Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

phslb
Tekno Inovatif
ktt
ePetani

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Berita


Membangun Dunia Pertanian Melalui Media Televisi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Nurul Hilmiati   
Kamis, 20 November 2014 08:39

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB diundang sebagai narasumber dalam sebuah acara workshop yang diselenggarakan oleh Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik TVRI, Selasa (18/11/2014) yang bertajuk “Strategi Isi Siaran Pertanian dalam Mewadahi Preferensi Konsumen Lokal”. Workshop berlangsung di Hotel Jayakarta Senggigi dan dihadiri oleh anggota Dewan Pengawas TVRI Jakarta serta jajaran TVRI stasiun Mataram. Kepala Dewan Pengawas TVRI, Elprisdat, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa TVRI berkomitmen untuk berperan serta aktif dalam pembangunan pertanian. Karena itu TVRI ingin mendapatkan masukan-masukan dari para stakeholder isi serta formulasi program-program siaran yang diharapkan akan dapat berkontribusi memajukan petani dan dunia pertanian Indonesia.

Hadir sebagai narasumber dari BPTP NTB adalah Dr. drh. Nurul Hilmiati, MVS yang merupakan peneliti dan praktisi komunikasi pembangunan partisipatif. Dalam pemaparannya yang bertema “Strategi Siaran Pertanian dalam Mewadahi Preferensi Konsumen Lokal” disampaikan tentang perubahan paradigma komunikasi pembangunan dari model difusi inovasi yang hanya melihat proses komunikasi sebagai pengiriman pesan melalui sebuah media untuk menimbulkan efek kepada penerima, menjadi model komunikasi partisipatif yang merupakan interaksi antara pengirim dan penerima dimana yang ditekankan adalah proses komunikasi tersebut untuk menghasilkan efek. Lebih jauh juga dipaparkan beberapa strategi yang dapat ditempuh oleh TVRI untuk mengakomodir preferensi konsumen lokal. Diantara strategi tersebut adalah dengan melakukan analisis situasi sehingga bisa dipetakan sasaran target audien, komoditas, kondisi agro-ekosistem, permasalahan yang dihadapi dimana semua itu bersifat spesifik lokasi. Dengan melakukan pemetaan dan juga bekerjasama dengan stakeholder terkait, diharapkan pesan pembangunan pertanian yang disampaikan melalui program-program TVRI bisa lebih tepat sasaran.

Narasumber lain yang memberikan pemaparan dalam workshop sehari tersebut adalah Prof. Dr. Ir. I Wayan Supartha dari Universitas Udayana dengan tema paparan “Upaya Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani Melalui Siaran Pertanian”; Prof. Dr. Ir. Ambo Ala dari Universitas Hasanuddin dengan paparan tentang “Format Penyajian Acara Televisi dalam Siaran Pertanian””; dan Prof. Dr. Ir. Simon Teguh Hadi Raharjo dari Universitas Pattimura yang menyampaikan “Mengajak Masyarakat Petani dari Ruang Lingkup Subsisten ke Agribisnis Melalui Siaran Pertanian”.

Dalam acara diskusi terungkap keinginan TVRI untuk bekerja sama dengan para peneliti khususnya dengan BPTP dalam menyediakan materi-materi inovasi pertanian yang bersifat spesifik lokasi. Hal tersebut disambut sangat positif oleh perwakilan BPTP dimana Nurul menyampaikan bahwa BPTP ada di 33 provinsi seluruh Indonesia yang masing-masing memiliki kekhasan sesuai dengan kondisi alam dan sosial masyrakat setempat. Dengan keberadaan BPTP di setiap provinsi tersebut Nurul optimis bahwa BPTP akan dapat berkontribusi banyak dalam mendukung komitmen TVRI menjadikan chanel televisi ini sebagai televisi pertanian. (Nurul Hilmiati).

 
Training of Trainers (TOT) Pertanian Konservasi dari FAO di BPTP NTB PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh M Faesal Matenggomena & Farida   
Kamis, 13 November 2014 14:48

Food and Agriculture Organization (FAO) bekerjasama dengan Kementerian Pertanian RI mengembangkan program pengurangan resiko bencana akibat perubahan iklim melalui promosi pertanian konservasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebutuhan tenaga pendamping untuk pertanian konservasi dirasakan semakin meningkat, untuk mendampingi masyarakat yang sudah mengadopsi pertanian konservasi.

Untuk mendukung program tersebut, FAO menggelar kegiatan Training of Trainers (TOT) dengan tema Pertanian Konservasi, Selasa (11/11/2014) di ruang utama BPTP NTB. Kegiatan tersebut berlangsung selama 5 hari (11-15/11/2014). TOT dihadiri oleh 31 orang peserta terdiri dari perwakilan intansi pemerintah terkait, BPTP NTB, Perguruan Tinggi, Mahasiswa, LSM Pertanian dan Penyuluh Pertanian Lapangan.

Koordinator Program Pertanian Konservasi Wilayah NTB dan NTT, Ujang Suparman dalam pengantarnya menjelaskan bahwa pertanian konservasi bertujuan untuk meningkatkan hasil pertanian dengan mengurangi biaya produksi, menjaga kesuburan tanah, dan menjaga ketersediaan air. Hal tersebut merupakan suatu upaya untuk mencapai pertanian berkelanjutan dan memperbaiki kesejahteraan petani.

Lebih lanjut, Ujang mengharapkan agar dalam kegiatan ini peserta dapat menggali ilmu pegetahuan sebanyak-banyaknya dan dapat menyumbangkan saran serta pemikiran sehingga menghasilkan persepsi yang sama tentang pertanian konservasi. Harapan disampaikan kepada pemerintah agar dapat mengeluarkan kebijakan pendukung serta penyuluh pertanian lapangan dapat membina petani secara langsung.

Acara Training of Trainers (TOT) secara resmi dibuka oleh Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. Dwi Parptomo S., MS . Dalam sambutannya Dwi Praptomo mengatakan, kegiatan TOT yang diinisiasi oleh FAO sangat bermanfaat untuk  petani yang mengelola pertanian pada lahan kering di NTB. Lahan kering di NTB yang luasnya sekitar 800.000 ha perlu ditangani dengan baik melalui konservasi pertanian. Lebih lanjut diungkapkan bahwa kondisi lahan di NTB sangat memprihatinkan karena penggunaan pupuk kimia yang berlebihan oleh sebagian petani.

“Ilmu pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan dalam kegiatan TOT pertanian konservasi harus dapat di praktekkan oleh peserta di wilayah binaan masing-masing sehingga lahan petani bisa optimal, bernilai ekonomi tinggi, dan dapat meningkatkan produksi pertaniannya”, demikian ditekankan oleh Dwi Praptomo di akhir sambutannya.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang pentingnya pertanian konservasi, teknik penanaman dengan azas pertanian konservasi oleh Ujang Suparman dan John Weatherson.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan diskusi serta menerima masukan dari peserta yang dipandu oleh Ujang Suparman. Peserta banyak mengajukan pertanyaan tentang keadaan struktur tanah, cara memanfaatkan bahan organik untuk perbaikan tanah, dan mengungkapkan pengalamannya di lapangan. Atas pertanyaan dan masukan tersebut, narasumber menjawab dan memberikan solusi yang dapat memuaskan peserta. Workshop dilanjutkan esok harinya dimana peserta akan mendapatkan materi dan praktek lapangan. (M Faesal Matenggomena & Farida)

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com