Mengenal Agrisoy Sebagai Pupuk Hayati Bagi Pertumbuhan Dan Perkembangan Kedelai Di Lahan Tadah Hujan

Pin It

Pemerintah terus berupaya melakukan peningkatan produksi kedelai di Indonesia. Peningkatan produksi dilakukan diantaranya dengan ekstensifikasi pertanian yaitu dengan menambah luasan panen kedelai. Penambahan luasan panen kedelai dengan melakukan penanaman kedelai pada lahan lahan marginal yang tingkat kesuburan lahanya rendah. Salah satu kendala dalam lahan yang memiliki kesuburan yang rendah dan lahan yang baru pertama kali melakukan penanaman kedelai adalah ketersedian Bakteri penambat N yang terbatas. Disamping itu dilakukan pula penanaman kedelai pada perluasan areal tanam baru kedelai pada lahan bekas lahan hutan dan di bawah tegakkan. Usalah satu yang menjadi faktor penentu bagi hal ini adalah ketersediaan pupuk kimia dalam jumlah yang cukup yang memberikan sumber hara N. Berdasarkan data dari Balitkabi Malang bahwa untuk menghasilkan 1,0 ton biji /ha dibutuhkan hara N sebanyak 67 kg.
Ketersediaan gas alam sebagai bahan baku pupuk kimia semakin hari semakin terbatas sehingga perlu di carikan alternatif sumber hara N dari pupuk yang rellatif lebih murah diantaranya bakteri Rhizobium yang membentuk bintil akar yang mampu menambat N-udara dalam jumlah yang signifikant. Berdasarkan data analisis tanah dari beberapa lokasa pengkajian diperoleh data sebagai berikut :
Badan Litbang pertanian telah menemukkan bakteri Rhizobium yang mampu memacu pembentukkan bintil akar menambat nitrogen, dengan baik memperbaiki pertumbuhan tanaman dan menghemat penggunaan pupuk N lebih dari 75% untuk lahan dengan tingkat kemasaman yang tinggi maupun lahan yang tingkat kemasaman nya rendah serta lahan yang belum sama sekali ditanami kedelai.

+ Selengkapnya...