BUDIDAYA PADI GOGO

Pin It

Padi merupakan komoditas tanaman pangan penting karena menjadi bahan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Padi tidak hanya dibudayakan di lahan sawah, tetapi juga dapat ditanam di lahan kering. Untuk mengembangkan padi di lahan kering perlu dilakukan dengan pemanfaatan varietas unggul baru (VUB) yang mampu beradaptasi di lahan kering. Badan Litbang Pertanian telah melepas beberapa varietas padi gogo yang memiliki potensi hasil tinggi seperti Inpago 11 Agritan dan Rindang 1 Agritan.

BPTP Balitbangtan NTB melakukan penanaman padi gogo pada September 2020 (MK II) di area display visitor plot dengan menggunakan VUB Inpago 11 dan Rindang. Penanaman kedua VUB tersebut dilakukan tanpa olah tanah (TOT), cukup dengan membabat tunggul jerami dari tanaman padi sebelumnnya. Benih yang akan digunakan direndam terlebih dahulu di dalam air selama 24 jam kemudian dikeringanginkan. Setelah itu, benih diberi perlakuan insektisida dengan dosis 1 botol (12.5 ml) untuk 5 kg benih padi, kemudian diperam di dalam karung selama 36 – 48 jam sampai keluar titik tumbuh akar. Benih selanjutnya ditanam dengan cara tajuk dan setiap lubang tanam diisi dengan benih sebanyak 3 – 4 biji. Lubang tanam selanjutnya di tutup dengan tanah agar tidak dimakan burung. Sistem tanam menggunakan jajar legowo dengan jarak tanam 50 x 25 x 12.5 cm. Pupuk yang digunakan terdiri dari pupuk NPK Phonska dengan dosis 300 kg/ha dan pupuk Urea dengan dosis 200 kg/ha, dilakukan dengan cara sebar di antara baris tanaman legowo dan lahan dalam kondisi lembab. Pemupukan pertama terdiri dari 200 kg NPK dan 50 kg Urea, dilakukan pada saat tanaman padi berumur 15 hari setelah tajuk. Pemupukan ke dua terdiri dari 50 kg NPK dan 100 kg Urea, dilakukan pada umur 35 hari setelah tajuk, kemudian pemupukan ke tiga dilakukan pada tanaman padi berumur 55 hari dengan dosis 50 kg NPK dan 50 kg Urea. Pengairan, penyiangan, dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dilakukan berdasarkan hasil monitoring. Berdasarkan hasil pengamatan, VUB Inpago 11 dan Rindang mendapat serangan hama berupa burung pada saat fase pengisian hingga pemasakan. Padi varietas Inpago 11 terlihat lebih tahan dari serangan burung jika dibandingkan dengan varietas Rindang. Hal ini disebabkan varietas Inpago 11 memiliki bentuk daun bendera yang tinggi dan tegak di atas malai, sehingga tidak mudah diserang oleh burung. Sebagai upaya pengendalian terhadap serangan burung maka dilakukan pemasangan jaring pada bagian atas tanaman.

       

     

Padi Inpago 11 memiliki umur sekitar 111 hari, sedangkan varietas Rindang sekitar 113 hari. BPTP pada tanggal 12 dan 13 Januari 2020 memanen kedua varietas tersebut dengan potensi hasil untuk Inpago 11 sekitar 5.8 ton GKP/ha, dan untuk Rindang 5.4 ton GKP/ha. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut terkait VUB padi bisa menghubungi atau berkunjung langsung ke bagian Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) BPTP Balitbangtan NTB.

Web Analytics