitas yang menerapkan jajar legowo

 

Penerapan teknologi jajar legowo telah dilakukan oleh anggota KPPTP “Cinta Damai”,  pilihan baris sesuai dengan pilihan anggota, tidak ada paksaaan.  Pilihan ini tergantung pada keyakinan menerapkan teknologi jajar legowo.  Eksisting teknologi adalah tanam tandur jajar biasa.  Regu tanam umumnya sudah terbiasa dengan tandur jajar namun dengan jajar legowo terdapat jarak antar baris yang dikosongkan untuk memberi ruang pada baris tanaman.  Sistem tanam jajar legowo merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pinggir yang lebih banyak dengan adanya ruang atau barisan kosong (tanpa tanaman).  Selain itu sistem tanam jajar legowo juga meningkatkan jumlah populasi tanaman dengan pengaturan jarak tanam.

Rata-rata luas kepemilikan lahan milik anggota KPPTP Cinta Damai rata-rata tidak luas yaitu 0,45 ha/anggota.  Jika dilihat dari luasan kepemilikan lahan dan penerapan tandur jajar legowo, kecenderungan makin luas lahannya akan mengaplikasikan tanam jajar dengan jumlah baris yang lebih banyak (Jajar Legowo 6 : 1).  Ini dapat menggambarkan bahwa dalam proses penerimaan suatu teknologi yang masih belum diyakini keunggulannya, maka petani akan melakukan pilihan terhadap teknologi.  Walaupun dari informasi yang banyak ditemui pada media massa maupun media sosial tentang jumlah baris yang terbaik secara umum untuk wilayah nasional adalah Jajar Legowo 2 : 1, masih membutuhkan adanya pembuktian, sehingga akan semakin meyakinkan terhadap penerapan teknologi. 

 

Grafik 2. Rata-rata luas lahan dan penerapan jajar legowo

             

Komunitas ini akan dapat mempelajari sendiri tentang teknologi yang tepat untuk dapat mereka terapkan dalam sistem usahataninya.  Penerapan teknologi akan disesuaikan dengan kondisi setempat, karena jajar legowo akan terkait dengan penggunaan tenaga kerja.  Tenaga kerja untuk menerapkan jajar legowo tentu sudah memiliki keterampilan terutama untuk tanam.  Pada saat musim tanam kebutuhan tenaga tanam akan meningkat, sedangkan penerapan teknologi ini akan menggunakan waktu tanam yang lebih lama.  Penyesuaian ini tentu akan memakan waktu dalam proses adopsi cara tanam jajar legowo.  Jika dibandingkan dengan keunggulannya pada produksi, maka hal ini dapat diatasi dengan memberikan tambahan upah tanam.

Harapan ke depan KPPTP “Cinta Damai” pada Balitbangtan BPTP NTB adalah mendapatkan pembinaan, bimbingan teknis terhadap teknologi-teknologi baru yang dihasilkan oleh Balitbangtan melalui BPTP NTB.  Komunitas secara mandiri akan menyelenggarakan pelatihan bagi petani sekitarnya agar dapat menggunakan teknologi untuk menjalankan usahataninya sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani.  Selain teknologi jajar legowo, komunitas ini telah mengadopsi VUB seperti Inpari 32 dan Inpari 42.

 

 

 

 

Web Analytics