Sekilas Tentang Kegiatan Inisiatif Lokal P4MI 2008

Pin It

Kegiatan Inisiatif Lokal – Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) tahun 2008 telah dipublikasikan sejak Maret 2008 melalui Website BPTP NTB, Website Pemda Lombok Timur, Website Pemprov NTB, Sosialisasi Program di KID, dan melalui pelatihan teknologi lahan kering untuk KID/Fasilitator. Publikasi kegiatan ini mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat, terbukti dengan banyaknya jumlah proposal yang masuk yaitu sebanyak 16 proposal yang berasal dari LSM, petani, pendidik, PPL dan staf BPTP NTB. Setelah dilakukan penilaian dan presentasi proposal di Aula Bappeda Kabupaten Lombok Timur pada tanggal 3 Mei 2008, akhirnya ditetapkan 5 proposal yang layak didanai melalui kegiatan Inisiatif Lokal 2008.

Berikut ini adalah sekilas tentang kegiatan inisiatif lokal yang didanai pada tahun 2008:

(1) Pembuatan Asap Cair dari Asap Pembakaran Batu-Bata Menjadi Pestisida dan Pengawet Organik

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Banjar Al-Ikhwan, Desa Pringgajurang, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur. Kelompok Banjar Al-Ikhwan yang artinya Kelompok Persaudaraan awal berdirinya merupakan kelompok pengajian (selakaran) yang dibentuk pada tanggal 12 November 2007. Kegiatan yang dilakukan dikonsentrasikan pada upaya peningkatan produktivitas penghasilan anggota kelompok melalui 2 cara yaitu: (a) Pembuatan asap cair dari asap pembakaran batu bata (pembuatan gudang pembakaran dan pembuatan alat pemurnian/destilasi asap cair), (b) Melakukan percobaan (penelitian dosis) asap cair tersebut terhadap upaya peningkatan hasil-hasil usaha Kelompok Banjar Al-Ikhwan, seperti : (i) penggunaan asap cair sebagai pestisida organik terhadap usaha pertanian anggota kelompok seperti cabe, tomat dan padi; (ii) penggunaan asap cair tersebut sebagai pengawet hasil-hasil pertanian anggota seperti cabe dan tomat; (iii) penggunaan asap cair sebagai obat ternak (anti-virus, anti nyamuk), pencegah bau pada kandang ternak ayam, kambing dan sapi sebagaimana fungsi asap cair yang telah beredar di pasaran Indonesia; (iv) memungkinkan asap cair tersebut dapat dijual sehingga meningkatkan pendapatan kelompok.

Kesimpulan yag dapat diambil dari kegiatan ini adalah: (1) Pembakaran batubata dengan menggunakan metode semi tertutup dapat menghasilkan keuntungan bagi para pengusaha bata yaitu asap hasil pembakaran dapat dimanfaatkan menjadi asap cair, kualitas pembakaran bata menjadi lebih baik dan lama pembakaran bata menjadi lebih cepat, (2) Asap cair yang diperoleh dari pembakaran batu-bata adalah 60 liter dari 700 kg sekam yang dibakar (7,5%) pada satu kali siklus pembakaran 3000 bata merah, (3) Proses pemurnian asap cair dilakukan dengan destilasi yang dapat menghasilkan 80% asap cair, (4) Asap cair hasil pembakaran batu-bata dapat diaplikasikan menjadi pestisida organik, pengawet organik dan obat ternak, (5) Hasil uji asap cair sebagai pestisida organik pada tanaman cabe dan tomat memperlihatkan hasil yang belum optimal sehingga diperlukan penelitian lanjut untuk menentukan formulasi campuran asap cair dengan bahan organik lainnya. Akan tetapi, seluruh petani tomat di desa Pringgajurang yang menggunakan pestisida kimia mengalami hal yang sama dengan jenis hama penyakit yang sama, (6) Hasil uji asap cair sebagai pengawet organik dilakukan pada tomat yang menunjukkan ada peningkatan daya simpan tomat antara yang menggunkan asap cair dengan yang tidak, yaitu dari 5 hari menjadi 7 hari. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui formulasi campuran agar didapatkan daya simpan yang lebih baik, (7) Pengujian asap cair sebagai obat ternak telah dilakukan pada sapi yang menunjukkan ada hasil yang menunjukkan penyakit sapi dapat sembuh dalam waktu 1 sampai 2 minggu dengan dioleskan asap cair.

