SAPI SEMBALUN TURUN GUNUNG

Pin It

Catatan perjalanan pengembangan manajemen sapi terpadu mendukung pengembangan Agribisnis Pedesaan kegiatan Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi (P4MI)

{mosimage}Siapa yang tak kenal dengan Sembalun, desa di Lembah Gunung Rinjani yang terletak pada ketinggian 1150-1200 m dpl dengan panorama pegunungan yang mengelilinginya, udara yang masih begitu bersih dan sorotan sinar matahari yang terasa  begitu dekat. Desa Sembalun Lombok Timur telah dikenal sebagai sentra sayuran dataran tinggi seperti bawang putih, bawang merah, kubis, buncis, cabe merah dan kentang.  Belakangan  ini kentang menjadi komoditas primadona bagi petani Sembalun. Dipelopori Kelompok tani ”Horsela” yang menjalin kerjasama dengan PT. Indofood dalam penyediaan saprodi dan pemasaran kentang, hingga pada tahun 2008 telah dihasilkan 3.925 ton kentang pada area 157 ha dengan rata-rata produksi 25 ton/ha.

Salah satu input dasar yang dibutuhkan untuk budidaya kentang adalah pupuk organik, selama ini petani telah menggunakan kompos.  Kebutuhan kompos pada tahun 2008 sebesar 453 ton, namun kelompok hanya mampu memproduksi 12,5 ton kompos dan sisanya  dipenuhi oleh UD. Mitra Tani, Garuda Mas dan produsen pupuk kandang lainnya di Apitaik Lombok Timur.  Harga kompos per kg bervariasi dari Rp 350/kg, 500/kg hingga 650/kg.  Namun kompos yang didatangkan dari luar Desa Sembalun dikhawatirkan berpotensi membawa beberapa penyakit dan munculnya jenis gulma tertentu, yang sebelumnya tidak ada di Desa Sembalun.{mosimage}

Di sisi lain, Desa Sembalun memiliki potensi populasi sapi yang cukup besar.   Jumlah ternak sapi di Desa Sembalun Lawang sekitar 4.020 ekor, akan tetapi hanya sekitar 500 ekor sapi yang dikandangkan. Satu ekor sapi dewasa, muda dan anak menghasilkan kotoran masing-masing 10, 5 dan 2 kg  basah/hari maka 500 ekor sapi hanya bisa menghasilkan bahan kompos (kotoran sapi) sebanyak 3,6 ton per hari atau setara dengan 2,2 ton kompos per hari. Dengan demikian dalam satu bulan kompos yang dihasilkan kurang lebih 65 ton atau 790 ton setahun.

{mosimage}Kebiasaan memelihara sapi secara ekstensif dengan melepas di padang penggembalaan dan di sekitar pebukitan Gunung Rinjani menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan kotoran ternaknya untuk dijadikan kompos.  Disamping itu sistem pemeliharaan ekstensif memiliki beberapa kelemahan diantaranya tingginya angka kematian anak dan pertumbuhan yang lambat sehingga perkembangan populasi sapi  tidak dapat dicapai secara optimal.  Perhitungan ternak yang dilakukan bersamaan dengan pemberian obat cacing dan vitamin B-Kompleks (kegiatan Gelar Teknologi yang dilaksanakan oleh BPTP NTB yang dibiayai oleh program P4MI),   dari sekitar 500 induk hanya ada sekitar 90 ekor anak yang belum disapih.  Ini dapat dijadikan indikator angka kematian pedet yang tinggi, calving interval (jarak beranak) yang panjang sehingga pertumbuhan populasinya relatif rendah.

Tidak mudah untuk mengajak petani agar merubah pola pemeliharaannya dengan menurunkan sapi-sapi mereka kemudian mengandangkannya.  Seperti mimpi di siang hari bila hal tersebut dilakukan oleh petani Sembalun.  Banyak hal yang menjadi alasan mereka terutama tenaga kerja untuk memelihara ternak (mencari pakan).

Adalah Dr. Tanda Panjaitan alumnus Queensland University Australia salah satu peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB  yang membuat terobosan baru agar petani mau  menurunkan sapi yang mereka miliki dengan kesadaran sendiri.  Melalui kegiatan pemberian vitamin B kompleks, obat cacing dan pemberian antibiotik secara gratis pada ternak yang menderita sakit mata dan diare.  Pada  tahap pertama (14 Desember 2008) jumlah ternak yang disuntik sebanyak 239 ekor dengan komposisi betina dewasa 130 ekor (54%), jantan dewasa 15 ekor (6%), betina muda dan pedet 46 ekor (19%)  serta jantan muda dan pedet 44 ekor (18%).

Telah terbukti bahwa terjadi perubahan yang sangat besar, dimana penampilan sapi-sapi yang mendapatkan pengobatan terlihat lebih sehat dan lincah. Hal ini dikemukakan langsung oleh para pemilik ternak sehingga para peternak lainnya antusias untuk menyuntikan dan mengobati sapi-sapi mereka. Pada tahap kedua (15 Maret 2009) berhasil dikumpulkan sapi sebanyak 273 ekor dengan rincian induk betina 142 ekor, betina dara 31 ekor, betina anak 33 ekor, sapi jantan dewasa 19 ekor, jantan muda 21 ekor dan jantan anak 27 ekor.  Dari kedua kegiatan tersebut telah terkumpul 551 ekor yang telah diperiksa.  Kegiatan ini berdampak pada permintaan desa-desa lain seperti Sajang, Bilok Pitung dan Sembalun Bumbung untuk diadakan kegiatan serupa.{mosimage}

Dr. E. Eko Ananto selaku Penanggung jawab kegiatan P4MI pusat dalam kunjungannya ke Sembalun menyambut gembira kegiatan tersebut, karena titik terang mulai terlihat untuk menentukan langkah awal yang selama ini menjadi permasalahan dalam menggarap Desa Sembalun menjadi sebuah desa agribisnis dengan memanfaatkan seoptimal mungkin potensi yang ada di desa tersebut. Kegiatan ini diharapkan juga dapat membantu mendukung program pemerintah daerah “NTB sebagai bumi sejuta sapi”.

Semoga saja apa yang diharapkan segera terwujud menjadi sebuah kenyataan, kita tunggu cerita perjalanan tim BPTP NTB berikutnya di Desa Sembalun. (Uly, Sas n Pris)

Web Analytics