Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

ePetani
phslb
Tekno Inovatif
ktt

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Berita


Temu Lapang Demplot PTT Jagung Di Kabupaten Lombok Timur PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Yanti Triguna   
Jumat, 17 Oktober 2014 00:00

Jagung merupakan satu dari tiga komoditi unggulan daerah di Nusa Tenggara Barat. Jagung banyak diusahakan petani di lahan sawah pada musim kemarau dan di lahan kering pada musim hujan. Pada tahun 2013 Provinsi NTB menargetkan produktivitas jagung menjadi 6,2 t/ha. Untuk dapat mencapai target tersebut, peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat perlu dilakukan, salah satunya melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Pendekatan PTT menyediakan komponen-komponen teknologi yang terbagi dalam kelompok Komponen Utama dan Pilihan. Petani dapat memilih komponen tersebut sesuai dengan kondisi agroekosistem, ekonomi dan budaya setempat, sehingga pada akhirnya diperoleh teknologi spesifik lokasi.

Mendukung program PTT tersebut, BPTP NTB melaksanakan Demplot PTT Jagung di Kelompok Tani Rarung Desa Pringgabaya Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur. Ada 3 Varietas jagung yang dicoba di Demplot yaitu Varietas Bima 3, Bima 4 dan Bima 6  yang merupakan varietas Badan Litbang Pertanian. Selain uji adaptasi varietas, dilakukan juga percobaan jenis dan dosis pemupukan. Menurut Bq. Tri Ratna Erawati, SP.M.Sc, peneliti dari  BPTP NTB,  pemilihan  varietas dan dosis pemupukan disesuaikan dengan kondisi tanah spesifik di lokasi tersebut. Berdasarkan hasil analisis pH, tanah di lokasi demplot agak masam sehingga untuk pemupukan direkomendasikan ditambahkan kapur pertanian atau dolomit dengan dosis 500 kg/ha selain menggunakan pupuk NPK Phonska 250 Kg dan pupuk urea 200 kg/ha. Hasil demplot menunjukan bahwa dengan perlakuan dolomit, produktivitas untuk masing-masing varietas adalah pada Bima 3 mencapai 8,5 ton/ha, Bima 4 mencapai 7,67 ton/ha dan Bima 6 mencapai 7,5 ton/ha. Sedangkan tanpa dolomit, produktivitas varietas Bima 3 adalah 6,97 ton/ha, Bima 4 sebesar 7,15 ton/ha dan Bima 6 sebesar 6,6 ton/Ha. Dari hasil demplot ini direkomendasikan bahwa untuk meningkatkan produktivitas jagung di Kabupaten Lombok Timur dengan kondisi tanah masam sebaiknya menggunakan varietas Bima 3 dengan penambahan kapur pertanian/dolomit dosis 500 kg/ha.

Untuk mensosialisasikan hasil demplot PTT ini, BPTP NTB mengadakan Temu Lapang yang bertempat di Kelompok Tani Rarung Desa Pringgabaya Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, pada Kamis (16/10/2014). Acara dihadiri oleh sekitar 100 orang peserta yang terdiri dari stokeholder terkait antara lain Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Lombok Timur, Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Lombok Timur, Camat Pringgabaya, Penyuluh Pertanian Kecamatan Pringgabaya dan petani jagung di Kecamatan Pringgabaya. Acara dibuka oleh Kepala BPTP NTB Dr. Ir. Dwi Praptomo S., MS. Dalam sambutannya, Kepala BPTP NTB mengharapkan agar teknologi hasil penelitian/pengkajian dapat disebarluaskan para PPL dan diterapkan oleh petani lainnya untuk meningkatkan pendapatan.