(2) Pengembangan Agribisnis Perunggasan Berbasis Pakan Lokal di Kabupaten Lombok Timur

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Ternak Karya Mandiri, Desa Penedagandor, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh karena Kabupaten Lombok Timur sebagai salah satu kabupaten di NTB memilik potensi pakan lokal bagi ternak unggas yang sangat tinggi untuk dimanfaatkan. Daerah Lombok Timur menghasilkan jagung, padi (dedak padi), kedelai yang cukup tinggi, selain itu di daerah ini juga sebagai pusat perikanan laut terbesar di NTB yaitu desa Tanjung Luar. Usaha agribisnis perunggasan di Lombok Timur sudah berkembang sangat pesat baik dari ayam ras, ayam buras, maupun jenis unggas lainnya. Ditinjau dari pemasaran produk perunggasan Lombok Timur memiliki potensi pasar yang sangat besar karena memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi di NTB.

Ternak unggas mampu mengubah sumber protein asal biji-bijian, kacang-kacangan dan ikan yang tidak disukai oleh manusia, serta sumber energi menjadi protein hewani yang sehat dan enak. Akan tetapi bahan pakan tersebut harus diubah dahulu menjadi ransum komplit. Pengubahan bahan pakan menjadi ransum berlangsung di pabrik pakan ternak. Pabrik pakan ternak bukan milik petani kecil atau koperasi, karena mesin-mesin produksinya cukup canggih, harganya sangat mahal dan didatangkan dari luar negeri (import). Dengan demikian harga pakan menjadi tidak transparan dan ditetapkan secara sepihak oleh produsen, bukan ditentukan oleh pasar yang bersifat persaingan sempurna.{mosimage}

Untuk dapat memanfaatkan sumberdaya alam (bahan pakan ternak) menjadi bahan pakan komersial agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di NTB, perlu dilakukan beberapa langkah proses pengolahan sederhana. Proses pengolahan bahan baku pakan tersebut membutuhkan beberapa peralatan dan mesin sederhana yang dapat digunakan untuk mengolah bahan pakan ternak tersebut. Adapun peralatan dan mesin yang dimasudkan adalah mesin pengiling biji-bijian, mesin press ikan, mesin sangrai biji-bijian, mesin pencampur (mixer), serta mesin pemelet (pencetak) pakan.

Produk yang dihasilkan dalam kegiatan ini adalah: adanya pabrik pakan ternak mini berbasis bahan pakan lokal yang akan menghasilkan pakan konsentrat untuk ternak unggas serta pakan komplit untuk unggas dan ikan. Adapun keunggulannya adalah: harga lebih murah dengan kualitas tinggi, bahan baku sepenuhnya pakan lokal, tidak mengandung bahan kimia yang merugikan (seperti antibiotik, dsb), penggunanya adalah kelompok peternak unggas (ayam arab, buras dan itik), peternak sapi, peternak ikan yang ada di Lombok Timur.

