Berita

Sembalun Akan Dijadikan Sebagai Show Window Perbenihan Bawang Putih Wilayah Timur

Pin It

Kawasan Sembalun, Lombok Timur akan dijadikan sebagai show window perbenihan bawang putih di wilayah timur. Demikian dikatakan Staf Khusus (Safsus) Menteri Pertanian Republik Indonesia Lutfi Halide ketika bertemu Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah di ruang kerjanya (6/12/2019). Stafsus yang didampingi Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB Dr. Ir. Awaludin Hipi, Kadistanbun NTB, Kepala Karantina Pertanian, dan Kepala BPSB Tanbun NTB, menyampaikan bahwa kedatangannya yang baru pertama kali ke NTB adalah dalam rangka menjajaki peluang pengembangan perbenihan bawang putih di NTB dan berbagai komoditas pertanian lainnya seperti padi dan jagung untuk tujuan ekspor. Untuk itu beliau mohon restu dan dukungan Bapak Gubernur agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik. Gubernur NTB menyambut baik rencana tersebut dan meminta agar produk NTB tidak diekspor dalam bentuk bahan mentah melainkan dalam bentuk bahan jadi/olahan agar masyarakat NTB mendapatkan nilai tambah.

NTB memiliki potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan bawang putih seluas 12.000 ha, diantaranya terdapat di Kawasan Sembalun 2.400 ha, kawasan penyangga (dataran medium) Kabupaten Lombok Timur 1.500 ha, Kabupaten Bima seluas lebih dari 4.443 ha yang berada di Wawo, Lambitu, Langgudu, Donggo dan Tambora, dan sisanya terdapat di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Sumbawa. Berdasarkan perhitungan, dengan teknik budidaya yang tepat (hasil pengkajian BPTP NTB di Sembalun) bahwa kawasan Sembalun mampu memproduksi benih 22-24 ribu ton/tahun. Kebutuhan benih NTB sekitar 8,5 ribu ton/tahun, dan kebutuhan konsumsi penduduk NTB hanya 881 ton/tahun, sehingga kelebihan sekitar 17 ribu ton lebih dapat dikirim ke luar daerah baik untuk benih maupun konsumsi.

Sabtu pagi (7/12/2019) stafsus bertemu dengan beberapa penangkar benih bawang putih untuk mendapatkan informasi perkembangan perbenihan bawang putih di NTB dan permasalahan yang dihadapi. Para penangkar menyampaikan bahwa produksi benih bawang putih di Sembalun cukup besar, namun kapasitas penangkar untuk mengokupasi calon benih sangat terbatas, sehingga banyak calon benih yang dipasarkan ke luar daerah. Jika hal ini tidak diatasi secara baik akan dapat menimbulkan permasalahan ketersediaan benih baik di Semablun maupun wilayah lain di NTB. Disamping itu sering terjadi impor bawang putih pada saat panen yang mengakibatkan harga anjlok dan merugikan petani. Untuk itu para penangkar meminta agar dibuat regulasi untuk mengatur hal tersebut agar usaha bawang putih di Sembalun dapat bangkit kembali dan berjaya seperti tahun 80-an.

Stafsus berjanji akan menyampaikan hal ini kepada Direktorat Jenderal Hortikultura dan Menteri Pertanian. Beberapa hal yang menjadi perhatian M. Luthfi antara lain: 1) kawasan Sembalun akan dijadikan show window perbenihan bawang putih di wilayah timur Indonesia untuk mendukung perbenihan nasional; 2) data jadwal panen di berbagai daerah perlu tersedia secara akurat yang akan dijadikan pertimbangan jadwal impor; kegiatan impor bukan haram tapi harus dijadwalkan secara tepat; 3) sarana dan prasarana irigasi berupa embung, pipa dan mesin pompa yang memadai perlu dikembangkan untuk mendukung usaha budidaya dapat berjalan dengan baik; 4) perlu dibentuk asosiasi penangkar benih bawang putih dan mendesign jalur benih di tingkat lapang; 5) BPTP NTB diharapkan agar melakukan pengawalan dan pendampingan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas benih bawang putih; 6) BPSBTANBUN NTB harus melakukan pengawasan yang ketat untuk menjaga agar kualitas benih terjamin.

Kepala BPSBTANBUN NTB berjanji akan melakukan pengawasan benih secara lebih ketat terutama pada sistem pelabelan sehingga tidak ada peluang pemalsuan label dan meminta ketentuan yang mengatur persyaratan benih bertunas 75% dapat ditinjau dan diturunkan menjadi 35-50%. Jika aturan tersebut tidak dirubah maka dapat berakibat terjadinya kerusakan benih terutama pengangkutan ke luar daerah.

Stafsus dan rombongan selama di Sembalun melakukan kunjungan ke gudang penangkaran dan pengemasan benih bawang putih yang dilakukan oleh penangkar. Stafsus dan rombongan mendapatkan penjelasan tentang grade bawang putih dari H. Minardi (penangkar) bahwa grade bawang putih didasarkan pada besaran umbi yaitu umbi berukuran besar atau disebut grade super (A) dipergunakan untuk konsumsi dan umbi ukuran sedang atau medium (B) digunakan untuk benih. Strategi pengaturan grade adalah melalui pengaturan jarak tanam, dimana jarak tanam untuk konsumsi adalah 12x12 cm sedangkan untuk benih 10x10 cm yang diharapkan perbandingan antara grade A dan B adalah 50:50. Selanjutnya rombongan meninjau kawasan penangkaran benih bawang putih varietas Lumbu Putih di eks lokasi Sembalun Agro. Pada akhir kunjungannya di Sembalun Stafsus dan rombongan bertemu petani binaan BPTP NTB yang telah berhasil melakukan penangkaran 5 varietas bawang putih, yaitu Sangga Sembalun, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, Lumbu Putih dan Tawang Mangu Baru (M. Nazam).