Dalam kesempatan selanjutnya, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur yang diwakili oleh Kepala Bidang Produksi, Badarudin, SP, menyampaikan bahwa jagung masih menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Lombok Timur. Luas tanam dan produktivitas jagung terus meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur, rata-rata produktivitas jagung Kabupaten Lombok Timur tahun 2013 mencapai 6,6 ton/Ha. Lebih jauh disebutkan bahwa untuk tahun 2014, target luas panen adalah 17.000 ha dengan produktivitas diharapkan lebih tinggi dari tahun 2013. Harapan peningkatan produktivitas ini tidak terlepas dari adanya teknologi baru yang dihasilkan oleh BPTP NTB  yang sudah banyak diterapkan oleh petani. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Mujibudin yang mewakili  BP4K Kabupaten Lombok Timur yang menggarisbawahi adanya program pengembangan beras berbahan baku jagung di Kabupaten Lombok Timur mengingat semakin meningkatnya penderita diabetes di NTB. (Yanti Triguna)

 
Focus Group Discussion (FGD) Model Peningkatan Produksi Kakao di NTB PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Yanti Triguna & Sylvia K. Utami   
Jumat, 10 Oktober 2014 13:44

Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Menurut data BPS, daerah penghasil kakao terbesar di NTB berada di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Saat terjadi krisis moneter di Indonesia tahun 1995 – 1997, sebagian besar usaha tani mengalami kerugian besar, sebaliknya kakao memberikan harga yang menguntungkan bagi petani di NTB yaitu Rp. 7.000,00 – 8.000,00/Kg dari harga awal yang hanya Rp. 2.000,00 per kg. Hingga kini, harga kakao terus naik mencapai Rp. 30.000 – Rp. 35.000 per kg biji kering.

Sebagai langkah awal dari upaya meningkatkan produksi kakao di NTB, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian BPTP NTB mengadakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertempat di aula Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan Kelautan dan Perikanan (DPPKKP) Kabupaten Lombok Utara, Rabu (08/10/2014). Dalam diskusi ini hadir 30 orang peserta yang berasal dari  Stokeholder terkait yaitu Fakultas Pertanian Universitas Mataram yang diwakili oleh Dr. Bambang Dipo, BPS, DPPKK, Dinas Koperasi dan Perdagangan, Bapeda, Penyuluh, dan Kelompok tani kakao di Kabupaten Lombok Utara. Acara dibuka oleh sekertaris DPPKKP, Ir. M. Wahyu Darmawan., M.Si dan dipandu langsung oleh Kepala BPTP NTB Dr. Ir. Dwi Praptomo S., MS.

Data dari DPPKKP KLU memperlihatkan bahwa pengembangan tanaman kakao di KLU dimulai sejak tahun 1989 berupa bibit Banpres Kakao yang diberikan kepada petani seluas 500 ha. Kemudian pada tahun 1991-1993 kegiatan Pengembangan Perkebunan Wilayah Khusus (P2WK) seluas 1300 ha, dan tahun 1995-1997  seluas 300 ha yang merupakan swadaya masyarakat. Data terakhir yang diperoleh yakni luas lahan kakao di KLU pada tahun 2013 sebesar 2.923 ha dan tahun 2014 seluas 3.173 ha. Saat ini umur kakao di KLU sudah cukup tua dan diperlukan pemeliharaan dan peremajaan kakao mengingat permintaan kakao yang cukup tinggi yakni sekitar 30 ton per minggu keluar KLU.

Dalam FGD ini dikaji beberapa faktor penghambat dalam peningkatan produksi kakao di NTB antara lain yaitu: kurangnya kesadaran petani kakao akan peremajaan dan pemangkasan berat kakao, tingginya serangan hama penyakit, kurangnya penanganan pasca panen, serta masalah pemasaran dimana harga jual jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga di daerah lain. Terungkap bahwa permasalahan-permasalahan tersebut sebagian disebabkan karena masih kurangnya pendampingan teknologi pemeliharaan kakao yang didapatkan petani.

Adapun kesimpulan yang dicapai dalam FGD ini yakni perlunya kerjasama antara BPS dan pihak terkait dalam melengkapi data kakao, termasuk data AEZ untuk mengetahui potensi komoditas yang bisa dikembangkan. Selain itu untuk aspek teknologi diperlukan teknologi fermentasi, pemangkasan, dan pemeliharaan dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Dalam FGD ini Kepala BPTP NTB mengungkapkan perlunya pembentukan asosiasi petani kakao yang dapat ikut menentukan harga sehingga dapat membantu petani. Diharapkan diskusi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan mengenai pengembangan kakao di NTB. (Yanti Triguna & Sylvia K. Utami)

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com