Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

ktt
ePetani
phslb
Tekno Inovatif

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Berita


Focus Group Discussion Model Percepatan Peningkatan Produksi Padi Dan Kedelai Ramah Lingkungan PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Moh. Nazam   
Kamis, 18 Desember 2014 10:40

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (BPTP NTB) telah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Model Percepatan Peningkatan Produksi Padi dan Kedelai Ramah Lingkungan di Aula Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah di Praya, Selasa (16/12/14). FGD diikuti oleh 35 orang peserta, terdiri atas perwakilan dari Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumber Daya Mineral (PU-ESDM), Dinas Koperasi dan Perdagangan, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3), Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH), Peneliti BPTP NTB, Kepala Unit Pelaksana Teknis Badan, Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (UPTB-BP3K) Kecamatan Praya Barat, Koordinator Penyuluh BP3K Kecamatan Praya Barat, PPL Pendamping dan petani kooperator.

Acara FGD dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah Ir. H. Ibrahim, MM. Dalam arahannya Ibrahim menyatakan bahwa topik FGD ini sangat tepat mengingat banyaknya permasalahan yang terkait dengan peningkatan produksi padi dan kedelai di Kabupaten Lombok Tengah. Oleh karena itu Ibrahim berterima kasih kepada BPTP NTB yang telah menginisiasi kegiatan pertemuan ini. Disampaikan lebih lanjut bahwa masalah utama yang perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya meningkatkan produksi padi dan kedelai di Kabupaten Lombok Tengah adalah tingkat ketersediaan benih dan pupuk. Hingga saat ini baru 60% kebutuhan benih padi yang dapat dipenuhi dari benih berlabel, sisanya masih menggunakan benih sendiri yang berkualitas rendah. Demikian halnya dengan pupuk yang selalu menjadi masalah klasik setiap tahun, pada saat diperlukan tidak tersedia atau kalaupun tersedia jumlahnya tidak mencukupi. Kondisi demikian sangat berpengaruh terhadap capaian produktivitas padi. Saat ini rata-rata produktivitas padi di Kabupaten Lombok Tengah telah mencapai 5,19 t/ha. Angka ini jauh di bawah produktivitas hasil penelitian maupun hasil petani di beberapa  tempat di Lombok Tengah yang sudah mencapai 8-10 t/ha, sehingga peluang peningkatan produktivitas masih terbuka lebar. Hal ini harus menjadi fokus perhatian semua pihak terkait termasuk penyuluh dan petani.

Dalam sambutan selanjutnya, perwakilan dari BPTP NTB, Dr. Moh. Nazam menyampaikan beberapa strategi percepatan peningkatan produksi padi dan kedelai ramah lingkungan di Lombok Tengah antara lain: (1) peningkatan luas panen melalui perluasan areal dan peningkatan indeks pertanaman padi sawah; (2) penggunaan Varietas Unggul Baru berkualitas dan rendah emisi; (3) perbaikan sistem penyaluran pupuk; (4) perbaikan dan perluasan jaringan irigasi; (5) peningkatan daya saing melalui peningkatan pendapatan petani, insentif bagi  petani, pengendalian impor beras dan kedelai, serta peningkatan efisiensi usahatani serta pemanfaatan sumberdaya lokal; (6) pengendalian konversi lahan sawah; (7) peningkatan kegiatan penelitian, penyuluhan, dan pengembangan; (8) pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak; (9) pemanfaatan limbah tanaman dan ternak secara optimal agar tercapai zero waste.

Selanjutnya, peneliti lain dari BPTP NTB,  Dr. Ahmad Suriadi menyampaikan bahwa pertumbuhan tanaman untuk mencapai tingkat produktivitas yang optimal sangat ditentukan oleh tingkat kesesuaian lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman. Oleh karena itu dalam perencanaan pembangunan pertanian yang berbasis pada pendayagunaan sumberdaya lahan, agroklimat dan sosial ekonomi, agar berlangsung efektif dengan hasil yang optimal perlu didukung oleh tersedianya data dan informasi sumberdaya lahan dan agroklimat di suatu wilayah. Data dan informasi tersebut dapat ditampilkan dalam bentuk peta kelas kesesuaian lahan dan peta pewilayahan komoditas pertanian pada skala operasional.

Pada acara diskusi yang dipandu oleh Ir. Muslim, Kepala Bidang Produksi Pertanian Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah, muncul berbagai tanggapan dan saran para peserta. Umumnya tanggapan dan saran ini terkait dengan upaya percepatan peningkatan produktivitas padi dan kedelai yang ramah lingkungan di Kabupaten Lombok Tengah, antara lain: (1) dukungan penelitian agar diperbanyak topik dan sebaran lokasinya, (2) gerakan tanam padi jajar legowo dan jarak tanam teratur kedelai, (3) untuk mengatasi masalah keterbatasan air saat ini sudah diterbitkan Peraturan Bupati yang mengatur tentang pola tanam, yaitu padi-padi-palawija, dan padi-palawija-bera; (4) perlunya data/informasi sumberdaya lahan yang akurat termasuk data kondisi lahan sawah yang saat ini terdegradasi; (5) perlu dicari teknologi kemasan gas yang dihasilkan dari instalasi biogas, teknologi prosessing kompos; (6) kerjasama semua pihak dalam memecahkan permasalahan yang terkait dengan peningkatan produksi padi dan kedelai, seperti benih, pupuk dan masalah organisme pengganggu tanaman.   (Moh. Nazam).

