Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Tekno Inovatif
ktt
300 Teknologi Inovatif

Download

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Temu Lapang Kedelai di Lahan Tadah Hujan PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Ria Rustiana   
Selasa, 23 Oktober 2018 12:13

Pendampingan  penerapan inovasi teknologi diharapkan dapat  meningkatkan produksi tanaman pangan yaitu padi, jagung dan kedelai (Pajale) melalui intensifikasi.  Upaya ekstensifikasi tidak dapat dilakukan terus-menerus karena terjadi kompetisi penggunaan lahan dengan sektor non-pertanian. Untuk itu, usaha intensifikasi dengan cara mengoptimalkan sumberdaya lahan yang ada perlu dilakukan. Salah satu stategi meningkatkan produksi adalah dengan meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan pengaturan pola tanam.

Untuk mempercepat penyebarluasan inovasi teknologi yang dihasilkan sekaligus mendapatkan umpan balik dari para stakeholder maka dilakukan kegiatan temu lapang pada Kamis(11/10 2018) di kelompok tani Tenandon  Desa Penujak Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah, yang dihadiri oleh sekitar 150 orang peserta dari berbagai unsur seperti petani, kontak tani, penyuluh, peneliti, para pejabat dinas/instansi terkait dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan tingkat nasional.

Indeks Penanaman (IP) di lahan sawah irigasi yang memiliki cukup ketersediaan air dapat ditingkatkan dari IP 200 menjadi IP 300. Saat ini, luas lahan sawah di NTB tercatat 205.128 hektar lahan sawah irigasi dan 51.098 hektar lahan sawah tadah hujan (BPS, 2016). Dari luas lahan sawah irigasi tersebut yang dapat ditanami padi 3 kali sekitar 16%, tanam padi 2 kali 50%, dan sisanya hanya dapat ditanami padi 1 kali dalam setahun. Sementara dilahan sawah tadah hujan yang hanya menanam padi 1 kali, dapat ditingkatkan menjadi 2 kali terutama pada lahan yang ketersediaan airnya cukup.

Pada kesempatan tersebut, Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. M Saleh Mohktar, MP., menyampaikan bahwa peluang untuk meningkatkan IP padi masih besar di NTB terutama untuk wilayah yang masih menerapkan pola tanam padi-padi-bero dan padi-palawija-bero. Untuk mendukung peningkatan IP padi dibutuhkan sumber daya air yang mencukupi untuk pertanaman. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi sumber daya air dan potensi pemanfaatannya. Lahan sawah tadah hujan di NTB yang ditanami padi dengan IP 100% - 200% seluas 51 ribu ha, masih dapat ditingkatkan IP dengan penerapan teknologi, seperti dengan manajemen pengelolaan air, pengaturan pola tanam dan sistem tanam, dan penggunaan varietas unggul berumur genjah. Untuk menjamin kecukupan air tersebut maka perlu dibangun infrastruktur panen air yang sesuai dengan potensi sumber daya air setempat yang dapat berupa embung, dam parit, long storage, sumur dangkal atau sumur dalam, pompanisasi dan perpipaan.

Kepala Balai juga menyampaikan bahwa BPTP NTB telah melakukan pendampingan inovasi teknologi peningkatan IP di Desa Penujak sejak 2017. Pada tahun lalu, peningkatan IP telah berhasil ditingkatkan dengan merubah pola tanam padi-palawija-bero mejadi padi-padi-palawija/jagung dengan menerapkan PTT padi dalam sistem tanam jajar legowo dan PTT Jagung. Tahun ini, inovasi teknologi peningkatan IP fokus untuk menjamin ketersediaan air dengan manajemen pengelolaan air yang sesuai potensi lokal. Sumber air irigasi yang paling potensial di Desa Penujak adalah air dari sungai Penujak yang selalu tersedia sepanjang tahun. Infrastruktur pengairan yang diperlukan berupa pompanisasi, perpipaan dan bangunan penampung air, demikian disampaikan Saleh Mokhtar pada akhir sambutannya

Dr. Ahmad Suriadi selaku ketua panitia  Temu Lapang dalam laporannya menyampaikan bahwa pertumbuhan kedelai ditengah hamparan gersang lahan tadah hujan yang begitu luas jika tidak terjadi maka  inovasi teknologi infrastruktur pertanian tidak diusahakan. Pembangunan infrastruktur seperti ini akan mampu memajukan waktu tanam dan introduksi teknologi tumpangsari padi dan kedelai di wilayah ini. Sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengurangi kesuburan tanahnya. Penanaman secara simbolis tumpangsari padi dan kedelai pada lahan seluas 3 ha merupakan tempat pembelajaran  untuk dapat melihat apakah teknologi ini bisa  adopsi baik secara teknis, ekonomis dan sosial budaya dan mudah diaplikasi. Kedelai umur genjah (70 hari) akan ditanam pertengahan bulan Oktober sedangkan padi gora akan ditanam pertengahan bulan Nopember sehingga pada akhir bulan desember kedelai sudah dipanen sedangkan padi saat itu berumur 40 hari sejak tugal. Lahan bekas menanam kedelai berikutnya dapat ditanami padi umur genjah dengan cara tanam pindah.

AchmadSuriadi juga menyampaikan berdasarkan data ubinan produksi padi di lahan tadah hujan dalam sistem jarwo tabela kering MH 2017/2018 diperkirakan GKG varietas Ciherang antara 6.41 – 7.22 t/ha, Inpari 10 antara 5.62-7.97 t/ha, Inpari 19 antara 5.78-6.55 t/ha, dan Inpari 43 antara 6.98-7.85 t/ha. Setelah panen pertama, dilanjutkan dengan tanam padi kedua dalam sistem jarwo tanam pindah MK-1 2018. Produksi GKG varietas Ciherang menjadi 3.75-5.85 t/ha, Inpari 10 menjadi 3.89-4.16 t/ha, Inpari 19 menjadi 6.68-7.08 t/ha, dan Inpari 43 menjadi 4.39-5.85 t/ha. Dilanjutkan dengan penanaman kedelai varietas Anjasmoro pada MK-2 dengan hasil berkisar antara 1-2.17 t/ha (daya hasil 2.03-2.25 t/ha) (Ria Rustiana).

 

Video

Joomla Templates by JoomlaVision.com