Resiko Kekeringan Terhadap Penurunan Hasil Bawang Merah

Parent Category: Artikel
Created: Monday, 20 January 2020 11:18
Published: Monday, 20 January 2020 11:18
Written by Lia Hadiawati
Hits: 1110

Bawang merah adalah salah satu komoditas hortikultura primadona yang berkembang pesat di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Luas panen bawang merah berkembang dari 9.988 ha di tahun 2011 menjadi 14.524 ha di tahun 2015. Demikian juga dengan produksi meningkat sampai 51,12% selama periode tersebut (BPS, 2015). Berdasarkan hasil sensus pertanian pada tahun 2013, jumlah rumah tangga tani yang membudidayakan bawang merah sekitar 17.711 usaha dengan rata-rata luas tanam yang diusahakan sekitar 3.302 m2 per rumah tangga (BPS, 2013).
Puncak penanaman bawang merah di NTB adalah musim kemarau yaitu sekitar bulan Mei – Agustus. Bawang merah dominan dibudidayakan pada musim kemarau (MK) karena membutuhkan banyak sinar matahari yaitu penyinaran minimal 70%, suhu antara 25-32oC, dan kelembaban antara 50-70%. Bawang merah juga membutuhkan banyak air namun peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan penyakit berkembang pesat (Moekasan et all, 2016).

+ Selengkapnya...

Web Analytics