PENGATURAN WAKTU TANAM SISIP KACANG HIJAU YANG BERBEDA TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN JAGUNG YANG DITUMPANGSARIKAN DENGAN KACANG HIJAU DI LAHAN KERING

Parent Category: Artikel
Created: Thursday, 06 May 2021 08:35
Last Updated: Thursday, 06 May 2021 08:41
Published: Thursday, 06 May 2021 08:35
Written by Admin
Hits: 58

Yuliana Susanti

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi tanaman dapat dilakukan melalui kegiatan intensifikasi pertanian dengan penerapan pola tanam tumpangsari. Tumpangsari didefinisikan suatu cara bercocok tanam pada sebidang lahan dimana dua atau lebih species tanaman ditanam dan tumbuh bersama dalam jarak dan larikan yang teratur. Tujuan pola tanam tumpangsari untuk efisiensi pemanfaatan ruang dan waktu serta sumberdaya alam yang tersedia sehingga mampu meningkatkan produktivitas lahan yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani.

Sistem tanam tumpangsari mampu meningkatkan produktivitas lahan apabila kombinasi tanaman yang ditumpangsarikan dapat membentuk interaksi saling menguntungkan. Salah satu kombinasi yang umum dipraktikkan petani adalah tumpangsari antara tanaman legume dan non legume. Kombinasi antara tanaman jagung (non legume) dan tanaman kacang hijau (tanaman legume) akan menimbulkan simbiosis dalam hal peningkatan suplai nitrogen dari kacang hijau ke jagung karena kemampuan tanaman kacang hijau mengikat N melalui rhizobium pada bintil akarnya, dimana 30 % dari N fiksasi tersebut disumbangkan kepada tanaman jagung dalam sistem tumpangsari (Wargino, 2005). Kadar N pada zona perakaran jagung sedikit lebih tinggi pada sistem tumpangsari dengan legume dibandingkan dengan sistem pertanaman jagung secara  monokultur, dan penggunaan tanaman kacang tanah dalam tumpangsari dapat menyumbang unsur N pada tanah (Wangiyana dan Kusnarta,1997; Smeltekop et al., 2002). Namun, sistem tumpangsari juga dapat menyebabkan terjadinya kompetisi antara tanaman dalam hal pemanfaatan hara, air, radiasi matahari dan ruang tumbuh sehingga dapat menurunkan produksi tanaman secara individu (Tsubo et al, 2003).

Dampak negatif dari pengaruh kompetisi dapat dikurangi melalui pengaturan waktu tanam karena perbedaan waktu tanam dapat mengurangi persaingan dalam pemanfaatan hara, ruang tumbuh dan air. Selain itu juga, pengaturan waktu tanam bertujuan untuk menghindari pertumbuhan maksimum tanaman tidak terjadi pada waktu yang bersamaan sehingga capaian potensi hasil dari kedua tanaman yang ditumpangsarikan dapat diperoleh. Arma et al, (2013) menyatakan bahwa penanaman kacang tanah 10 hari sebelum tanam jagung dapat meningkatkan produksi jagung maupun kacang tanah.

Gambar 1. Produktivitas Jagung dan Kacang Hijau pada waktu tanam sisip kacang hijau yang berbeda (W1= penanaman kacang hijau 10 hari sebelum tanam jagung; W2= penanaman kacang hijau bersamaan dengan penanaman jagung; W3= penanaman kacang hijau 10 hari setelah penanaman jagung)

 

Penanaman kacang hijau 10 hari sebelum penanaman jagung menunjukkan hasil yang jauh lebih tinggi baik untuk tanaman jagung maupun kacang hijau dibanding waktu tanam lainnya. Hal ini diduga karena puncak fiksasi N tanaman kacang hijau pada perlakuan W1 bertepatan dengan fase V6-V10 tanaman jagung, dimana pada fase ini perkembangan akar dan penyebarannya di tanah sangat cepat, pemanjangan batang juga meningkat sangat cepat. Hal ini mengindikasikan bahwa  semakin tinggi laju transfer N dari tanaman kacang hijau ke tanaman jagung menyebabkan ketersediaan unsur hara N untuk tanaman jagung meningkat. Peningkatan serapan N sangat penting untuk meningkatkan laju transfer karbohidrat ke biji karena laju pengisian biji sangat dipengaruhi kemampuan suplai N tanaman ke daun dan ke biji yang sedang tumbuh. Jika suplai N dari serapan N kurang memadai, maka tanaman akan meremobilisasi N dari daun yang masih hijau ke biji, yang dapat menyebabkan peningkatan laju penuaan daun (Sinclair dan de Wit, 1975).

Tabel 1. Ler parsial (Lp) pengaturan waktu tanam kacang hijau pada sistem tanam tumpangsari

Perlakuan

Lp. Panjang Tongkol

Lp. Jumlah Biji/Tongkol

Lp. Berat Kering Tanaman

 
 

W1

1.07 a

1.02 a

1.11 a

 

W2

0.97 b

0.94 b

1.06 a

 

W3

0.86 c

0.90 c

1.07 a

 

BNJ0.05

0.08

0.04

0.09

 

         

Evaluasi keuntungan dan kerugian penggunaan lahan pada sistem tanam tumpangsari dilakukan dengan mengetahui nilai Ler parsial. Hasil kajian menunjukkan, bobot berangkasan kering tanaman jagung yang merupakan akumulasi secara keseluruhan terhadap hasil tanaman menunjukkan nilai 1.11 g/rumpun, yang artinya bahwa tumpangsari tanaman jagung dengan kacang hijau melalui pengaturan waktu tanam dapat memberikan keuntungan.

Daftar Pustaka

Arma, M.J. Fermin, U. Sabaruddin, L. 2013. Pertumbuhan dan Produksi Jagung (Zea mays L.) 21 dan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) melalui Pemberian Nutrisi Organik dan Waktu Tanam dalam Sistem Tumpangsari. Agroteksos. 3(1):1-7.

Sinclair, T.R. and de Wit CT.1975. Photosynthate and Nitrogen Requirements for Seed Production by Various Crops. Science, 189: 565-567.

Smeltekop, H. David, E Clay. Sharon, A. Clay. 2002. The Impact of Intercropping Annual “Sava” Sanil Medic on Corn Production. J. agron. 94:917-924.

Tsubo, M. Mukhala, E. Ogindo, H.O. Walker, S. 2003. Productivity of Maize-bean Intercropping in a Semi-Arid Region of South Africa. Water SA 29:381-388.

Wangiyana, I.W. Gunartha, I.G.E. Farida, N. 2017. Respon Beberapa Varietas Jagung pada Jarak Tanam Berbeda terhadap Penyisipan Beberapa Baris Kacang Tanah. Crop Agro. 104 -112.

Wargino, J. 2005. Peluang Pengembangan Kacang Tanah melalui Sistem Tumpangsari dengan Ubi Kayu. https://www.Puslittan.Bogor.net.

 

 

 

 

 

 

 

Web Analytics