Dari kegiatan inisiatif lokal ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan: (1) Ketersediaan bahan baku pakan untuk ternak unggas seperti jagung, dedak, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, tepung ikan sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ternak unggas khususnya di Kabupaten Lombok Timur dan umumnya di daerah NTB, (2) Hasil uji coba penggunaan ransum unggas yang diramu dari beberapa bahan pakan lokal hasilnya sangat baik terhadap pertumbuhan dan produksi ayam arab petelur. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ayam arab yang diberikan ransum lokal memiliki rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu 91,16 gram/minggu daripada ayam ayam yang diberikan ransum yang biasa digunakan oleh peternak sebelumnya yang terbuat dari bahan konsentrat Layer yang dicampur dengan jagung dan dedak (campuran 1:2:3) yang mampu memberikan pertumbuhan rata-rata sebesar 82,32 gram/minggu, (3) Sedangkan respon penggunaan ransum lokal yang diuji coba pada ayam layer menghasilkan produksi telur rata-rata sebesar 115 butir/minggu (rata-rata hend day 66%), sedangkan produksi telur ayam layer dengan menggunakan pakan campuran konsentrat layer : jagung dan dedak (campuran 1:2:3) produksinya sebesar 112 butir/minggu (rata-rata hend day 64%), (4) Harga ransum yang diperoleh dengan bahan lokal lebih rendah daripada ransum komersial buatan pabrik yaitu untuk ransum fase tarter harga yang diperoleh dari ransum berbahan lokal adalah sebesar Rp. 4000 sedangkan ransum komersial buatan pabrik sebesar Rp. 6000, (5) Hasil analisa biaya pemeliharaan ayam arab sebanyak 100 ekor, sejak umur DOC sampai usia siap bertelur (Pullet) dengan berbahan dasar ransum lokal menunjukkan bahwa biaya variabelnya lebih murah yaitu sebesar Rp. 2.685.000 sedangkan pemeliharaan dengan ransum komersial buatan pabrik biaya variabelnya sebesar Rp. 2.782.000. Dengan demikian peternak dapat menghemat biaya sebesar Rp. 97.500., (6) Pengembangan usaha berbasis pakan lokal di Kabupaten Lombok Timur sudah dapat dilakukan, hal ini bisa dilihat dari kegiatan peternakan ayam arab petelur dan ayam ras petelur pada beberapa peternak yang sudah mencobanya seperti di desa Penedagandor dan Kelayu.

(3) Pengembangan Pupuk Organik Cair Nusur

Kegiatan ini dilaksanakan oleh kelompok tani Timbe Asem, Dusun Bandok Lauk Desa Tembeng Putek, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur. Kelompok tani ini beranggotakan 30 orang dengan hamparan luas areal usaha tani 20,21 ha dengan kegiatan-kegiatan diskusi kelompok membahas usaha tani yang dilaksanakan yaitu budidaya tanaman pangan (padi, palawija dan sayuran). Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh banyaknya masalah yang dihadapi dalam berusaha tani khususnya masalah pemupukan dan hama penyakit tanaman. Pupuk organik cair Nusur selain berfungsi sebagai pupuk, juga mampu mengendalikan hama penyakit pada tanaman. Kegiatan ini dimaksudkan untuk pengembangan produksi dan sosialisasi ke petani sekitar dengan metode demplot dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida anorganik menuju pertanian organik. Dari kagiatan inisiatif lokal yang dananya didukung oleh P4MI ini, produksi Nusur mampu ditingkan sampai 40% dengan penambahan jumlah sarana produksi yang dimiliki. Produksi Nusur juga telah dapat dipasarkan ke tiga kecamatan sekitarnya. Demikian juga demplot yang dilaksanakan telah berhasilkan meningkatkan produksi dengan biaya usaha tani lebih rendah.

(4) Penggunaan Tembakau Hitam (Maik) dan Bensin untuk Pengobatan Myasis pada Ternak Kambing

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur dengan organisasi pelaksana yaitu Pusat Kesehatan Hewan Kecamatan Sambelia. Kegiatan ini dilakukan bersama dengan kelompok petani ternak dari awal hingga akhir kegiatan, dari bulan April sampai Oktober 2008. Kegiatan ini memberikan cara yang baru dari apa yang pernah dilakukan oleh masyarakat dalam pengobatan Myasis. Artinya masyarakat dalam pengobatan myasis ini sering menggunakan tembakau dengan campuran yang berbeda-beda tapi kurang memperhatikan faktor-faktor pendukung lainnya, misalnya jenis tembakau yang digunakan, campuran tembakau, perawatannya dan pengontrolannya, sehingga diperlukan suatu cara yang lebih baik dan terencana.

Metode yang digunakan adalah demonstrasi lahan usaha kelompok/peternak dengan variable yang diamati adalah tingkat infeksi dengan mengelompokkan 2 bagian yaitu 1 (satu) bagian menggunakan obat pabrik dengan mengelompokkan tingkat infeksi berat, sedang, dan ringan, bagian lain yaitu dengan obat tradisional dengan mengelompokkan tingkat infeksi berat, sedang, dan ringan. Sampel yang digunakan adalah 18 ekor kambing, 9 ekor digunakan dengan obat pabrik dan 9 sampel lainnya dengan obat tradisional. Hasil percobaan diuji dengan menggunakan T-test tingkat 5%, data ekonomi pengobatan dengan analisis Input-Output, data respon petani dengan analisis deskriptif.