 
Workshop Model Kawasan Rumah Pangan Lestari di Kota Mataram PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh M Nazam   
Senin, 15 Desember 2014 00:00

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB telah melaksanakan workshop Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) untuk wilayah Kota Mataram, Selasa (9/12/2014). Bertempat di Aula Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kelautan (BP4K) Kota Mataram, workshop diikuti oleh 40 orang peserta dari unsur petani, Penyuluh, Kasiter Korem 162/Wira Bhakti beserta staf, Sekretaris BP4K Kota Mataram, Bhayangkari Polda NTB, dan Tim Penggerak PKK Kota Mataram. Acara dibuka oleh Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. Dwi Praptomo S, MS. Dalam arahannya Kepala BPTP NTB menyatakan bahwa kegiatan workshop ini sangat penting sebagai wahana untuk menyampaikan berbagai pengalaman, keberhasilan, manfaat serta permasalahan yang dihadapi dalam implementasi MKRPL di Kota Mataram dalam tiga tahun terakhir. Lebih jauh disebutkan bahwa dalam pengembangan MKRPL di NTB, BPTP NTB telah menjalin kerjasama dengan TNI dan Bhayangkari Polda NTB untuk mempercepat pengembangan MKRPL. Melalui workshop ini diharapkan dapat dibangun komunikasi dan kerjasama yang baik dengan berbagai stakeholder yang terkait, baik TNI, Polri, Tim Penggerak PKK, Dinas/instansi terkait, Penyuluh dan tokoh masyarakat.

Dalam acara workshop yang dipandu oleh Bq. Tri Ratna Erawati, SP.M.Si, disampaikan tiga materi terkait perkembangan MKRPL dan hasil-hasilnya, yaitu: (1) Perkembangan MKRPL di Kota Mataram oleh Ir. Achmad Muzani, (2) Hasil MKRPL dan permasalahannya oleh Dr. Moh. Nazam, SP.M.Si dan Pengalaman Penerapan MKRPL di Lingkungan Bhayangkari oleh Ketua Bhayangkari Polda NTB yang diwakili ibu Leny Nasution. Dalam paparannya Achmad Muzani menjelaskan latar belakang lahirnya konsep MKRPL serta tujuan dan manfaatnya bagi ketahanan pangan rumah tangga. Dikatakan bahwa ketahanan pangan harus di mulai dari rumah tangga melalui peningkatan peran rumah tangga dalam menyediakan aneka ragam pangan yang dibutuhkan. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan budidaya aneka tanaman, ternak dan atau ikan.

Selanjutnya Moh. Nazam menjelaskan bahwa penerapan MKRPL memberikan kontribusi yang cukup baik bagi pemenuhan pangan dan gizi rumah tangga terutama sayuran dan bumbu masak kebutuhan sehari-hari, termasuk mengatasi gejolak harga cabai yang saat ini mencapai Rp. 80.000 per kg. Disebutkan bahwa hasil pengamatan di lapangan menunjukkan sekitar 62,5% hasil MKRPL untuk konsumsi langsung, 25% untuk sosial (diberikan kepada tetangga), dan 12,5% dapat dijual untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga dari hasil MKRPL mampu menghemat pengeluaran rata-rata Rp. 215.000 per bulan. Permasalahan utama dalam pengembangan MKRPL antara lain terkait kondisi biofisik lahan pekarangan, serangan organisme pengganggu tanaman, keterbatasan air, rendahnya konsolidasi kelembagaan KRPL dan kurangnya partisipasi anggota.

Sementara itu, Leni Nasution memaparkan pengalamannya membina KRPL di lingkungan Bhayangkari. Menurutnya MKRPL di Lingkungan Bhayangkari sudah berkembang ke daerah-daerah. Hasil MKRPL selain untuk konsumsi juga dapat dijual dan dijadkan sebagai salah satu alternatif sumber pendapatan untuk menambah Kas Bhayangkari.

Dalam acara diskusi muncul berbagai tanggapan dan harapan para peserta agar KRPL terus dikembangkan mengingat manfaatnya yang begitu besar bagi ketahanan pangan rumah tangga. Tim Penggerak PKK Kota Mataram menyatakan bahwa pengembangan KRPL tidak bisa dilepas begitu saja tanpa dukungan pembinaan yang kontinyu dari aparat, baik penyuluh pertanian maupun Dinas/Instansi terkait. Untuk itu Tim Penggerak PKK Kota Mataram mengharapkan peran BPTP NTB agar lebih ditingkatkan. Di sisi yang lain, disebutkan bahwa  Tim Penggerak PKK Kota Mataram siap bekerjasama dalam pembinaan KRPL di Kota Mataram.  (M Nazam)

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com