Dari kegiatan ini dapat disimpulkan beberapa hal, antara lain: (1) Pengobatan myasis dengan obat pabrik lebih efektif (waktu kesembuhan) jika dibandingkan dengan obat tradisional, (2) Obat tradisional dan kimia sama-sama menyembuhkan penyakit myasis, (3) Obat tradisional dapat dijadikan sebagai obat alternatif di saat peternak memiliki kondisi ekonomi yang rendah dan jauh dari petugas kesehatan hewan, (4) Kesembuhan luka sangat dipengaruhi oleh ukuran dan tempat luka, komplikasi penyakit, dan managemen pemeliharaan ternak, (5) Obat tradisional memiliki keuntungan yaitu biaya yang murah, bahan-bahannya mudah didapat, dan mudah diaplikasikan dibandingkan dengan obat kimia, (6) Obat tradisional ini sudah memasyarakat dan diterapkan oleh petani peternak.

(5) Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji Kayu, Sekam Padi, Seresah dan Ekstrak Daun Cengkeh untuk Pengendalian Penyakit Busuk Batang pada Pisang

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Labuan Pandan, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Latar belakang kegiatan ini adalah pisang merupakan komoditas buah-buahan yang potensial untuk dikembangkan di NTB karena mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi, baik untuk pasar lokal maupun pasar antar pulau. Perkembangan luasan panen pisang dari tahun 2000 sampai 2004 sangat signifikan, tetapi dari tahun 2005 sampai sekarang luas produksi pisang mengalami penurunan akibat adanya serangan penyakit yang berakibat kematian pada tanaman. Sejak tahun 2004 petani pisang di Desa Labuan Pandan telah mengembangkan komoditas pisang di wilayah desanya. Setelah empat tahun pengembangan pisang di desa ini berjalan, muncul serangan penyakit pisang yang menurunkan produksi perminggu, yang biasanya mampu memasarkan 700-800 tandan/minggu menjadi hanya 250 tandan/minggu. Oleh karena itu melalui kegiatan inisiatif lokal inilah dicoba untuk melakukan percontohan untuk mendiseminasikan teknologi pengendalian penyakit pisang yang menggunakan limbah pertanian/industri (serbuk gergaji/sekam padi) dan seresah daun cengkeh, sehingga hanya memerlukan biaya rendah yang dapat dijangkau petani dan bahan yang diperlukan mudah diperoleh petani. Diantara penyakit tersebut adalah penyakit busuk batang pisang yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Pada umumnya pengendalian penyakit tersebut dilakukan cara eradikasi tanaman yaitu membongkar tanaman pisang pada areal yang terserang sampai batas waktu tertentu, sehingga memerlukan biaya yang cukup besar dan waktu tunggu untuk bertanam pisang kembali cukup lama. Kondisi ini sangat merugikan bagi petani pisang, sehingga perlu dicari teknologi yang lebih sederhana, murah dan praktis di dalam mengendalikan penyakit tersebut. Uji pendahuluan yang dilakukan secara in vitro menginformasikan bahwa penggunaa ekstrak daun cengkeh dengan konsentrasi 5 cc – 10 cc per liter air dapat membunuh jamur Fusarium oxysporum hingga 100%. Oleh karena itu, hasil uji laboratorium ini perlu diuji kehandalannya di tingkat lapangan.

Tujuan dari kegiatan ini antara lain memberikan informasi kepada petani pisang sekaligus mendiseminasikan teknologi biaya rendah untuk pengendalian penyakit pisang dan mencoba membantu petani dalam upaya mengendalikan penyakit pisang yang sedang berkembang di desanya. Teknologi yang diterapkan dalam kegiatan ini diharapkan dapat berkembang dan bermanfaat bagi petani pisang di pedesaan.Dari kegiatan ini disimpulkan bahwa penggunaan ekstrak daun cengkeh dan seresah daun cengkeh terbukti mampu mengendalikan penyakit busuk batang pisang dengan rentang skor 95 hingga 100%. Selain itu, teknis eradikasi memungkinkan untuk mendapatkan bibit tanaman yang sehat dari rumpun terserang, meskipun tanaman yang sudah terserang tidak dapat diselamatkan. (BNH)

Web Analytics